Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng yang ke-4106

Pendaran Gejala Cinta Di Jatinangor

Liputan Sinau Bareng Dies Natalis ke-62 Universitas Padjadjaran Bandung, Bandung 10 September 2019

Tasawwuf Jatinangor

Saya tidak tahu Mas, Saya bukan sufi. Saya tidak mempelajari tasawwuf. Yang saya lakukan hanyalah mempelajari gejala cinta Allah dalam kehidupan ini” bagi saya, kalimat Mbah Nun pada Selasa malam 10 September 2019 M ini terasa megah dalam kesederhanaan bahasa. Ini diucapkan ketika Mbah Nun sedang menjawab pertanyaan seorang aktivis mahasiswa yang memang tampaknya cukup bangga dengan organisasinya.

Pertanyaan yang disampaikan sedulur kita ini memang dengan referensi kitab-kitab klasik, serta mengutip dawuh guru yang mungkin guru keramatnya. Mbah Nun memulakan menjawab dengan “tidak tahu” tapi itu ketidak tahuan yang bijaksana sekali. Ketidak tahuan yang rasanya adalah cinta dan memuncak pada cinta. Gejala cinta berpendaran malam ini. Tradisi pengutiban kitab-kitab serta jalur guru-guru keramat inilah dulu yang dikenang dalam sejarah sebagai feomena “ahli kitab”. Juga dulu dihadapi dengan cinta oleh manusia mulia Muhammad SAW dan bahkan tanpa ragu menyebut diri beliau “Al Ummiy” yang buta huruf. Mungkin kita memang butuh disiplin keilmuan ahli kitab klasik (di semua zaman ada kitab klasik), tapi kita juga sangat butuh ketidak tahuan yang mencinta. Mbah Nun juga tetap mengingatkan bahwa metode penelusuran dan ferifikasi narasi dari ilmuwan ulama terdahulu juga adalah pagar yang perlu kita hargai. Begitu dalam jalur ilmiah, begitu dalam jalur tasawwuf. Karena aslinya dua hal ini fungsinya agar kita waspada tidak semena-mena menyimpulkan kebenaran atas selera sendiri. Kewaspadaan jugalah yang sering kita latihkan di Sinau Bareng.

Subjektifitas Cinta Sinau Bareng

Itu baru satu pertanyaan, sedangkan pertanyaan dan pernyataan cinta yang hadir malam ini jumlahnya tidak kurang dari sepuluh kehadiran yang bila tidak dihentikan, rasanya satu malam ini hanya akan habis untuk mengumpulkan pertanyaan saja. Daripada tanya, ini lebih tepat disebut ekspresi rindu. Semua dengan kadar dan bobot yang imbang dan dijawab oleh Mbah Nun dengan porsi cinta yang imbang pula. Ada tak berhingga wajah cinta pada satu malam ini saja. Belum pada Sinau Bareng yang lain, yang kemarin, yang besok, yang lusa, yang ber-millenium nanti. Yang sampai abadi. Satu tulisan tidak akan sanggup merangkum semuanya. Sepuluh tulisanpun belum tentu. Dan seperti yang Mbah Nun katakan malam ini juga “Kalau memang cinta ya sudah lakukan saja”.

Semua reportase di web kita ini, hanya sikap cinta kami yang sebisa-bisanya. Ada subjektifitas tentu, maka Sinau Bareng adalah mendemokrasikan sebanyak mungkin subjektifitas. Karena objektifitas adalah kumpulan sebanyak mungkin data subjektif.

Mbah Nun sempat juga sampaikan ilmu mengenai klasifikasi relasi manusia dengan cara penyampaian kebenaran. Yang dari awal musti sangat formal dan hati-hati, baru setelah mulai dekat bisa bicara yang indah-indah, lalu setelah keakraban terjalin, segala formalitas bisa dikesampingkan.

“Cuuukkk!” saya menyapa seorang kawan karib yang lama sekali tidak jumpa. Dia menempuh dua jam perjalanan dari Bandung ke Jatinangor dengan motor tuanya, Ucup Anfa namanya sekarang dia aktif di komunitas The Panas Dalam di Bandung. Mungkin dia ke sini dengan ditemani lagu “Jatinangor Ho Ho Jatinangor” karya Ayah Pidi Baiq.

“Timnas kalah Cuk” kata Ucup. Saya balik tanya “Timnas Uganda?” dijawab “Timnas Indonesia cuk!” Saya hanya menjawab “Sukuuuurriiinnn… Udah berhenti aja jadi suporter begok!” Ucup seorang suporter handal, bahkan skripsinya dulu adalah tentang fenomena kultur suporter. Sedangkan saya, adalah tipe orang yang tidak paham bagusnya sepak bola (olahraga tinggalan kaum kolonial) itu dimana. Dan merasa menyoraki sebelas orang yang sedang berlari-larian keringetan kejar bola adalah hal paling konyol sejagad raya. Pun saya sangat yakin bahwa kultur suporter sebaiknya dihapuskan di atas dunia. Tapi keakraban tidak selalu atas dasar kesetujuan. Mungkin semacam itu kalau kita sudah akrab. Ucup tau saya eneg sama suporter tapi saya paham kenapa Ucup harus senang jadi suporter bola. Tapi karena saya yang sedang menulis ini, jadi pesan saya lebih kental. Walau tentu bukan paling benar.

