Persatuan dan Kegembiraan, Konsekuensi Logis dari Iman

Catatan Sinau Bareng CNKK dalam Rangka Hari Jadi Desa Bimomartani, 14 Mei 2019

“Malam ini kita cari yang gembira-gembira saja.” Begitu Mbah Nun membuka serta menyapa mesra para hadirin yang memenuhi tanah lapang di sekitar SD Macanan, Bimomartani. Ini adalah Sinau Bareng yang digelar dalam rangka hari jadi desa Bimomartani, panitia memilih tema “Nyawiji Menggapai Ridho llahi”.

Sudah banyak anjuran, nasihat, ceramah, dawuh atau bahkan instruksi mengenai persatuan tapi rasanya masih jarang persatuan disimulasikan agar manusia bisa mencicipi bagaimana rasa indahnya persatuan. Begitupun juga banyak sekali ceramah mengenai kelezatan iman, tapi Mbah Nun justru memilih kalimat “konsekuensi iman”. Bahwa iman kepada Allah memiliki konsekuensinya, salah satunya adalah juga mengimani dan mensyukuri tanah, air dan budaya tempat kita dilahirkan. Walau kata nasionalisme belakangan agak terpolusi, tapi kita mungkin bisa sedikti berdamai dengan kata itu dan Mbah Nun tegaskan, “Nasionalisme dan persatuan itulah konsekuensi imanmu kepada Allah.” Tentu di sini nasionalisme yang bukan sempit, tapi benar-benar nasionalisme yang murni.

Dan memang kegembiraanlah yang tergelar di Desa Bimomartani pada 14 Mei 2019 Masehi pada bulan Ramadlan dengan ditemani sapuan bias lembut sinar bulan separuh di langit. Tergelarnya acara ini juga memang atas dukungan dari usaha Kakao Mas Saiful seorang penduduk desa yang berhasil–menurut Bu Camat–menembus pasar internasional. Ada satu kalimat Mbah Nun yang tampaknya sangat dihayati oleh Mas Saiful yaitu ketika Mbah Nun mengucapkan, “Dalam Islam yang kita lawan bukanlah kemiskinan melainkan pemiskinan.” Tampak bahwa kalimat ini menyentuh Mas Saiful karena pada saat Mas Saiful diberikan kesempatan berbicara kalimat ini direspons oleh beliau menjadi doa dan harapan, “Saya harap masih bisa menggelar Sinau Bareng di desa ini setiap tahun. Agar usaha kami menjadi usaha yang berkah, lebih bermanfaat dan tidak menjadi usaha yang memiskinkan terutama untuk saudara-saudara petani kakao.”

Kita memulakan dari konsep “konsekuensi iman” dan apa yang kita sebut konsekuensi hanya bisa dipahami dengan struktur logika. Selama ini, seringnya orang berbicara iman dengan janji manis, bahwa iman itu lezat, iman itu indah dan lain sebagainya. Tapi bagaimana indahnya? Bagaimana lezatnya? Ternyata justru ketika kita mengalami sendiri, kita bisa memahami dengan logis bahwa iman punya konsekuensi logis berbuah persatuan, kekompakan dan kegembiraan.

Maka bila kita ubah sudut pandangnya, bila iman konsekuensinya adalah persatuan, maka apakah yang sesungguhnya terjadi pada sebuah negeri yang dilandan perpecahan, fitnah dan pertengkaran tanpa henti? Mungkin dari sudut pandang logika ini, yang terjadi adalah krisis iman itu sendiri. Karena orang tidak merasa aman, tidak saling percaya dan cenderung merasa perlu memapankan posisi sosial diri dan golongannya. tak ada kegembiraan melihat yang berbeda darinya. Malam ini kita gembira dan terus gembira.

