Pranotocoro Layla-Majnun dan Stamina Sinau Bareng

Sinau Bareng “Urip Iku Urup”, Ngluwar, Magelang, 24 Januari 2019

Rasanya sudah tidak perlu diulang lagi bahwa dalam majelis-majelis Sinau Bareng, hujan tidak menghalangi semangat pencarian sedulur-sedulur kita. Memang hujan malam ini, dan tidak perlu kita perpanjang di bagian itu, karena ini bukan laporan berita cuaca.

Kamis malam tanggal 24 Januari 2019 M, secara resminya ini adalah Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan Kiai Kanjeng yang pertama tahun ini. Bertempat di lapangan Danurojo Jamus, Ngluwar, Magelang. Tema “Urip Iku Urup” dipilih oleh pihak penyelenggara. Tema itu juga terpampang di latar belakang panggung. Yogya dan Magelang sepertinya rata basah, di dunia sebelah lain ajang Academy Awards juga mulai terdengar hiruk-pikuknya, nama dan judul film yang mendapat nominasi sudah diumumkan kemarin, nah tapi itu bukan cakupan bahasan kita di sini.

Kita lihat dan rasakan yang dekat-dekat ini saja karena itulah cakupan wilayah kemampuan kita. Nomor-nomor qasidahan dan sholawatan melantun, khas nada yang biasa terdengar di musholla-musholla desa. Kadang qasidah ini bercerita tentang kisah nabi-nabi, namun cukup romantis juga ada nomor yang cerita tentang Layla-Majnun, aih Majnun sampai mencari Layla siang dan malam, panas maupun hujan. Karena rindu disibak-sibak tirai hujan. Seperti itu, beberapa wajah yang sudah familiar di antara para JM, langganan barisan depan Sinau Bareng di wilayah Jawa Tengah sudah tampak saja. Laskar barisan depan ini seolah selalu tampak tidak ingin posisi lini mereka direbut. Tapi juga ada dan selalu ada memang, wajah-wajah baru yang kurang bisa diidentifikasi. Mereka sudah duduk di depan panggung, mepet sedekat mungkin. Rindu?

Pukul 20.25 WIB seorang bapak berkostum putih dengan peci Melayu hitam yang tampak cukup sepuh mengisi panggung. Sambutan-sambutan diberikan dengan khas ala pranotocoro seperti di nikahan-nikahan orang Jawa, pelapor reportase yang bukan orang Jawa ini jelas tidak paham. Namun getaran bahwa ini adalah sambutan santun yang bergembira terasa juga, ada perasaan seperti diterima dan dimuliakan dengan sambutan macam ini. Jelas terasa secara bahasa bahwa ini bahasa Jawa yang kromo berbunga-bunga, penuh hiasan percabangan kata. Ini hanya bisa dicapai oleh peradaban yang sudah pernah berada pada puncak-puncaknya, di mana efektifitas pesan sudah terlampaui sehingga punya banyak ruang untuk basa-basi sastrawi.

Sedikit bergenang-genang air di lapangan, sambutan Jawa kromo yang nyastra tadi itu ternyata mempersilakan qori’ untuk naik panggung dan membacakan ayat suci Al-Qur’an. Sementara para penduduk desa ternyata baru mulai berdatangan, anak-anak sudah bisa leluasa berlarian tanpa dimarahi akan basah oleh mamaknya. Beberapa ibu membawa tikar dan alas sendiri, mental dan stamina Sinau Bareng, seperti amunisi terjun ke Medan laga tingkat kesiagaannya. Apa iya, ibu-ibu ini sudah paham sejak awal bahwa Sinau Bareng butuh daya olah dan stamina sendiri? Bukan sekadar pengajian, istighosah atau majelis-majelis pemanjaan jamaah seperti kebanyakan yang mereka temui? Tapi bukankah baik juga andai daya stamina seperti ini diaplikasikan dalam majelis apa saja yang ditemui sehingga capaian keilmuan bisa lebih lejit melesat. Mental Sinau Bareng bukan mental konsumerisme kunyahan pengajian agamawan. Sinau Bareng bukan untuk yang manja.

Rupanya pak pranotocoro yang walau disawang dari jauh tampak kharismatik itu, sedang mempersilakan seorang lagi sesepuh desa, kiai lokal semacam itu yang kemudian mengajak untuk melakukan ritual-ritual khas seperti berkirim Al Fatihah kepada leluhur, kepada nama-nama keramat dan para wali, dan semacamnya. Bukan hanya yang tampak saja memang yang perlu disapa, kadang kita bisa bercinta tanpa pernah bertatapan.

Terlalu asik mengetik, pelapor reportase yang sambil neduh di belakang ini tiba-tiba tersadar bahwa di sekelilingnya orang sudah menggelar kesiapannya masing-masing. Dia berdiri menjulang sendiri, dan jadi malu sendiri karena ternyata menghalangi sekeluarga yang duduk tepat di belakangnya. Cukup malu, maka dia akhiri reportasenya agar bisa mencari posisi yang lebih strategis untuk menyerap Sinau Bareng kali ini. Dari panggung ada kalimat “Kagem Kiai Kanjeng kulo sumanggaaken” atau semacam itu. Shalawat Badar melantun. Hujan mendera deras! Reportase singkat pun diakhiri dengan kalimat, malam ini menyenangkan.