Produktif Dunia Akhirat

Jawa Pos, 31 Januari 1996

Betapa indahnya memasuki hamparan ilmu Allah… tetapi mendadak listrik mati! Untung lebih separo sudah ku-save. Tapi bisa ku-print untuk dikirim ke sebuah harian yang terbit di Jawa Timur. Juga tak bisa ku-copy ke disket, sehingga aku terbengong-bengong. Beginilah kalau bertempat tinggal di Kabupaten Bantul–tepatnya di Desa Kasihan, wilayah paling agraris di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sewaktu-waktu, dan itu cukup sering, listrik meninggal dunia. Mau protes tak berani, karena takut nanti malah rutin mati khusus di rumahku.

Kucoba bersabar menunggu. Tapi karena sampai menjelang deadline belum juga hidup, aku lari mengungsi ke kantor perwakilan, agar aku bisa bertemu pembaca dalam tulisan ini. Namun tak bisa kuulangi apa yang tadi telah kutuliskan, sehingga hari itu aku “melompat” ke depan. Apa temanya?

Ya listrik mati saja. Listrik mati itu sejenis “puasa”. Dan itu langsung berkaitan dengan produktivitas.

***

Coba engkau bikin eksperimen di Surabaya misalnya. Pada jam-jam kerja, matikanlah listrik seluruh kota. Ya, seluruh kota. Kemudian, terbanglah menengok kantor demi kantor, pabrik demi pabrik, ruang-ruang ekonomi, atau segala macam tempat yang bersifat kota dan industri.

Energi listrik itu termasuk nyawa pembangunan. Nyawa industri. Nyawa produktivitas. Nyawa devisa negara. Nyawa kemajuan. Listrik mati satu jam saja, silakan engkau hitung berapa kerugian yang diderita oleh mekanisme industri. Silakan hitung juga berapa petinggi-petinggi dunia bisnis yang budrek kepalanya, meskipun banyak buruh mungkin diam-diam bersorak kalau mendadak listrik mati.

Kalau ingin terjadi “revolusi” di Surabaya, kalau ingin menyaksikan banyak orang uring-uringan dan bertengkar, kalau ingin melihat kriminalitas meningkat mendadak—matikan listrik barang sehari.

Tetapi ini bisa berarti sebaliknya. Kalau seseorang sadar untuk harus selalu mengembalikan dirinya pada kesejatian hidup, mungkin sesekali ia perlu mematikan listrik di rumahnya barang sehari, atau mungkin lebih lama dari itu. Kalau engkau ingin mengurangi ketergantungan terhadap barang-barang konsumtif maupun produktif yang membutuhkan listrik, kenapa tak kau coba “puasa listrik” barang beberapa lama. Rasulullah, Sunan Bonang, Imam Syafi’i, Nashrudin Hoja, Abu Nawas, terlebih-lebih lagi Nabi Musa atau Nabi Ibrahim bukan hanya tak pernah memakai listrik, tetapi bahkan tidak pernah mengenal listrik sepanjang hidupnya. Gadjah Mada menaklukan seluruh Nusantara juga tanpa listrik, tanpa pesawat terbang, tanpa komputer, tanpa tv, tanpa telepon genggam, dan lain-lain.

Tentu saja, karena situasi dan keperluan peradaban para tokoh yang kita sebut itu memang berbeda dengan kita sekarang. Tapi kenapa tak sesekali kau coba hayati Rasulmu antara lain melalui “puasa listrik”.

***

Tiadanya listrik tidak selalu identik dengan menurun-nya produksi. Setidak-tidaknya bagiku malam itu: matinya listrik juga menghadirkan banyak ilmu, sehingga justru berfungsi produktif secara intelektual maupun spiritual.

Di samping itu, apakah yang sesungguhnya kita maksudkan dengan produktif?

Ada tiga spektrum produktivitas dalam hidup manusia. Pertama, produktif dunia. Kedua, produktif akhirat. Dan ketiga, produktif dunia akhirat.

Pada yang pertama, ada pilah-pilah produktif secara ekonomi, produktif secara budaya, produktif secara politik, dan sebagainya. Pada spektrum yang ini: shalat, wiridan, atau bahkan hampir semua bentuk ibadah—adalah pekerjaan yang tidak produktif. Bahkan, bisa dianggap antiproduksi. Shalat itu secara teoritik, pada spektrum produktivitas duniawi, bersifat mubadzir, menyia-nyiakan waktu. Banyak pelayan toko bertengkar dengan juragannya sore-sore karena ia butuh shalat Maghrib. Ada perusahaan yang mendenda diambilnya jam produksi oleh keperluan shalat.

Pada spektrum yang kedua, yakni produktivitas ukhrawi, justru pekerjaan-pekerjaan industri dan konsumsi itu dianggap sebagai ke-mubadzir-an. Orang menumpuk kekayaan dunia tanpa mencari kejelasan mengenai kekayaan akhirat. Di sini shalat itu justru produktif untuk kehidupan akhirat.

***

Dalam pandanganku, spektrum pertama maupun kedua sama-sama tidak tepat bagi kehidupan manusia. Masing-masing menawarkan ketimpangan. Bukankah doa primer kita tiap hari adalah “rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah…“? Ya, Allah anugerahilah kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat sekaligus? Spektrum pertama dan kedua berasal dari pandangan dikotomis atas dunia dan akhirat. Dan itu tidak ilmiah. Dunia dan akhirat bukan dua dunia yang bertentangan. Dunia adalah jalan menuju akhirat. Pengolahan dunia yang benar akan membawa kita kepada kebahagiaan di akhirat. Dunia dan akhirat bersifat dialektis.

Kalau engkau mencuri, itu mudharat secara dunia dan mudharat juga secara akhirat, sekaligus. Kalau engkau memberi makan orang yang kelaparan, ia bermanfaat secara duniawi dan ukhrawi sekaligus. Kalau engkau shalat, sepanjang shalatmu terkait secara efektif dengan kehidupan keseharianmu, maka ia akan bersifat produktif secara akhirat maupun dunia.

Kalau engkau punya uang, jangan hanya diduniakan, tetapi juga akhiratkan. Artinya, di samping untuk kenikmatan pribadi keduniaanmu, daya gunakan untuk amal saleh bagi orang lain.[]

**Diambil dari buku Tuhan Pun “Berpuasa”, diterbitkan oleh Zaituna, 1997.

Buku Cak Nun