Posisi ASN dalam Empat Tipe Manusia

Catatan Sinau Bareng dalam rangka Penyerahan SK dan Pembekalan ASN Baru Pemprov Jatim, Surabaya 30 April 2019, bagian 1

Dulunya kita mengenalnya dengan sebutan pegawai negeri sipil (PNS), tapi sekarang sudah diganti dengan: ASN atau Aparatur Sipil Negara. Dan seperti sudah kami laporkan dalam berita sebelumnya, sebanyak 1964 ASN baru di wilayah Pemprov Jatim siang tadi mengikuti Sinau Bareng di Jatim Expo dalam rangka Penyerahan SK dan Pembekalan CPNS Formasi Tahun 2018. Suasana pembekalannya pun informal dan santai, duduk lesehan, sehingga makin enak untuk mengikuti pembekalan dari Mbah Nun.

Kepada ASN yang seluruhnya berusia milenial ini, Mbah Nun mengungkapkan rasa syukur bahwa mereka telah menentukan hidupnya. Bagi Mbah Nun, anak-anak usia dua puluhan sampai menjelang dua puluh lima, sebaiknya sudah mulai mengerti siapa dirinya, apa keistimewaan dirinya, apa yang disenangi dan ditekuninya, apa bakat dan keahliannya. Dengan begitu mereka akan segera ketemu dengan yang Allah takdirkan atau nasibkan pada dirinya. Nah, para ASN ini sudah beres, karena mereka sudah ASN. “Awakmu adalah perawat negara, perawat Republik Indonesia.” Demikian Mbah Nun membayangkan, meyakini, dan mengkonstruksikan hakikat ASN.

Jangan main-main dengan yang namanya perawat atau pemelihara. Ada empat tipe manusia di dunia ini. Pertama, pencetus. Kedua, pendiri. Ketiga, pemelihara. Dan keempat, pendobrak. “Awakmu gak perlu mencetuskan, nganut wae, mendirikan juga gak perlu, wong wis ono. Awakmu memelihara atau merawat wae. Pendobrak yo gak usah, ndobrak malah iso pensiun dini mengko.” Gerrr! Yang cocok menjadi ASN adalah orang-orang yang berjiwa perawat kehidupan, orang yang tertib, setia, dan, “Tekun menjaga Indonesia dan itulah Anda,” kata Mbah Nun memuji para ASN milenial ini.

Memulai Sinau Bareng ini, para ASN diajak masuk ke dalam suatu analogi skala. Rumput, jagung, mangga, dan pohon jati. Masing-masing punya waktu yang berbeda untuk tumbuh sejak awal kali ditanam benihnya. Rumput mungkin tumbuh dalam hitungan beberapa hari, jagung beberapa bulan, mangga kisaran tiga tahun, dan jati bisa puluhan tahun. Mbah Nun meminta masing-masing ASN berpikir apakah ASN itu tergolong yang mana ibaratnya. Kalau nglihat rentang waktu sampai mereka pensiun ya sekitar 30 tahun lagi. Jadi, mestinya cara berpikirnya harus seperti kayu jati, berpikir panjang. “Nah apa yang kita pelajari hari ini jangan berharap langsung cukul secepat rumput. Pokoknya Anda setia dengan yang kita alami saat ini, Anda terima dengan baik di dalam hati dan kesadaran Anda. Nanti pada waktunya, bisa beragam, akan tumbuh buahnya.”

Itulah sifat ilmu, kata Mbah Nun. Atau perlu juga memakai cara berpikir yang berbeda. Diambil misalnya dari perbandingan pertumbuhan dan perkembangan kambing dan manusia. Ketika anak kambing lahir, ia hanya butuh lima menit untuk bisa berdiri dan kemudian berjalan. Beda halnya dengan manusia. Butuh rata-rata sebelas bulan untuk bisa berjalan. Pinteran mana? Kata Mbah Nun, kalau kita berpikir kecepatan sama dengan kepandaian, ya kita akan menyimpulkan kambing lebih pandai ketimbang manusia. Tapi tentu tidak demikian halnya.

Mengapa kambing hanya butuh waktu secepat itu? Satu satu kemungkinan mafhum-nya adalah karena ya kambing akan menjadi, maaf, sebatas kambing saja. Sementara manusia bertumbuh kembang alon-alon, bertahap, transformasi, dimulai dari merangkak dan seterusnya, dan demikian pula dengan hidupnya. Jangan terburu-buru. Sabar. Karena manusia di-set up oleh Allah untuk jadi manajer alam semesta. Maka dia dibuat pelan-pelan perkembangannya sehingga dia lebih unggul (ahsani taqwim) dibanding makhluk lainnya. “Nah, Anda mikirnya dowo ya. Jadi, kambing cepat perkembangannya tapi hanya segitu pencapaiannya. Sedang manusia lambat tapi dia pada akhirnya jadi pemimpin makhluk-makhluk lainnya,” papar Mbah Nun.

Itu pijakan pertama. Kemudian pijakan kedua berangkat dari pertanyaan sederhana: manusia itu makhluk paling tua, paling muda, atau tengah-tengah? Dari sini nanti kita akan bertemu kambing dari sudut pandang yang berbeda. Ringkasnya dari pembelajaran ilmu kita tahu pertama kali yang digelar oleh Allah adalah, sebut misalnya, big bang. Ledakan besar. Lalu dari sini terdiferensiasi ciptaan. Malaikat dan Jin dengan alam ini mana yang duluan silakan dikaji. Namun, kita mendapatkan urutan seperti ini. Sesudah big bang itu ada yang namanya benda (ada yang menyebutnya benda mati). Kemudian ada benda yang tumbuh, yaitu tumbuh-tumbuhan atau tanaman. Lalu berikut benda yang tumbuh dan bergerak. Itulah binatang. Dan yang terakhir adalah benda tumbuh bergerak dan berakal. Itulah manusia. Jadi manusia adalah makhluk buncit.

“Jika di Jawa Timur ada tambang, ketahuilah bahwa semua alam itu adalah kakakmu. Harus dirawat. Ini beda dengan di Barat atau Globalisasi pembangunan. Alam dianggap sebagai alat untuk memuaskan nafsu. Kita di Indonesia seharusnya tidak,” Mbah Nun menguraikan sedikit konteks dari pijakan kedua tadi. Harapan Mbah Nun dua pijakan itu bisa menjadi bekal mereka, sekaligus bekal memahami pertanyaan-pertanyaan workshop akan diberikan. Workshop ini pun, Mbah Nun katakan kepada mereka, sebagai pembelajaran yang tidak berjangka sehari ini saja, tidak harus langsung dimengerti sekarang, namun yang terpenting diterima dulu sebagai file di dalam hati dan pikiran mereka. Ini sesuatu yang jangka panjang, sama seperti bahwa kesetiaan melambangkan waktu yang panjang, demikian kepemeliharaan, dan sama bahwa  tahap-tahap perkembangan diri manusia juga panjang dan bertahap.  

Begitulah Mbah Nun menyampaikan pengantar sebagai pijakan, dan setelah itu mereka diajak mengekspresikan rasa gembira dan senang melalui persembahan lagu dari KiaiKanjeng. Lagunya adalah Gundul-Gundul Pacul yang diaransemen sendiri oleh KiaiKanjeng. Cocok juga muatannya dengan para ASN ini sebagaimana Mbah Nun uraikan mengantarkan lagu ini dibawakan. Pada laporan selanjutnya, kita akan ikut menikmati ilmu dari respons-respons tiga perwakilan ASN atas tujuh belas pertanyaan yang diberikan Mbah Nun. (Helmi Mustofa)

Lainnya