Pertajam Pandangan dan Ingat “Tiga Jangan Gampang”

Catatan Majelis Ilmu BangbangWetan, Surabaya 19 Juni 2019

Forum majelis masyarakat maiyah BangbangWetan kembali hadir di tengah masyarakat Surabaya setelah hampir dua bulan diliburkan karena bersamaan dengan momen majelis ilmu Maiyahan lainnya. Nuansa kerinduan nampak dirasakan masyarakat Maiyah.

Sebelum pukul 20.00 lokasi sudah penuh. Kali ini BBW digelar di halaman TVRI Jawa Timur yang memang telah lama memiliki rasa kedekatan dengan BBW. Sebut saja misalnya momen Maiyahan penting seperti 11 tahun BBW juga diberlangsungkan di tempat  ini.

Backdrop warna biru dengan tulisan “Perkauman Sedarah Sedaging” serta gambar jantung berwarna hijau menarik perhatian jamaah. Mereka ingin menggali lebih dalam tentang tema ini. Lantas, saya lihat beberapa jamaah membuka website Bangbangwetan.org dan membaca pelan-pelan prolog tema BBW kali ini.

Sementara itu bapak penjual tahu goreng, pentol, serta kopi turut serta membersamai masyarakat Maiyah seperti biasa dan ini situasi seperti ini juga ditemui hampir di seluruh forum Maiyahan di Indonesia. Zaman sekarang, pemandangan seperti ini barangkali sudah jarang ditemui. Forum diskusi publik ilmiah serta pengajian akbar namun masih menyisakan keterbukaan bagi para pedagang kecil untuk mendapatkan rejeki baik dhohir maupun batin.

Menjelang pukul 20.00, beberapa jamaah mulai membaca Al-Quran yang disusul dengan doa dan sholawat yang dipandu Mas Ajib dan Mas Lutfhi. Semua yang hadir khusuk membaca dan meresapi. Hingga pada Indal Qiyam semua berdiri bersholawat, disusul beberapa orang shof tengah tampak berlinang air mata. Sementara di tempat parkir makin banyak kendaraan yang mengantreuntuk masuk.

Pukul 21.00, Mbak Tamalia serta Mas Yasin mulai memoderatori acara. Masih dalam nuansa Idul Fitri mereka atas nama BangbangWetan meminta maaf atas segala kesalahan dan keadaan yang mungkin dirasakan tidak tepat atau salah oleh jamaah selama setahun pelaksanaan forum. Jamaah pun merespons hal yang sama dengan saling berjabat tangan.

Suasana kemesraan sangat terasa malam ini. Beberapa poin tentang tema disampaikan. Bahwa perkauman sedarah sedaging itu adalah masyarakat yang berkumpul jadi satu yang disebabkan oleh beberapa faktor eksternal dan internal yang sedang berlaku. Berkumpul dalam arti sama cara berpikirnya dan atau keadaan suasana yang memaksa mereka berkumpul. Berkumpul di sini tidak hanya dalam tataran fisik saja namun juga pemikiran beserta laku hidupnya.

Sesi workshop dimulai, ada tiga kelompok yang dibuat untuk mendiskusikan beberapa pertanyaan yang telah disiapkan. Adapun pertanyaannya adalah, pertama, kedepan Maiyah harus seperti apa terhadap negara, masyarakat, dan keluarga. Kedua, Maiyah harus bersikap dan bertindak seperti apa terhadap kepemimpinan NKRI. Ketiga, apa saran untuk waktu dekat yang harus dilakukan oleh Maiyah. Setelah rangkaian pertanyaan disampaikan, para peserta workshop saling berdiskusi dengan serius. Mereka berpikir keras atas pertanyaan yang memang membutuhkan olah pikir yang mendalam.

Menjelang malam, puji syukur, Mbah Nun hadir dalam majelis BBW malam ini. Selain beliau, hadir pula Pak Suko Widodo, Cak Rahmad, serta beberapa penggiat LSM yayasan Abiyoso dari Taman Hiburan Rakyat ( THR ) Surabaya. Pada kesempatan ini, perwakilan Yayasan Abiyoso memyampaikan beberapa poin mengenai usaha mereka yang sedang mempertahankan kebudayaan dan mengembalikan budaya pada pakemnya. Beliau menyampaikan,inovasi dalam budaya itu boleh untuk menarik perhatian namun jangan sampai mencampuradukkannya sehingga esensi asli atau muatan yang dimaksudkan menjadi hilang dan malah tidak tersampaikan dengan baik. THR merupakan tempat pusat budaya yang melahirkan beberapa seniman kenamaan seperti Almarhum Asmuni.

Malam ini, sebagaimana di Mocopat Syafaat dua hari lalu, jamaah diajak mendengarkan lagu Perahu Retak hasil kolaborasi Mbah Nun dan almarhum Franky Sahilatua yang rilis pada 1996. Sesudah itu, Mbah Nun mengawali Maiyahan malam ini dengan kalimat pengantar bahwa “mripatmu itu berlapis-lapis dalam menilai orang.” Dari fisik yang pertama dan batin yang kedua. Itu baru lapis pertama yang tentu saja banyak lapis berikutnya. Sahabat Nabi sendiri mempunyai cara pandang yang berbeda beda terhadap masalah, yaitu Abu bakar melihat dari cara pandang kultural, Umar bin Khatab dengan cara pandang radikal, Utsman dengan cara menimbang-nimbang serta Ali bin abi thalib yang tidak menemukan apa apa kecuali hanya Allah Swt.

Karenanya, pada malam ini Mbah Nun mengajak masyarakat Maiyah untuk mempertajam pandangan sehingga dapat melihat yang tidak tampak oleh mata. Dengan cara seperti itu, kita dapat melihat bahwa tidak semua yang hebat-hebat atau yang baik itu terlihat mata, melainkan justru yang tidak kelihatan itu yang patut diperhatikan lebih dalam lagi.

“Kehebatanmu itu bukan pada jabatan yang bisa dilihat melainkan ada pada kejujuran dan kesalehanmu. Kejujuran serta kesalehan sendiri adalah hal yang bisa dirasakan yang merupakan akibat dari sikap dan perbuatan yang tentu saja terus dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan telah menjadi kebiasaan bagi pelakunya. Tidak bisa kita melihat dan menilai seseorang itu jujur dalam waktu singkat saja, apalagi hanya memakai mata sebagai piranti utama penilaiannya.”

Dalam uraian berikutnya, Mbah Nun mengingatkan kita untuk jangan gampang susah, jangan gampang nggumunan dan jangan gampang ngersulo. Kita diajarkan untuk melihat dan menyadari bahwa di dalam semua masalah itu ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Ketiga poin “jangan gampang” ini adalah kuda-kuda yang harus dipegang teguh oleh jamaah dan masyarakat Maiyah dan merupakan kunci untuk melihat semua masalah ataupun keadaan yang sedang mengepung perkauman sedarah sedaging Maiyah sesuai tema diskusi di atas dan berlaku untuk semua level masalah atau keadaan dalam keluarga, bertetangga bermasyarakat, dan tentu saja dalam konteks bernegara.

Demikian serba sedikit yang bisa saya share dari BBW tadi malam. Maturnuwun. (Hari Widodo)

Buku Lockdown 309 Tahun