Mukadimah Kenduri Cinta

Radikalitas Maiyah

Apa yang sebenarnya kita ketahui tentang kata radikal? Seberapa jauh pemahaman kita terhadap kata radikal? Seberapa detail pemaknaan kita mengenai kata radikal? Kenapa kata radikal akhir-akhir ini selalu mendapat respons negatif? Bahkan sampai Kementrian Agama Republik Indonesia diberi tugas khusus untuk menangani Radikalisme. Maa huwa radikal? Wa maa adroka ma radikal?

Dalam Bahasa Inggris, kata radic berarti dasar, mendasar. Kemudian ada istilah radix yang artinya adalah akar, bagian dari tumbuhan pada batang tumbuhan yang berada di dalam tanah dan tumbuh menuju bawah tanah. Jadi, sebenarnya makna dari kata radikal sangat positif, karena ia merujuk pada akar yang fundamental. Sayangnya, dalam dua dekade terakhir istilah-istilah seperti radikalisme, fundamentalisme, dan sederet isme-isme lainnya selalu dikonotasikan dalam makna negatif, dan itu dilakukan melalui media massa secara massif, baik dalam maupun luar negeri.

Pada akhirnya, kata radikalisme memiliki makna baru. Ada yang menganggap bahwa radikalisme adalah suatu paham yang menginginkan perubahan atau pembaharuan dengan cara yang drastis hingga cara yang paling ekstrim. Baik, pemahaman ini bisa benar bisa juga salah. Persoalan yang muncul kemudian adalah siapa yang paling berhak untuk menangkal radikalisme berdasarkan pengertian tadi?

Di Kenduri Cinta, sudah beberapa kali kita diajak oleh Cak Nun untuk mempelajari kembali mengenai makna dari kata. Kita pernah mengulas makna Jihad, Syariah, Syahid, Syirik, Bid’ah, Kafir, Ateis dan istilah-istilah lain yang sudah terlanjur jauh maknanya dari yang sebenarnya.

Kali ini, kita akan mengulas makna tentang radikal. Bahkan lebih jauh dari itu, kita akan menyelami Radikalitas Maiyah.

Apa yang radikal di Maiyah? Tentu saja sangat banyak. Mari kita telaah satu persatu dari hal yang kecil yang ada di Kenduri Cinta.

Kenduri Cinta adalah salah satu forum yang diselenggarakan secara swadaya, tanpa sponsor, tanpa dukungan CSR perusahaan apalagi dana bantuan dari Pemerintah. Faktanya, Kenduri Cinta telah berlangsung selama 19 tahun. Mengingat forum ini dilaksanakan di Jakarta, di sebuah kota metropolitan, pusat peradaban NKRI, menjaga istiqomah berlangsungnya forum se-egaliter Kenduri Cinta ini bukan perkara mudah.

Hal lain misalnya, kita yang datang ke Maiyahan seperti Kenduri Cinta ini memangnya ada pamrih apa? Memiliki ekspektasi apa? Jelas-jelas Maiyah dan juga Kenduri Cinta sama sekali tidak menjanjikan apa-apa. Faktanya, kita setiap bulan justru selalu datang dan selalu merasa rindu, kangen untuk duduk bersama, melingkar bersama, Sinau Bareng. Pada konteks peradaban mainstream, ini merupakan salah satu Radikalitas Maiyah. Orang datang, duduk berjam-jam, dari jam 8 malam sampai menjelang subuh, untuk diajak mikir.

Sudah tidak terhitung, kita di Kenduri Cinta, lewat tengah malam berdiskusi tasawuf bersama Syeikh Nursamad Kamba, Tadabbur Al-Qur`an bersama Cak Nun juga bahasan-bahasan diskusi yang sangat luas, dan justru peak time dari Sinau Bareng kita di Maiyahan adalah pada waktu lewat tengah malam. Waktu yang lazimnya orang-orang kebanyakan digunakan untuk istirahat, tetapi kita menggunakan waktu tersebut untuk mikir. Apakah itu bukan sebuah perilaku yang radikal?

