Puas(A+) Puas(A-)

Mukadimah SabaMaiya Juni 2019

Puasa bisa dibilang sebagai proses peragian, baik jiwa maupun raga. Jiwa kita perlu proses percintaan dengan Tuhan. Dari sekian banyak bentuk percintaan dengan Tuhan, percintaan yang paling mesra, paling spesial dan eksklusif adalah dengan laku puasa, bahkan Tuhan sampai berfirman dalam sebuah hadits qudsi: “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung.”

Sementara raga kita juga perlu istirahat setelah sebelas bulan kita tak henti-hentinya mengurusi urusan perut. Organ-organ dalam  kita juga perlu istirahat, banyak sekali referensi dari persepektif kesehatan yang menjelaskan tentang itu.

Tapi bagaimana proses peragian kita selama sebulan ini? Berhasil atau tidaknya tentu itu mutlak menjadi wewenang Tuhan, tapi urusan gagalnya kita tentu bisa merasakan. Dari sekian tahun kita berpuasa apakah itu membuat kita menjadi semakin dekat dengan Tuhan? Menjadi lebih mesra dengan Sang Pencipta? Biasa saja? Atau semakin jauh?

“Manusia..manusia.. setiap tahun ketemu Ramadlan kok tak pernah meningkat, Puasa kok suasananya lebih ribut dibanding tidak puasa. Puasa cap apa itu?” Mungkin seperti itu ejekan dari Malaikat atau Setan yang melihat puasa kita.

Mengutip tulisan Mbah Nun, bahwa puasa itu ada shiyam dan shoum.  Shiyam adalah puasa kuliner Ramadlan tidak makan minum dari Subuh hingga Maghrib. Shoum adalah segala kegiatan, inisiatif atau upaya untuk membatasi diri, menahan gairah supaya tidak menyentuh garis keberlebihan, atau mengendalikan agar tidak terseret oleh perilaku melampiaskan. Puasa Ramadlan yang kita jalani sejauh ini patuh kepada Shiyam, tapi penuh pelanggaran terhadap Shoum. Lihatlah misalnya pelipatgandaan anggaran kuliner untuk berbuka dan sahur. Atau budaya “pringisan” atau “cengengesan” yang serba lebai di tayangan-tayangan acara Ramadlan.

Pada Majelis SabaMaiya bulan Juni edisi ke 39, bareng-bareng kita sinau dan merefleksikan bulan Ramadlan ini, agar bisa menemukan kedalaman makna dan kedalaman laku ibadah puasa kita. Jangan sampai ritual puasa yang dijalani malah menambah (+) kedekatan kita pada dunia dan mengurangi (-) kedekatan dan kemesraan kita kepada Allah Swt.

Buku Cak Nun