Bahkan “serangan” (bila bisa disebut begitu) pada Mbah Nun oleh segolongan yang entah nyata atau tidak, yang konon ingin melaporkan Mbah Nun justru dijadikan bahan kegembiraan oleh Mbah Nun. Kita diajak berimajinasi, nanti bisa Sinau Bareng di pengadilan atau di penjara atau di lokasi lain yang tidak seperti biasanya. Tawa-tawa membahana walau dalam hati tentu kita berharap tidak perlu terjadi itu semua. Kenapa? Karena konsekuensinya kita harus membuktikan kesalahan mereka dan betapa tidak enaknya kita perlu menunjukkan kesalahan orang lain. Tapi kalau terpaksa ya mau bagaimana lagi.

Malam ini terasa sangat istimewa dengan Bu Novia turut memberi warna kegembiraan. Beberapa kali canda mesra terlontar antara Bu Novia dengan Mbah Nun. Kemesraan yang menular jadi kegembiraan lagi dan mengalir menghangatkan malam. Lagu “Bunga Mawar” dilantunkan oleh Bu Novia dengan merdu, dibersamai nadanya oleh aransemen KiaiKanjeng yang khas. Lembut mengalun dan terasa nostalgik. Apalagi ketika Bu Novia berkolaborasi dengan Bu Camat yang ternyata juga bersuara merdu dalam lagu “Di Bukit Berbunga” yang tahun 80an dipopulerkan oleh Uci Bing Slamet. Beberapa orang yang ikut bernyanyi bisa dipastikan langsung merasa tua sendiri di tengah para hadirin belia menginat era populernya lagu ini, termasuk seorang lelaki yang duduk di bawah pohon, jadinya malah ikut nyanyi-nyanyi padahal mestinya mencatat jalannya Sinau Bareng malam ini. Nyanyi bae sih tong, nyatat weh!

KiaiKanjeng sendiri dalam formasi yang komplit, Pak Nevi yang beberapa saat lalu perlu beristirahat karena kondisi kesehatannya, malam ini bisa turut menggembirakan para hadirin. “We love you Pak Nevi” selalu sehat Pak Nevi. Mbah Nun memperkenalkan satu persatu jajaran KiaiKanjeng dengan posnya masing-masing dan berragam latar belakang yang sangat berbeda satu sama lain. Manusia KiaiKanjeng adalah miniatur keberagaman itu sendiri, dimensi usia hingga profesi mereka beragam dan dari mereka jualah ilmu dan hikmah memancar-mancar. Selalulah aktif menggali manusia-manusia KiaiKanjeng dan anda akan temukan bahwa manusia itu betapa luas kemungkinan dan otentisitasnya.

Ini adalah titik perjalanan KiaiKanjeng ke-4067 untuk di wilayah Nusantara saja. “Rampak Osing” melantun mengingatkan kita betapa lelahnya manusia mengejar-ngejar yang tak abadi. Ada tulisan di medsos yang–saya baca juga dengan geli dan sebal–mengatakan bahwa lagu ini adalah satu-satunya yang pernah diciptakan oleh Mbah Nun. Jelaslah orang yang menulis ini tidak punya pendalaman mumpuni dalam sejarah musik. Dan dalam tulisan itu seolah dia menyamakan Mbah Nun dengan tokoh-tokoh idolanya yang belum tentu mau juga diadu-adu.

Tulisan itu bukan sekadar mengandung kesalahan data, tapi justru dia merendahkan tokoh-tokoh yang dia pikir dia sakralkan. Begitulah kalau orang minim logika, kadang dia mengira dirinya benci padahal cinta dan kadang dia pikir begitu cara mencinta padahal justru melecehkan dengan kultus. Malam ini kita gembira dan merdeka dari itu semua, menikmati Maiyah, Sinau Bareng dan ragam manusia apa adanya.

Mbah Nun juga menegaskan bahwa selama 4067 titik, tidak pernah ada anjuran atau suruhan untuk orang keluar dari golongannya. “Semua bebas menjadi dirinya sendiri, tidak ada keharusan karena anda di Maiyah lantas anda keluar dari Muhammadiyah, FPI, HTI, LDII, PDI, NU, Gerindra atau apapun. Yang dibawa oleh KiaiKanjeng adalah persatuan,” ungkap Mbah Nun. Tegas!