Ada berapa banyak anak-anak kecil, balita bahkan bayi yang diajak serta merta oleh orang tuanya untuk datang ke Maiyahan, dan mereka dengan tenang ikut menikmati atmosfer Sinau Bareng. Belum tentu mereka paham dengan apa yang sedang didiskusikan, tetapi mereka menikmati kegembiraan di Maiyah, mereka larut dalam kebahagiaan Sinau Bareng di Maiyah. Lihatlah wajah-wajah di sekitar Anda ketika Maiyahan, raut wajah yang sangat gembira bahkan bahagia sangat terlihat jelas.

Di Kenduri Cinta, struktur pengaturan ruang diskusi pun sangat radikal. Hanya dengan sebuah tenda, kemudian ada satu panggung kecil sebagai podium utama, tidak berjarak dengan audiens, secara tidak langsung melatih kedisiplinan dan tanggung jawab ilmu dari setiap narasumber yang berbicara. Bukan hanya yang di atas panggung saja yang melatih dirinya untuk bertanggung jawab, tetapi audiens juga harus melatih tanggung jawab, mereka melatih diri mereka untuk berani bertanya, berani menyanggah, berani menyampaikan pendapat di hadapan ribuan orang yang mereka sendiri buta dengan latar belakangnya. Karena memang, forum Maiyahan adalah forum yang sangat merdeka. Bahkan jika dianggap liberal, ini forum yang sangat liberal, sangat bebas.

Bagaimana dengan bahasan diskusi yang diulas di Maiyahan? Sangat radikal. Bagaimana Cak Nun, Cak Fuad, Syeikh Kamba, Mas Sabrang, Kyai Muzammil, Ust. Noorshofa dan banyak narasumber lain yang membongkar cara berpikir kita sebelumnya untuk memahami banyak ilmu yang sebelumnya sudah kita ketahui. Melalui Marja’ Maiyah dan narasumber lainnya, kita diajak untuk menjelajahi kembali hutan rimba ilmu Allah, mengurai kembali pemahaman dari satu ilmu ke ilmu lainnya. Merekonstruksi ulang pemahaman yang sebelumnya, namun tetap dengan nafas kedaulatan sebagai pijakan berpikir kita masing-masing.

Eksplorasi ilmu di Maiyah yang meluas dan juga mendalam, semakin menegaskan bahwa Maiyah adalah forum yang penuh dengan radikalitas. Pandangan-pandangan yang lahir di Maiyah adalah sesuatu yang sangat berbeda, bahkan bertentangan dengan peradaban yang sedang berlangsung hari ini. Tidak berlebihan kiranya jika Maiyah kita sebut sebagai proses menggali, mencari, menghimpun dan merumuskan kembali pengetahuan yang kita perlukan untuk mencapai kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam hidup.

Dan yang lebih penting lagi, Maiyah hadir tidak untuk menjadi musuh bagi siapapun. Maiyah justru hadir sebagai ruang publik yang menampung siapa saja. Sebagai orang Maiyah, kita memiliki tugas yang cukup berat untuk mampu menerapkan nilai-nilai Maiyah pada berlangsungnya peradaban yang penuh dengan kapitalisme ini.

Akan sampai di titik mana Maiyah nanti, itu merupakah rahasia Allah. Kita sebagai orang Maiyah jangan sampai terbebani obsesi atau ekspektasi bahwa Maiyah harus menjadi sesuatu, apakah Maiyah harus teraplikasi atau tidak potensinya untuk menjadi alternatif peradaban baru dunia. Yang harus dipastikan adalah Masyarakat Maiyah sendiri bekerja total, ikhlas, dan percaya diri mewujudkan nilai-nilainya di “Negeri Maiyah” sendiri.

Buku Cak Nun Majalah Sabana