Pemimpi(n)

Mukadimah Suluk Surakartan Februari 2019

Jika kita ditanya tentang keluarga, apa yang tergambar di pikiran kita? Sebuah bangunan rumah yang bagus. Di dalamnya ada ayah, ibu, dan anak-anaknya yang bercengkerama dengan akur. Mereka menjalani kehidupan sehari-hari dengan adem ayem. Ayah menjadi pemimpin keluarga dan pemberi nafkah. Ibu menjadi pengelola rumah tangga. Anak-anaknya menunjukkan bakti kepada ayah ibunya.

Bagaimana jika gambaran itu diperluas pada keluarga besar? Ada gambar kakek dan nenek yang dikitari orang dewasa dan anak-anak. Bagaimana jika diperluas lagi menjadi sebuah masyarakat? Ada pemimpin masyarakat dan ratusan atau mungkin ribuan orang mengitarinya. Bagaimana jika diperluas lagi menjadi sebuah bangsa sebesar Indonesia ini? Susah sekali dibayangkan bukan.

Yang perlu kita garis bawahi adalah diperbesar seperti apa pun, fungsi keluarga seperti yang digambarkan pada bagian awal tulisan ini akan tetap berlaku. Ada yang menjadi pemimpin keluarga. Ada yang menjadi pengelola rumah tangga. Ada pula yang menjadi harapan keluarga di masa depan yang harus menjaga nama baik keluarga dan meneruskan perjuangannya. Itulah idealnya bagaimana keluarga terbentuk dalam skala apa pun.

Jika kita tarik kepada realitas bangsa Indonesia saat ini, siapakah yang menjalankan fungsi pemimpin keluarga? Siapa yang menjalankan fungsi pengelola rumah tangga? Siapa yang menjalankan fungsi sebagai harapan untuk masa depan dan perjuangan bangsa? Sebelum kita menjawabnya dengan presisi, mari kita cermati fakta yang terjadi hari-hari ini. Rakyat terbelah menjadi kubu-kubu sesuai kepentingannya, terutama dalam rangka mendukung para elit politikus merebut kursi kekuasaan, terutama pada ranah eksekutif.

Jika kita menggunakan kacamata bangsa Indonesia sebagai keluarga besar, terbelahnya rakyat menjadi kubu-kubu ibaratnya anak-anak yang sedang bertengkar. Maka dari itu, perlu orang tua yang menjadi penengah dan memutuskan perselisihan itu dengan adil. Siapakah orang tua itu saat ini? Mengapa anak-anak itu bertengkar? Apakah mereka kelaparan? Tidak mendapatkan keadilan dari pengelola rumah tangga? Atau justru diadu domba oleh si pengelola rumah tangga agar bertengkar satu sama lain? Untuk apa? Agar hancur dan tidak bisa mewarisi kekayaan yang dititipkan leluhurnya?

Deretan pertanyaan itu mengerucut pada sebuah keadaan bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang mengalami darurat peradaban. Ia ibarat anak terlantar. Bangsa Indonesia ibarat anak yang sedang bergaul dengan teman-temannya. Tapi ia lupa kalau memiliki orang tua. Ia kehilangan identitasnya dan tidak percaya diri karena tidak mengenal siapa dirinya. Di mana orang tuanya? Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah mengapa ia lupa pada orang tuanya? Dalam keadaan semacam itu, bisakah bangsa ini menegakkan kepemimpinan yang sebenarnya? Jangan-jangan kita ini cuma pemimpi yang tak berbuat sesuatu yang benar demi lahirnya pemimpin. Kita berharap pemimpin yang bisa membawa bangsa ini kembali di puncak peradaban. Tapi langkah yang kita tempuh sejak awal sudah salah karena kita sebagai anak terlantar menempuh pendidikan yang tidak sejalan dengan garis peradaban para leluhur kita.

Itulah bahan perenungan yang bisa kita jadikan bahan diskusi bersama. Ingatlah, dalam keluarga anak mungkin bisa berteman dengan sebanyak-banyaknya orang, tetapi ia hanya memiliki dua orang tua. Ketika ia tidak mengenal kedua orang tuanya, bagaimana ia bisa berdiri dengan percaya diri ketika bergaul di hadapan teman-temannya. Ketika teman-temannya bertanya asal-usulnya, ia akan ciut dan bungkam. Apalagi ketidaktahuannya membuatnya tidak bisa berbuat sesuatu yang berguna seperti orang tua dan nenek moyangnya dahulu. Nah, barangkali keadaan semacam itulah yang sedang kita idap bersama. (YAP)

Buku Cak Nun