Perahu Retak (1996), Temukan di Indonesia Hari Ini

Catatan Majelis Maiyah Mocopat Syafaat, 17 Juni 2019

“Di Indonesia ini ada gelombang atas dan ada gelombang bawah. Yang sejati semoga yang di bawah, yang di atas hanya riak-riak dan kecipak saja.” Kalimat dari Mbah Nun ini diucapakan ketika telah beranjak tengah malam pada Mocopat Syafaat di bulan Juni 2019 M sementara bulan semakin indah bersinar utuh. Sedikit perubahan kecil terasa, tenda yang menaungi jamaah terdepan bulan ini diganti dengan yang lebih terkini. Tapi majelis Maiyah dan Sinau Bareng di manapun dan kapanpun memang juga adalah langkah-langkah pembaruan setapak demi setapak. Selaput demi selaput tadris, ta’lim, ta’rif hingga ta`dib dari para manusia arus bawah. Arus bawah selalu tidak begitu terlihat dan sunyi-sunyi saja tapi dialah yang sesungguhnya sangat menentukan riak di atas permukaan.

Malam ini memang kita diajak menyelami “Perahu Retak”. Lho, perahu kok diselami? Maksudnya lagu berjudul Perahu Retak yang dulu sangat populer dibawakan oleh almarhum Franky Sahilatua. Album ini pada masanya hampir setiap hari bergaung di televisi, adegan Franky dengan menggenjreng gitar di berbagai lokasi di pinggir pantai, di sawah hingga di wilayah kumuh di antara para jelata di kolong jembatan tak mungkin begitu saja terlupakan bagi yang mengalami masa-masa itu. Itu memang masa di mana Franky sangat populer, setelah nomor-nomor lain yang juga melegenda seperti Lelaki dan Rembulan yang romantis, Balada Simon dan Simin yang post-kolonialis, Siti Julaikha dan Durakhim yang menyuarkan keterhimpitan buruh, Aku Papua yang sangat kultural Papuanya, sebab yang disebut kultural tidak hanya Jawa kan.

Pada banyak nomor hitsnya Franky sering berduet dengan saudarinya yakni Jane Sahilatua atau dengan Iwan Fals seperti pada nomer Terminal. Beberapa hits Iwan Fals juga adalah karya Franky seperti lagu Kemesraan yang jadi lagu wajib tiap acara reuni-reunian itu. Tapi pada lagu Perahu Retak, Franky tampil seorang diri melagukan lirik yang dibuat khusus oleh Mbah Nun. Adapun proses di balik terciptanya lagu ini telah ditulis dengan sangat cermat oleh Om Mundzir dan telah dimuat juga pada web kita ini.

Kalau Franky hadir malam hari ini, mungkin beliau akan menyanyikan Lelaki dan Rembulan karena rembulan sedang sangat indah, penuh dan utuh. Lagu Perahu Retak dimainkan kembali oleh jajaran KiaiKanjeng dengan di-lead vocal oleh Mas Imam, kemudian versi aslinya dilantunkan kembali untuk menyegarkan ingatan kita. Atau mungkin juga untuk mengenalkan, bagi teman-teman yang tidak mengalami era tersebut.

Saat memberikan hantaran Mas Helmi mengingtkan kita bahwa rentang dan dimensi wilayah persentuhan Mbah Nun sejak jauh hari sangat luas dan itu adalah sejarah sendiri yang perlu kita gali. “JM perlu punya kesdaran sejarah,” ungkap Mas Helmi. Kita telah menikmati buah keindahan Maiyah, kita perlu pelajari pertemuan-pertemuan polanya, penanaman sampai kemudian menjadi seperti yang sekarang ini. Untuk apa? Untuk romantisme sejarah? Tentu tidak, romantisme dan legitimasi sejarah hanya bagi kaum yang terlalu loyo tak berdaya menghadapi kekinian. Poin pentingnya adalah sejarah perlu kita gali, agar buah yang saat ini kita nikmati bisa kita tanam kembali bijinya dan bisa dinikmati kembali oleh generasi-generasi mendatang.

Mas Jamal kemudian melengkapi dengan memberi gambaran beberapa hal yang sejauh ini sudah berhasil didokumentasikan. Mas Jamal kemudian membagi pola keterlibatan Mbah Nun di berbagai era dengan bidangnya. Menurut hasil dokumentasi Mas Jamal, ketika pada era Patangpuluhanlah kemudian persentuhan Mbah Nun dengan berbagai dimensi menjadi jauh lebih luas dari sebelumnya. Bukan berarti sebelumnya tidak, tapi meningkat sangat drastis. Kita perlu ingat ini, bahwa setiap orang punya jatah 24 jam yang sama setiap harinya. Tapi apa yang manusia lakukan dengan jatah 24 jam itu bisa berbeda-beda. Tampaknya 24 jam dalam hari-hari Mbah Nun sangat padat sejak dulu sehingga pasti banyak sekali kejadian, peristiwa hingga fenomena yang bisa kita temukan. Apakah kita tidak terpacu untuk sebersemangat itu dalam hidup?

Dengan segera ketika pembahasan ringkasan telah dipungkasi, dan lagu “Perahu Retak” diperdengarkan dalam dua versi (versi Kiai Kanjeng dan versi Franky), JM kemudian diajak untuk berani maju membuat kelompok-kelompok kecil yang akan bertugas mendiskusikan kemudian menjabarkan hasil temuan diskusinya berdasarkan beberapa pertanyaan. Pertanyaan tersebut yakni:

  1. Kenapa kata yang dipilih perahu, bukan kapal atau bahtera?
  2. Perahu tetak itu apanya yang retak? Seberapa retak? Bagaimana retaknya dan apakah bisa diutuhkan kembali?
  3. “Menyusuri gelombang”, gelombang apa? Bagaimana dan seberapa besar gelombang itu?
  4. Apa maksud dari kalimat “Rakyat menyeruak lautan”? Sejak kapan rakyat menyeruak lautan? Apa bedanya rakyat zaman sekarang dengan zaman sebelumnya termasuk daya mereka dalam menyeruak lautan?
  5. Apakah hari ini terjadi “yang salah dipertahankan” dan “yang benar disingkirkan”?

Tiga kelompok telah tebentuk dengan gembira, mereka menamakan diri masing-masing Kelompok Kopi Hitam, Jimpitan dan Indonesia Damai. “Saya bingung apa korelasi dari tiga nama ini,” canda Mas Helmi. Memang agak liar imajinasi para JM. Waktu tiga puluh menit diberikan dan sembari menanti waktu, Pak Mustofa W Hasyim yang mendaku diri agak mirip dengan SBY mengisinya dengan kisah-kisah perjalanan di waktu dulu mengenai perjalanan jurnalistik Mbah Nun saat muda.

Mbah Nun punya sentuhan dengan dunia jurnalistik bahkan memulainya dari tingkatan paling dasar, di mana disiplin jurnalisme sangat ketat. Mbah Nun bahkan pernah menjadi wartawan dunia kriminal. Mari kita mandiri menggali dimensi-dimensi ini. Sebab Maiyah bukan majelis yang menunggu dicekoki ajaran oleh para penutur belaka. Maiyah adalah manusia yang rajin mandiri menggali dengan otentik dan berdaulat atas segala wacana, bukannya disetir oleh wacana apalagi para pemimpin kajian wacana.

Buku Cak Nun