Respons Simpul Maiyah Menimbang Revolusi Sosial, Kultural, atau Spiritual (1)

Pada 23 November 2019 lalu Mbah Nun menulis sebuah Tajuk untuk kita Masyarakat Maiyah ikut serta merembug dan menakar peran selaku subyek perubahan. Jamaah Maiyah yang berkumpul di pelbagai Simpul Maiyah pun memberikan respons.

Respons berupa pendapat atas pilihan yang lebih layak diambil, yakni antara Revolusi Sosial, Revolusi Kultural, atau Revolusi Spiritual. Selain itu, respons juga berupa urun rembug perihal pandangan mengenai langkah perubahan yang dapat diambil.

Respons yang dilahirkan pun beragam. Berikut ini adalah kumpulan respons dari Simpul-Simpul Maiyah atas Pilihan 3 Daur yang Mbah Nun lontarkan:

1. Simpul Maiyah Batam

Pilihan paling “aman” dan sudah dijalani Masyarakat Maiyah adalah daur ke-2 yakni Revolusi Kultural. Ini dikerjakan sembari mengupayakan sekonsisten mungkin menuju daur ke-3, yakni Revolusi Spiritual. Hanya saja mungkin mulai November ini dan bulan-bulan selanjutnya, pilihan daur ke-2 akan memasuki babak baru di mana kemandirian Masyarakat Maiyah akan ditempa atas kemandirian keberanian dan konsistensinya untuk tetap menggulirkan Sinau Bareng tanpa kehadiran Mbah Nun secara fisik yang membersamai tiap malam.

Jamaah maiyah akan dihadapkan babak baru dan harus siap untuk benar-benar mengurusi Sinau Bareng maupun simpulnya masing-masing tanpa banyak turun tangan langsung Mbah Nun dan ataupun dengan Marja’ Maiyah lain. Masyarakat Maiyah harus siap “disapih”. Lingkaran-lingkaran Maiyah harus bisa terus berjalan dan semakin besar dengan berbagai bentuknya masing-masing.

Beberapa pelaku Maiyah mungkin sudah diberkahi kemapanan mental dan iman untuk meng-istiqomahi daur ke-3. Merekalah yang nantinya secara alamiah muncul menjadi marja’-marja’ kecil untuk bisa dijadikan pegangan dan pembersama para jamaah Maiyah menjalani Daur ke-2 di masa mendatang untuk terus mengerjakan revolusi kultural.

2. Majelis Gugur Gunung (Ungaran)

Sanubari pergerakan Gugur Gunung sejak dirintis hingga saat ini tidak lain adalah mengerjakan yang kedua: Revolusi Kultural.

Tiga daur itu tampaknya berpasangan, sehingga tiga-tiganya bisa jadi harus ada dalam Maiyah. Asalkan pelaku Maiyah tetap presisi dan waspada terhadap bujuk dan was-was dari hasutan jin dan manusia.

Jadi, model rintisan daur yang secara ciri sudah pada daur kedua, pada perjalanannya tetaplah diiringi oleh daur ketiga: Revolusi Spiritual. Jika sudah tersusun kondisi masyarakat Maiyah yang secara kultural dan spiritual merasuk ke aspek sosial sehari-hari, lambat-laun akan berevolusi pada skala yang lebih luas, dan dalam kehendak-Nya hal yang kecil dan sepele akan menjadi hal besar dan mahal.

3. Sanggar Kadirian (Kediri)

Melalui sebuah pertemuan singkat, Penggiat Sanggar Kadirian memilih: Revolusi sosial. Pilihan ini didasarkan selama ini secara kolektif telah melaksanakan revolusi spiritual berupa wirid-wirid dan revolusi kultural berupa Sinau Bareng baik pada saat rutinan simpul maupun kesempatannya lainnya.

Sedangkan revolusi sosial belum pernah dilakukan.

4. Lingkar Daulat Malaya (Tasikmalaya)

Setelah dikaji, dihayati, dan dianalisis sesuai dengan kapasitas masing-masing individu penggiat, kami kemudian memperolah rangkuman hasil seperti berikut ini:

  1. Bahwa aspek spiritualitas sebagai pondasi bagi pijakan kami, di mana hubungan Segitiga Cinta di dalam hati dan pikiran kami, harus dijaga dan ditingkatkan terus-menerus, tidak peduli situasi dan kondisi bagaimanapun. Maka kami tahu hal penting yang harus terus-menerus kami lakukan. Terus belajar kepada siapapun. Melatih diri kita bersuri teladan yang baik bagi sekitar. Jangan terjebak dengan hal-hal yang membuat kita menjadi Jumawa. Serta terus memohonkan hidayah untuk diri kita, keluarga dan bangsa.
  2. Berbekal kesadaran berpikir dan bertindak yang terus meningkat dan meluas, maka di wilayah sosial masing-masing, penggiat harus terus berada di tengah-tengah masyarakatnya. Menemani siapapun saja, misalnya di perkumpulan warga, karang taruna, DKM atau lainnya sesuai apa yang bisa kita lakukan. Berupaya untuk menjadi warga yang baik dan bermanfaat.
  3. Dalam tatanan masyarakat di wilayah tinggal masing-masing, ketika penggiat menghadapi hal-hal yang dirasa tidak sesuai nurani sehingga tidak kita sepakati, maka sikap yang terbaik adalah bersabar.