Dan logika kita selalu kembali diantarkan, dengan sedikti bantuan rujukan dari Kiai Muzammil. Mbah Nun memberi kita sapuhan bahwa dengan logis kita perlu membedakan mana tujuan dan mana alat. Apa yang disampaikan oleh Mbah Nun dapat dibahasakan oleh Kiai Madura yang “anarkis-nasionalis” ini dengan istilah-istilah dari khazanah kitab masa lampau. Misal tujuan dengan alat adalah “wasilah dan ghayah” atau di sisi lain ada “fadlilah dan a’maliyah”, itu berfungsi agar para hadirin yang terbiasa merujuk pada kitab-kitab juga mampu meresapi ilmu ini dengan gembira.

Setiap ilmu ada pintunya sendiri-sendiri, tak perlu merendahkan satu dengan lainnya itu yang terasa di setiap majelis Maiyah. Gembira dan terus gembira. Dengan merapikan logika tersebut sehingga kita tidak terjebak pada permainan yang semua, yang utama apakah pilpres atau keindonesiaan? Muhammadiyah, FPI, LDII dllsb adalah jembatan mengalami (bukan sekadar memahami) Islam. “Jangan golongan-golongan kita jadikan lebih tinggi dari Islamnya sendiri,” ujar Mbah Nun.

Mbah Nun juga menyemangati dan memberikan para hadirin terutama yang masih belia, “Mulailah meningkatkan kapasitasmu menjadi khalifah Indonesia.” Dan salah satu cirinya bahwa kita telah meningkat kapasitas adalah bahwa apa yang semu dan temporer nafas pendek belakangan ini, tidak menyeret kita, tidak mengganggu kesadaran dan kedaulatan kita. Maka ditambahi oleh Mbah Nun, “Ada apa saja di Jakarta, di Indonesia, kita tidak ikut kerengan.

Kita tegakkan logika, iman dan kegembiraan. Sebab bila krisis iman, maka yang terjadi adalah pertengkaran seperti yang kita lihat belakangan. Para generasi muda, generasi baru al-mutahabbina fillah, mulai menyiapkan diri dengan konsentrasi bidang masing-masing. Menjadi pakar, ulama pada ekspertasinya, dan bekerja sama membangun. Nyicil membangun zaman dan peradaban yang lebih menggembirakan dari yang ada sekarang.

Pada penghujung acara, Pak Rahmad Gunadi seorang praktisi akademis pertanian dari kampus negeri di Yogyakarta yang membimbing petani kakao juga ikut memberi sudut pandang. Di Maiyah kita selalu bahagia dengan tambahan sudut pandang karena itu juga membantu kita melengkapi lingkar pandang semakin komplit. Pak Gunadi, akrabnya begitu, memberikan gambaran bagaimana dinamika di kalangan pertanian kakao negeri ini.

Menurut Pak Gunadi, bibit Kakao yang bisa tumbuh di negeri ini sangat unggul namun tidak menjadi keberkahan bersama karena penggumpalan modal di sektor hilir. Namun Pak Gunadi juga mengingatkan agar, walau berjuang dari cengkraman pemodal tapi kita tidak boleh menjadi serupa dengan ketamakan yang sekarang sedang merajalela. Bagi Pak Gunadi, semua yang disampaikan dalam Sinau Bareng malam ini terasa tersambung dengan perjuangan para petani kakao selama ini terutama prinsip yang mereka pegang adalah “Hidup dan menghidupi”.

Mbah Nun merespons dan mengapresiasi. Generasi muda perlu belajar jenis-jenis penjajahan. Kita harus melawan penjajahan tapi tidak perlu benci pada penjajahnya. Dan kita harus punya tekad itiqad yang kuat bahwa kita tidak akan pernah menjajah siapapun. Untuk itulah kita perlu bersatu, agar tidak langgeng penjajahan. Jangan bicara revolusi hanya karena tidak tahan lapar.

“Bersatu tidak bisa diajarkan, dia hanya bisa dibiasakan.” Mbah Nun menutup sajian Sinau Bareng malam ini. Maka mari beriman. Bari gembira dan konsekuensinya adalah mari bersatu. Mari mengalaminya bersama. Gembira dan gembirakanlah. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun