Proses Kreatif
Album “PERAHU RETAK”

PERAWAKANNYA kerempeng, berambut gondrong sebahu, diikat sekenanya. Beberapa anak rambut yang kemerahan terlepas dari ikatan dan menutupi sebagian wajahnya yang tirus, tidak sekali dua tangan kirinya mengibaskannya ke belakang. Sementara tangan kanannya memegang erat handycam yang on. Dari berbagai angle, dua orang yang usianya sebaya dengan dirinya, di-shoot.

Dua orang yang dijadikan objek pengambilan gambar seolah tak peduli dengan lian. Keduanya duduk berhadapan di lantai berkarpet merah bata. Entah berapa lembar kertas putih ukuran A4 dicoret-coret, di sisi kiri kanannya gelas-gelas kopi tinggal separo, asbak rokok penuh puntung dan latu.

“Tok….!”

“Ya Cak”

“Belikan rokok di pasar depan!”

Antok, siswa kelas tiga SMA di Jakarta masih memakai seragam pramuka, beringsut ke Pasar PSPT, dua ratusan meter dari rumah bercat krem yang sudah memudar warna aslinya. Rumah yang di dalamnya lega namun berhalaman ciut itu terletak di sebuah gang kecil, jalan Tebet Timur Dalam, masuk dalam wilayah Jakarta Selatan, bersebelahan dengan rel kereta KRL Commuter Line jurusan Jakarta-Bogor.

“Gus…!”

“Nggih Cak”

“Teh manis panas kayaknya enak!”

“Siap Cak!” sambut Agus.

“Frank ngeteh dulu ya, Har, ngaso sik!”

Keduanya membisu, namun menyetop semua aktifitasnya.

“Panas, lho!”

“Nggih, Cak”

“Kopi, Gus!”

“Siap, Mas…”

Agus berlalu ke dapur menyiapkan wedhang teh dan kopi. Bukan tiga cangkir, tapi dilebihkan untuk lainnya yang berada di rumah itu.

Ketiga orang dalam tuturan ini–yang dipanggil Cak, Frank dan Har–, berpindah ke ruang tengah yang lebih jembar. Har langsung rebahan, tangannya menjadi bantal.

Agus Sarohman, pria berkulit gelap yang berasal dari sebuah dusun di Bojonegoro menyuguhkan teh dan kopi. Antok dari mulut pintu pagar mempercepat langkah, kemudian meletakkan entah berapa bungkus rokok yang berbeda-beda merk di atas meja, sekantong plastik gorengan dibuka, ditata dalam dua piring mika putih. Pisang goreng, bakwan, tahu sumedang dan tempe garing tipis. Yang dipanggil “Cak” menyeruput teh nasgithel–panas legi kenthel. Adegan berikut, rokok kretek bergaris kuning di sela jemari tangan kiri, tangan kanannya menggenggam korek api gas Zippo. Hanya dengan sentuhan satu jari, korek dibuka penutupnya, korek menyala merah. Satu hisapan, lalu cling, masih dengan satu jari, korek ditutup. Asap putih melambung ke sekitar ruangan tanpa ventilasi.

“Rek, kene lho gabung!” teriakan menggema kepada beberapa anak muda di rumah itu. Dua orang tiduran di kamar. Di ruang depan, tiga orang duduk di depan komputer Windows 95. Kayaknya sedang asyik-masyuk main game deh.

Wahai engkau, pembaca tulisan ini, pastilah pahamlah, siapa gerangan yang dipanggil sebagai Cak dan Frank di atas. Benar. Mereka adalah dua orang pesohor yang sedang proses menciptakan sebuah karya musik. Kolaborasi. Yang pertama seorang penyair terkemuka dan satunya lagi musisi handal, Mereka: Emha Ainun Nadjib dan Franky Sahilatua.

Cak Nun meng-create bait-bait puisi dengan tulisan tangan. Berulang, entah berapa puluh kali kata-katanya dicoret-coret. Typo. Mencari kata-kata yang lebih pas. Dari bait-bait puisi itu, Franky memetik gitar, mulutnya rengeng-rengeng.

