Refleksi Maiyahan: Generasi yang Dicintai Allah dan Mencintai Allah

Ribuan orang berkumpul, datang dari berbagai tempat, dengan berbagai latar belakang sosial, pendidikan, kebudayaan, suku, ras, agama dan lain sebagainya. Mereka berdaulat penuh atas dirinya. Tidak ada yang memaksa mereka untuk datang ke Maiyahan. Tidak ada mobilisasi massa untuk meramaikan Sinau Bareng. Mereka datang atas kemauan diri sendiri, atas hidayah Allah yang turun dan merasuk hingga kalbu mereka.

Motifnya bisa bermacam-macam. Mulai dari sinau bareng, ingin mendengarkan pesan-pesan dari Mbah Nun, ingin menikmati sajian musik KiaiKanjeng, ingin sholawatan bareng-bareng, mungkin juga sekadar nyari teman ngopi, ada juga yang dalam rangka ikhtiar mencari jodoh, atau yang pragmatis-spiritual; ngalap barokahe Mbah Nun.

Apapun itu motifnya, pada akhirnya kita juga tidak mampu memastikan. Biarkan saja mereka datang ke Maiyahan dengan motifnya sendiri-sendiri. Saya pribadi memiliki sebuah pijakan pandangan bahwa setiap orang yang datang ke Maiyah bukan mereka diikat oleh Maiyah, melainkan mereka sendiri yang mengikatkan diri kepada Maiyah. Tali yang mereka gunakan tentu saja berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang menggunakan tali rafia, ada yang menggunakan benang bola, ada yang menggunakan tali dadung, bahkan mungkin ada yang menggunakan kabel baja. Setiap orang Maiyah memilih sendiri media pengikatnya, tetapi satu yang pasti adalah bukan Mbah Nun yang mengikat mereka, melainkan mereka sendiri yang mengikatkan dirinya di Maiyah.

Kita ambil skala yang paling kasat mata. Ketika Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng, di manapun saja, mau di pusat kota, di alun-alun, di gang jalan kampung, di halaman Masjid, sampai di lapangan bola bahkan di lahan persawahan, yang jamaahnya menuju area tersebut harus melewati jalan setapak, mereka tidak merasa bahwa itu sebagai penghalang. Mau jalannya beraspal atau masih berupa tanah liat, tak peduli, yang penting ngalap barokahe Mbah Nun!

Bahkan, ketika sampai di lokasi, tidak selalu mulus-mulus juga acara berlangsung. Terkadang ada kejadian diluar prediksi. Seperti yang di Colomadu beberapa waktu lalu misalnya, Genset yang menjadi sumber daya listrik utama tiba-tiba mati. Imbasnya, lampu dan sound system mati total. Apa lantas kemudian orang-orang yang datang ke Maiyahan kemudian pulang meninggalkan lokasi? Ternyata tidak.

Juga ketika hujan turun. Di Kenduri Cinta, saya sendiri mengalami, sudah puluhan kali. Acara rutin di Taman Ismail Marzuki, minimal dalam setahun 2 kali hujan turun. Jika teman-teman Maiyah pernah hadir di Kenduri Cinta pasti sudah paham, seperti apa layout tenda dan panggung Kenduri Cinta. Salah satu teman penggiat Kenduri Cinta bahkan menyebutnya panggung yang mungil. Karena benar-benar kecil dan mungil. Apa yang terjadi ketika hujan turun? Dengan tenda dan panggung yang mungil, jamaah merapatkan barisan, yang tidak kebagian tempat berteduh di tenda, maka kemudian terpal yang sebelumnya jadi alas duduk dijadikan payung, yang masih tidak kebagian juga akan berteduh di selasar Gedung Taman Ismail Marzuki. Hampir tidak ada yang pulang. Bahkan ada yang nekat, tidak bergeming, tetap duduk, hujan-hujanan.

Kita berbicara fakta. Kenduri Cinta menjadi forum yang memikat banyak orang. Terselenggara di Jakarta, dilaksanakan di tempat netral yang belum terkontaminasi najis politik di Jakarta. Bayangkan jika Kenduri Cinta diselenggarakan di halaman kantor Organisasi Masyarakat, atau mungkin di halaman Balai Kota Jakarta sendiri?

Buku Cak Nun