Rendra-Emha, Patembayan Kebudayaan

Membayangkan W. S. Rendra serupa melihat sosok burung merak yang lihai, rupawan, dan tenang. Salah satu versi cerita kenapa ia dijuluki Sang Burung Merak tak terlepas dari kisah saat Rendra mengajak seorang kawan dari Australia ke Gembiraloka.

Manakala tiba di sangkar burung merak jantan yang dikerubungi banyak betina, Rendra langsung mengatakan, “Seperti itulah saya.” Rendra memang menarik atensi jamak orang di sekitarnya. Ia seperti magnet yang tiap orang di sekelilingnya terpukau atas kepribadian sekaligus rekam jejaknya di pelbagai ranah. Khususnya dalam ranah kesenian maupun kesusastraan.

Di jagat teater, ia mendirikan Bengkel Teater, setelah pulang studi di American Academy of Dramatical Art (1964-1967). Banyak mengadopsi konsep-konsep teater ala Barat, Rendra mengalami banyak perubahan kredo estetik. Sekalipun demikian, ia sebagai seorang Jawa tak melepas sepenuhnya unsur lokalitas dalam permainan teatrikalnya. Rendra mengawinkan kredo Barat dan Timur dalam kehidupan seninya.

Sempat menginisiasi Perkemahan Kaum Urakan di Parangtritis selama tiga hari pada Oktober 1971, Rendra mulai menarik hati para seniman muda di masanya. Apa yang ia tawarkan di sana sesungguhnya masih setarikan napas dengan spirit kaum muda di pelbagai belahan negara, terlebih  merebaknya kelompok hippies dan budaya pop sebagai resistensi terhadap kemapanan.

Adanya pembebasan kaum muda dalam mendefinisikan dirinya di tengah percaturan global itulah yang membuat Perkemahan Kaum Urakan mendapat titik relevansinya. Rendra di sana hendak menegaskan suatu alternatif di dalam memahami gerakan kesenian maupun kebudayaan melalui kaum muda. Sisi alternatif itulah yang hendak disasar, suatu budaya tanding (counter-culture) terhadap segala lini yang cenderung mendisiplinkan.

Dipilihnya Parangtritis yang secara geografis berada di sebelah selatan Yogyakarta membuat Rendra menginginkan kondisi alam sebagai lanskap utama. Di sana mereka bisa menepi, menghindari keramaian, mencumbui alam lebih intens, dan akhirnya dapat menyatu dengan samudera, angin, serta pepohonan. Rendra seperti mengajak kaum muda waktu itu untuk merenungi sejenak realitas kehidupan yang sumpek dan mengekang melalui persentuhan dengan jagat kesemestaan.

Pengalaman Perkemahan Kaum Urakan berangsur mengonversi puitika Rendra atau justru momen demikian serupa penegasan. Secara simbolik, periode Parangtritis makin menegaskan posisi sosial seorang Rendra. Setelah titimangsa itu Rendra banyak mewacanakan kehidupan sosial-politik lewat puisi-puisi pamfletnya. Ideologi karyanya selalu berangkat dari posisi ketidakadilan struktural, teknokrasi manusia, sampai transendensi ilahiah.

Kalau membaca secara jeli bagaimana perubahan puitik di dalam karya-karya Rendra, terdapat titik kontras betapa ia selalu bergerak dinamis. Rendra makin gesit memainkan diksi bukan sebatas fungsi estetik, melainkan juga beban ideologis atas makna kata. Posisi ini menarik ditelisik: apakah jangan-jangan Rendra sebetulnya hendak menyampaikan ide semata melalui puisi, sehingga bentuk estetik sebatas digunakan sebagai medium perantara untuk komunikasi ke khalayak.

Puisi pamflet adalah wajah lain dari gugatan sosial, suatu medium kritik lewat sastra. Maka Rendra di sini justru mengembalikan fungsi dasar bahasa sebagai alat komunikasi. Terlepas ia menggunakan sastra sebagai medium, sesungguhnya Rendra hendak menyasar semua lapisan, khususnya berorientasi pada pemasyarakatan sastra.

Ia menginginkan supaya sastra dinikmati semua kalangan, bukan malah mengukuhkan kondisi elitisasi tekstual, sebagaimana dilakukan banyak penyair yang disebut Rendra hanya “bersajak anggur dan rembulan”—Rendra menghendaki eksplorasi sosial yang memihak kepada rakyat karena “ketidakadilan terjadi di sampingnya”. Lebih jauh, baca Sajak Sebatang Lisong (1977).

Saya kira kredo dalam sastra yang memihak kepada rakyat demikian berlaku pula dalam ideologi teater Rendra. Kedua ranah kesenian tersebut melegitimasikan pula posisi kultural Rendra di arena pergerakan sosial. Selain seniman dan budayawan, Rendra juga merupakan aktivis yang paling galak semasa regim Soeharto. Pentas-pentasnya acap kali dilarang penguasa. Di balik perspektif penguasa, Rendra dianggap amat berbahaya, sebab substansi pentasnya sarat kritik, sehingga dianggap membahayakan stabilitas nasional.

Trajektori kehidupan Rendra di masa pembredelan dan pencekalan itu juga dialami Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Cak Nun juga mengalami pencekalan karena pementasan teater maupun puisinya selalu mengupayakan kritik sosial terhadap kondisi ketidakadilan di masyarakat hingga kekacauan politik nasional. Rendra dan Emha pada aras demikian memiliki kesamaan, khususnya respons penguasa terhadap kredo keseniannya.