Nyawiji-Ngahiji Lintas Budaya

Dalam Sinau Bareng, kita belajar saling menerima dan memahami. Tanah Pasundan di Jatinangor ini punya kultur yang sangat berbeda dari wilayah kekuasaan kerajaan-kerjaan Jawa bagian tengah dan timur. Dia dibentuk dari arus sejarah, pola geografis dan banyak variabel lainnya. Faktor kolonialisme juga perlu kita selidiki karena bagaimanapun kita perlu menerima fakta bahwa kita adalah masyarakat pasca-kolonial.

Ketika Mbah Nun sedang menjelaskan konsep “nyawiji” ternyata dari para hadirin Mbah Nun mendapat term yang kurang lebih sama, yakni kata “ngahiji”. Dan tidak sekali dua kali terjadi komunikasi lintas kultur di malam ini. Setiap budaya punya keistimewaan fadhillahnya. Juga perlu mengakui sisi kekurang jangkepannya. Yang tua bisa saja kesadarannya melapuk. Yang muda bisa saja kurang matang. Begitulah maka namanya Sinau Bareng selalu mempertemukan dan melegakan hati.

Mbah Nun sempat menyitir kalimat dari M. A. W Brouwer yang mengatakan “Tanah Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum” kemudian Mbah Nun menambahkan “Dan menciptakan Madura saat sedang cekikikan” sambil Mbah Nun melirik pada Yai Muzammil. Tawa hadirin bergemerlapan dibawah cahaya lampu yang berpendar.

Tak Tertekan Oleh Kesempitan, Berkesadaran Proses

Anda yang luas, jangan ditekan oleh kesempitan. Hidup yang gembira”, kata Mbah Nun ketika menjawab pertanyaan seorang mahasiswi yang bingung dengan fenomena beragama kawan-kawan dan orang terdekatnya yang menjadi suka menyalahkan, membid’ahkan dan mengkafirkan. Apa yang menyenangkan di Sinau Bareng, kita tidak diajak untuk galak melawan dengan frontal. Kita tidak dijadikan massa ideologis. Tapi diajak meluas, menjadi jembar. Dan justru mengasyikinya dengan kreatifitas kalau bisa dibikin bahan lucu-lucunya hidup.

Dan fenomena serupa, prodak kesempitan berpikir juga ditanyakan oleh seorang mahasiswi lain yang justru melihat dari arah sebaliknya. Fenomena “Open minded” ala medsos, belakangan memang sedang marak di twitter dan medsos lain. Fenomena mendaku open minded tapi justru jatuh ke titik ekstrim seberang, selalu sinis pada kaum yang dianggap terlalu agamis. Satu golongan merasa paling benar beragama, satu golongan merasa paling benar dalam ber-“open minded”. Dan mereka saling menyingkirkan. Tampaknya manusia hanya ganti baju keributan, tapi keributannya tetap sama. Terjebak pada kesempitan.

Saya merasa ini hal yang menyenangkan sebab pertanyaan-pertanyaan yang muncul ini berkenaan dengan fenomena kekinian dan real. Dan sekali lagi, Mbah Nun memberikan jawaban yang mengajak pada keluasan. Memahami bahwa hidup adalah bulatan proses. Dan proses ada dialektika di dalamnya.

Romantisme Revolusi, Kalau Cinta Mau Apa

Saya duduk di lapangan bersama kawan saya si Ucup dan beberapa kenalan baru. Gadis-gadis manis dengan logat Sunda yang menyenangkan hati berceloteh menyenangkan. Semakin malam, Jatinangor semakin sejuk. Semakin memacu romantisme. Udara tidak berkabut tapi cukup ada tirai tipis yang membuat lampu-lampa lapangan tampak berpendar indah. Itu kabut? Atau rindu?

Konon, hanya yang romantis yang mendambakan revolusi. Dan Jatinangor malam ini adalah atmosifr semesta yang sangat romantis. Sehingga juga sangat revolusioner. Tak mungkin revolusi diletuskan oleh seorang yang tak pandai bercinta. Di Sinau Bareng, kita selalu menajamkan kemampuan percintaan kita, iya kan Neng? Eh dia tidak di sini. Kita masih mencari. Ada kalimat dari Mbah Nun yang masih terngiang “Ukurannya Allah memang hanya cinta. Kalau cinta mau apa?”

Buku Cak Nun