Perampok dan Pengemis

Ketika posisi lemah, kita mengemis. Ketika posisi kuat, kita merampok. Mari mengaku saja: itulah sebagian watak dasar kita kebanyakan bangsa Indonesia. Sejak berabad-abad lamanya, sampaipun kita kemudian mengalami zaman yang katanya modern, demokratis–tetap saja skema mental kita didasarkan pada habitat struktur kekuasaaan vertikal dan piramida budaya feodal.

Itu membuat kita tidak terbiasa mampu memandang sesama manusia secara egaliter dan sederajat. Ibarat tubuh, kita tidak terdidik untuk menoleh ke kiri atau ke kanan. Yang kita jagokan adalah memandang ke atas atau ke bawah, menjunjung atau memandang rendah, menjilat atau menginjak, merampok atau mengemis.

Itu pun kriteria yang kita pakai untuk menjunjung atau memandang rendah seseorang bukan berdasar nilai-nilai kualitatif kemanusiaan, tidak berdasarkan moralnya, kepribadiannya, manfaat sosialnya–melainkan berdasarkan simbolisme materialisme keduniaannya. Orang yang berkuasa kita pandang lebih tinggi derajatnya dibanding yang tak berkuasa. Orang kaya lebih tinggi dibanding yang miskin. Orang kuat lebih tinggi dari orang lemah.

Struktur pandangan itu kita lembagakan di dalam politik, kebudayaan, bahkan juga di dalam tradisi komunikasi keagamaan. Di masyarakat Jawa tradisional tertentu, yang dipanggil “Den” atau “Raden” bukan hanya orang berdarah biru, tapi juga siapa saja yang kaya, berkuasa dan dianggap pintar dan kuat. Bentuk “Den” yang lain adalah “Gus”. Sekarang tiba-tiba saja seseorang dipanggil “Gus” secara nasional karena dia banyak berperan di wilayah Gus Dur–padahal bulan kemarin orang memanggilnya dengan ‘ngoko’ saja.

Sekelompok panitia menelpon saya dan berkata: “Cak Nun diminta hadir di acara kami, atas dhawuh-nya Gus Anu…”–Yang disebut Gus Anu adalah ‘anak’ saya sendiri yang baru kemarin saya temani belajar nyopir dan bekerja. Gelar “Gus” sekarang menjadi ‘hantu’ baru di mana-mana. Kalau sekedar ‘Raden’, urusannya hanya berkait dengan darah keraton, tapi ‘Gus’ lebih luas dan abstrak. Seorang ‘Gus’ mungkin berdarah Wali, sakti dan kebal, ilmu batinnya mengerikan, punya banyak Jin bahkan besar kemungkinan keturunan Nabi. ‘Gus’ bermula dari kemuliaan nilai, tapi oleh pemakainya bisa dimanipulasikan atau dieksploitasikan untuk menakut-nakuti orang, untuk menodong pengusaha, untuk merampok Cina dengan bahasa yang cantik dan indah, untuk memaksakan pendapat dan kehendak, dan seterusnya.

Di tengah piramida kekuasaan dan feodalisme kebudayaan semacam ini, kita dipaksa untuk taat kepada para perampok yang jumlahnya sekarang bertambah. Kemudian ternyata setelah kita turun ke jalan, kita juga harus patuh kepada para pengemis di perempatan-perempatan jalan.

Kalau Anda perhatikan secara seksama, sesungguhnya banyak pengemis di jalanan itu sebenarnya adalah perampok, sementara itu banyak perampok di gedung-gedung terhormat itu sebenarnya adalah pengemis.[]

(Dimuat pada Harian Pikiran Rakyat, Bandung, 24 Rajab 1421/21 Oktober 2000)