***

Pada momen peringatan mengenang dua tahun wafatnya Rendra di Pendopo Karta Pustaka, Yogyakarta, Cak Nun menyampaikan refleksinya supaya kelak menggelar simposium. Diharapkannya agar di simposium itu dibicarakan posisi Rendra dalam sudut pandang intelektual, spiritual, estetik-artistik, dan progresif. Usulan Cak Nun tersebut menarik diperdalam dari sisi keilmuan supaya didapatkan keutuhan kajian mengenai Rendra sebagai manusia.

Pertama, Rendra intelektual bisa ditelisik pada dua ranah pendidikan formalnya, yakni di Jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada dan Amerika Serikat. Sekalipun di UGM Rendra sengaja tak meluluskan secara formal, ia mengakui telah mendapatkan banyak pengetahuan di sana, bahkan titik pergumulan intelektualnya berawal dari situ. Modal kemampuan berbahasa Inggris Rendra juga jempolan, sehingga mengantarkan perjalanan akademiknya ke Negeri Paman Sam.

Di UGM Rendra mendapat gelar Doktor Honoris Causa pada tahun 2008. Ia dipromotori oleh Profesor Siti Chamamah Suratno. Dianggap telah mengartikulasikan aspirasi kehidupan masyarakat melalui medium puisi, teater, esai, dan bentuk seni lain, Rendra dinyatakan berkontribusi signifikan dalam jagat akademik. Pada momen anugerah tersebut Rendra menyampaikan orasi bertajuk Megatruh Renungan Seorang Penyair dalam Menanggapi Kalabendu.

Sebagai intelektual, terlihat jelas betapa di dalam naskahnya itu Rendra mewacanakan sekaligus mendialogkan banyak disiplin. Melalui perspektif kebudayaan Nusantara, ia menjelajahi tema-tema seperti hukum, politik, kemanusiaan, pertanian, sejarah, hingga persoalan maritim.

Rendra berangkat dari pemikiran Ronggowarsito manakala membincang dimensi zaman pancaroba. Zaman Kalatida, Kalabendu, hingga Kalasuba ia ulas secara legit dan kritis. Di akhir pidato Rendra menegaskan posisi strategis Indonesia betapapun niscaya tak terlepas dari periode zaman tersebut.

Kedua, Rendra spiritual menjadi pokok yang menarik didedah karena tak banyak referensi yang menjelaskan situasi pergumulan batinnya terhadap Yang Maha. Pada konteks religiositas Rendra, Cak Nun banyak bersinggungan. Selain konversi agama Rendra dari Katholik ke Islam yang tahun 70-an banyak diwedar, rujukan tekstual bagaimana saat-saat terakhirnya menjelang wafat belum banyak diungkap.

Cak Nun adalah sedikit orang yang menemani Rendra kala terbaring sakit hingga menghembuskan napas terakhir. Dalam esainya berjudul Bulan Purnama Rendra Cak Nun menulis, “Tuhan memilihkan saat terbaik untuk memanggil kekasih-Nya, Rendra. Malam Jum’at, di bawah cahaya bulan purnama. Orang besar itu telah pergi dengan gagah sebagaimana ajarannya: ‘gagah dalam kemiskinan’. Istrinya, Ken Zuraida, menyatakan ‘ia sangat bahagia’, meskipun pasti bagi setiap yang terlibat kematian selalu ada semacam ‘derita manusiawi’ yang membungkusnya.

Selama sakit Rendra kerap menyebut “Ya Lathif” (Yang Maha Lembut). Ketika menyebut asma Tuhan tersebut secara spontan Cak Nun menambahi agar Rendra menggumamkan pula Qul Huwal-Lahu Wahid. Yang menarik di sini adalah dialog interaktif antara Rendra dan Cak Nun. Rendra bertanya apa bedanya antara Ahad dan Wahid. Dengan lembut Cak Nun menguraikan kalau Wahid itu manunggal, menyatu, dan integral, sementara Ahad itu tunggal, Yang Satu, dan gagah perkasa dengan maha eksistensi-Nya.

Penjelasan Cak Nun tersebut membuat Rendra meledak tangis. Ia seperti menemukan suatu kesadaran posisi yang tak berjarak antara hamba dan Tuhan. Tak mengherankan bila di akhir hayat, puisi terakhir Rendra ditutup dengan bait “Tuhan, aku cinta pada-Mu”. Rendra spiritual dalam konteks demikian menarik dieksplanasikan, terutama bagaimana ia menemukan Tuhan dan bagaimana relasi pergumulannya itu tak terlepas dari peran Cak Nun—khususnya di masa ia mangkat menuju Tuhan.

Ketiga, Rendra estetik-artistik sebetulnya bersinggungan erat dengan dimensi progresivitasnya di dalam produksi seni dan budaya. Pada aras ini ia secara khusus dapat diteliti melalui kajian kesusastraan dan perteateran, utamanya ditilik dari hasil karyanya. Bentuk karya bisa berupa teks maupun drama yang dipentaskan, sehingga keduanya mengerucut pada genre dan substansi macam apa yang ditawarkan Rendra yang kemudian melahirkan arah progresivitas itu.

Tepat 7 November Rendra berulang tahun. Ia secara fisik memang telah kembali ke Sang Empunya kehidupan. Namun, bukan berarti ingatan mengenai Rendra sirna sama sekali, sebab karya-karyanya tetap abadi selama didaras, direnungi, dan diekstrasikan menjadi nilai laku. Rendra serupa sebuah teks yang masih eksis di balik kata dan pikiran. Mengenang Rendra berarti mengaktifkan kembali makna progresivitas pembacaan hidup dan kehidupan.

Buku Cak Nun Majalah Sabana