Bersenandung:

Perahu negeriku
Perahu bangsaku
Menyusuri gelombang
Semangat rakyatku
Kibar benderaku
Menyeruak lautan
Aku heran
Aku heran
Yang salah dipertahankan
Aku heran
Aku heran
Yang benar disingkirkan

Mencipta karya musik secara bersama, dibutuhkan saling menerima dan memberi, menghormati dan rendah hati. Membuang ego, apalagi dari dua orang yang sudah “besar” di dunianya masing-masing. Siapa yang tak kenal Franky (& Jane) Sahilatua, penyanyi balada di Indonesia, sangat populer segenerasi dengan mengorbitnya Ebiet G Ade, mereka berdua artis penyanyi yang sangat digandrungi oleh para penikmat musik di Indonesia. Sementara Cak Nun, di tahun 1990-an telah mencapai puncaknya sebagai seorang sastrawan, praktisi kebudayaan, kolumnis media-media ternama di Indonesia dan pembicara di berbagai bidang disiplin keilmuan.

Bagi Cak Nun, saling sinergi mencipta satu album lagu dengan Franky merupakan kali pertama dan satu-satunya di Album “Perahu Retak” (1996) yang tercipta, yang diproduksi sendiri dengan label Ken Project. Kerjasama ini semacam lanjutan dari produksi sebelumnya, Album “Kado Muhammad” Cak Nun-KiaiKanjeng (1995), Kalijogo Production, juga diproduseri oleh Franky. Dalam Album “Kado Muhammad”, salah satunya, Cak Nun mengangkat kembali kekayaan tradisi puji-pujian “Tombo Ati”, orang dulu mengenalnya sebagai gubahan dari KH Bisri Mustofa–ayah KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang terinspirasi dari hikmah Sahabat Ali Bin Abi Thalib RA.

Menelisik jauh ke belakang, karya puisi-puisi Cak Nun juga pernah dinyanyikan oleh Ebiet G Ade dalam pentas-pentas keliling kampus di Yogyakarta pada medio 1970-1980-an, dan menjadi ikon baru, yakni Musikalisasi Puisi. Tidak heran, lagu-lagu karya Ebiet di kemudian hari sangat puitis, sengaja atau tidak, ada semacam “pengaruh” kepenyairan Cak Nun.

Berbagai macam cara, sebutlah begitu, proses penciptaan sebuah karya musik. Proses pembuatan lagu “Perahu Retak” misalnya, dilakukan secara bersamaan dalam penciptaannya, lirik ditulis, lalu diiringi musik, jika tidak padu antara lirik dan nada, maka kata-kata dalam lirik diganti dengan padanannya, atau diganti sama sekali dengan diksi yang berbeda. Atau kebalikannya, irama lagu menyesuaikan dengan larik-larik syair agar lebih harmoni.

Proses kreatif yang diilustrasikan di atas, sangat berbeda dengan lagu “Padhang Bulan”, salah satu lagu lain dalam Album Perahu Retak. Puisi panjang karya Cak Nun ini telah tercipta lebih dahulu, kemudian disodorkan kepada Franky. Franky terperanjat, merasa surprise, seolah menemukan keajaiban. Sudah sekian lama Franky membikin karya aransemen musik, dan disimpan saja dalam laci memorinya. Selalu saja gagal tatkala diisi liriknya. Berkali-kali dicobanya, sering-sering tidak match. Dalam karya Franky ini musikalitasnya terasa agung, tapi lirik ciptaannya tidak bisa menyatu. Begitu menerima syair karya Cak Nun, antara lirik dan musiknya menyawiji. Tatkala disatukan, nada irama lagu milik Franky dan syair karya Cak Nun terasa agung, megah dan sangat menyentuh batin para pendengarnya.

Sejatinya ada beberapa artis penyanyi Indonesia yang meminta dibuatkan syair oleh Cak Nun untuk dinyanyikan, sebut saja dua orang, artis lawas dari Sidoarjo, Arie Koesmiran, dan satu lagi, salah satu vokalis Kahitna, Hedi Yunus.

Franky sendiri sudah berkiprah sebagai penyanyi balada dan dikenal publik pada pertengahan 1970-an, duet bersama adiknya menggebrak panggung permusikan Indonesia, Jane Sahilatua. Selain menulis lirik sendiri, Franky memperoleh kontribusi karya dari Hare Rumemper dan Yudhistira ANM Massardi. Pernah pula menampilkan lagu-lagu karya Teguh Esha, penulis novel Ali Topan Anak Jalanan (1977) dalam Album “Balada Ali Topan”.

Kini, Franky Hubert Sahilatua telah damai di sisi Tuhan, pulang ke haribaan-Nya pada 20 April 2011. []

Buku Cak Nun