5. Majelis Alternatif Jepara

Sejak awal mula didirikan yakni pada 2006. Majelos Alternatif Jepara (MAJ) berusaha mengistiqomahi laku membaca Al-Qur’an. Lebih spesifiknya berusaha mengkhatamkan Al-Qur’an. Namun seiring berjalannya waktu pilihan untuk membaca Al-Qur’an saja dirasa belum cukup sehingga muncul gagasan diskusi atau Sinau Bareng yang mengikuti majlis Khotmil Quran. Sehingga tagline yang dipilih akhirnya mengerucut kepada KHOTMIL QURAN DAN SINAU BARENG.

Setelah Khotmil Quran dan Sinau Bareng ditempuh beberapa tahun ternyata masih terasa kurang. Langkah-langkah kultural kemudian ditempuh guna melengkapi hasil ilmu dari gelaran Sinau Bareng. Di antara program-program kultural tersebut adalah aneka program di Kampus Sawah.

Dari uraian di atas mungkin Majlis Alternatif Jepara lebih bersesuaian dengan Revolusi Spiritual. Karena lebih menekankan kepada optimalisasi energi Al-Qur’an yang kemudian dituangkan kepada langkah-langkah kultural dan sosial.

6. Sulthon Penanggungan (Pasuruan)

Pilihan 3 DAUR adalah rangkaian sebuah jalan yang akan ditempuh dengan urutan yang berbeda sesuai karakteristik thoriqoh dari masing-masing Simpul Maiyah.

Maiyah Sulthon Penanggungan sendiri mempertimbangkan potensi sumber daya manusia lokal penggiat yang dimiliki. Lingkaran kami terbentuk dengan dipersambungkan oleh rasa persaudaraan se-wilayah dengan segenap kearifan lokal yang dimiliki. Maka potensi visi langkah pergerakan kebersamaan maiyah dengan urutan sebagai berikut:

  1. Pertama Kami Memilih Revolusi Spiritual
    Menghitung dan mempertimbangkan SDM dengan intelektual dan mentalitasnya, maka jalan pertama adalah bersama kami bergabung dengan kekuatan dan kebesaran Allah sembari tetap istiqomah berjuang menggiati Sinau Bareng dan rutinan Maiyahan di Simpul yang kami selenggarakan setiap bulan sekali.
  2. Kedua Kemudian Revolusi Kultural.
    Dengan berjalannya waktu dan semakin eratnya hubungan emosional antar penggiat, kami bisa mencatat data dan melakukan pemetaan atas segala dimensi kelemahan dan kekuatan kami untuk mengerjakan perubahan. Perubahan dimaksud dikerjakan pada lingkar pengaruh dan lingkar perhatian terdekat kita yang bisa dijamah dan mau diajak berubah pada cara berfikir yang baru.
  3. Ketiga Selanjutnya Revolusi Sosial.
    Ketika kesemuanya sudah pada titik presisi, di saat itulah momentum kami melakukan otorisasi dengan tetap berpihak pada kejujuran berpikir untuk kebijaksanaan menentukan regulasi.

7. Mocopat Syafaat (Yogyakarta)

Mengacu pada “Empat Jenis Manusia” (makhluk, insan, ‘abdullah, khalifatullah) yang dipelajari bersama di Sinau Bareng dan berdasarkan pengamatan juga pengakuan dengan segala limitasi yang ada, mayoritas manusia pada rentang zaman ini masih dalam pertumbuhan di level Insan. Bahkan masih mudah dijumpai yang jenis “manungsa wae durung”. Maka dibutuhkan upgrade komunal bagi para manusia untuk menjalani dan melintasi Perang Dunia ke-3 dengan segala kebusukan nilai di dalamnya.

Jalan yang paling relevan bagi para Insan adalah belajar bersama-sama secara intensif dan berkesinambungan. Ongkos yang paling sanggup ditanggung adalah waktu karena sukar membayangkan para Insan untuk menanggung bisyaroh berupa melakukan maksimalitas taqwa, sabar dan tawakkal.

Berangkat dari pemahaman inilah kami, penggiat Mocopat Syafaat, merasa bahwa pilihan Daur ke-2: Revolusi Kultural menjadi opsi yang paling terjangkau saat ini.

Salah satu langkah strategi yang mungkin dijalankan pada thariqat Pendewasaan dan Perluasan Sinau Bareng dapat berupa “memanfaatkan kebiasaan dan kecenderungan generasi kiwari serta medan yang sudah tersedia untuk Sinau Bareng”. Selain melalui website dan platform media sosial yang sudah ada, membuat aplikasi yang secara spesifik dikonsep untuk mewadahi ragam interaksi sinau bareng dapat menjadi terobosan.

Buku Cak Nun Majalah Sabana