Pegang Esensi ‘Yang Mengabdi Sowan Kepada Yang Diabdi’

Catatan Sinau Bareng dalam rangka Penyerahan SK dan Pembekalan ASN Baru Pemprov Jatim, Surabaya 30 April 2019, bagian 2

Para ASN memikul sejumlah pekerjaan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional termasuk di dalamnya adalah pelayanan publik. Banyak kemampuan teknis dan profesionalitas tersyaratkan pada diri mereka dalam menjalankan tugas-tugas tersebut.

Meskipun demikian, sangat baik jika mereka melengkapi diri dengan wawasan-wawasan mendasar mengenai prinsip-prinsip bernegara dan berpemerintahan. Di situlah Mbah Nun memberikan pertanyaan-pertanyaan yang diharapkan memantik mereka untuk senantiasa punya wawasan yang berkembang mengenai prinsip-prinsip tersebut.

Tiga kelompok yang merupakan perwakilan dari seluruh peserta Sinau Bareng siang kemarin telah terbentuk. Masing-masing bernama Peh, Jancuk, dan Semanggi. Peh ini kosakata khas dari wilayah seputar Kediri dan Nganjuk yang biasanya digunakan untuk mengekspresikan rasa kagum atau terheran-heran pada sesuatu. Peeeh! Adapun Jancuk, kalian lebih tahu. Demikian juga dengan Semanggi.

Bu Gubernur Khofifah yang datang di tengah acara telah berlangsung ikut menyaksikan bagaimana pertanyaan-pertanyaan Mbah Nun dijawab oleh masing-masing kelompok. Demikian juga dengan Wagub Emil Dardak. Pertanyaan pertama adalah ‘Kepada siapa ASN provinsi Jawa Timur harus taat?’. Barangkali kita selama itu sudah punya anggapan yang mapan bahwa namanya pegawai ya taat kepada pimpinannya. Mbah Nun ingin kita semua memeriksa kembali apakah itu benar dalam konteks menjalankan negara dan pemerintahan, ataukah ada yang perlu dipertepat kembali.

Atas pertanyaan ini, kelompok Peh menjawab: Undang-undang; kelompok Jancuk: Tuhan; kelompok Semanggi: Rakyat. Tidak ada yang menjawab: gubernur. Tapi jangan salah sangka dulu hal gubernur ini, nanti Mbah Nun menjelaskan saat merespons atas jawaban pertanyaan nomor tiga.

Mengenai jawaban tersebut, yang mungkin di luar bayangan kita juga, Mbah Nun memuji dan mengapresiasi. Semua jawaban tadi berangkat dari perspektif yang berbeda-beda, ada yang luas, sedang, dan praktis, dan semuanya benar. Bagus dan benar. “Itu semua winih atau benih yang mereka bawa sebagai ASN yang semoga nanti tumbuh dalam mereka menjalankan pekerjaan sebagai ASN.”

Pertanyaan kedua adalah ‘Kenapa kata “Negeri” dalam PNS diganti menjadi “Negara” dalam ASN? Dari ketiga kelompok itu, kita mendapatkan ragam jawaban berikut ini. Cakupan negara lebih luas daripada negeri. Negeri merupakan tempat, sedang negara adalah persatuan dan kesatuan. Negeri bersifat lebih cair, sedang negara bersifat padat. Lewat pertanyaan ini, sebagaimana kepada masyarakat dan jamaah Maiyah, Mbah Nun ingin mereka mengantongi dulu dua istilah itu, negara dan negeri, juga negara dan pemerintah, untuk kapan-kapan kalau ada waktu mereka pikirikan dalam konteks membangun negara ini ke depan.

Kemudian pertanyaan ketiga adalah ‘Setiap ASN adalah seorang abdi. Siapakah atasan atau pimpinan tertinggi yang diabdi oleh ASN Provinsi Jawa Timur? Di luar dugaan juga, semua kelompok kompak jawabannya sama: Rakyat. Luar biasa, kata Mbah Nun. Lalu beliau juga menguraikan gelembungnya, yaitu bahwa mengabdi kepada rakyat di situ juga perlu dipahami sebagai taat kepada Rakyat melalui washilah/perantaraan Ibu Gubernur. Selain itu, jawaban ini juga menggambarkan bahwa mereka sudah punya benih nyuggi wakul-nya Rakyat sebagaimana diajarkan dalam tembang Gundul-Gundul Pacul. 

Begeser ke pertanyaan keempat. ‘Yang mengabdi sowan kepada yang diabdi, ataukah yang diabdi sowan kepada yang mengabdi?’. Kali ini jawaban pun sama: yang mengabdi sowan kepada yang diabdi. Di sini Mbah Nun meminta jawaban tersebut diproyeksi dan diaplikasikan (dalam menjalankan tugas-tugas) serta yang dipegang adalah esensinya.

Adapun pertanyaan kelima adalah ‘Akta kelahiran, KTP, dan berbagai tanda identitas warganegara itu kebutuhan dan kewajiban rakyat ataukah kebutuhan dan kewajiban pemerintah?’. Kali ini pun juga sama lagi jawaban dari semua kelompok ASN milenial tersebut: Pemerintah. Tepuk tangan meriah menyusul jawaban yang rasanya beyond dari anggapan umum atau bahkan asumsi birokrasi selama ini.

Tetapi Mbah Nun sedikit mengejar,”Jadi, pemerintah sowan kepada rakyat untuk ngasih KTP?” Mulai sedikit ragu mereka menjawab, namun Mbah Nun segera mengatakan, “Tak apa ini memang banyak PR kita dalam hal ini. Anda pikirkan aplikasi atau terapannya ke depan.”

Demikianlah, lima pertanyaan dulu, dan kita sudah simak bagaimana jawaban teman-teman ASN milenial ini. Mbah Nun telah membekali mereka dengan pancingan cara berpikir mengenai negara, di antaranya prinsip dan etik pelayanan publik yang perlu dipelajari bersama. Dan ASN tentu saja sudah selayaknya mendapatkan pembekalan semacam ini, supaya mereka benar-benar mampu menjadi khadimul ummah atau pelayan publik yang baik. (Helmi Mustofa)

Buku dan Merchandise