Pak Titut Datang Ke Jakarta

Pak Titut ini wong kuna. Aliasnya orang jadul. Ketika di atas kereta api, dengan luwes menyapa nenek muda bercucu satu, berbasa-basi, jadilah obral-obrol. “Melihat cucu Ibu, saya jadi teringat cucu saya di rumah”, ujarnya. Si nenek pun menimpali dengan beberapa obrolan, kemudian dibuntuti dengan pertanyaan, “Sepertinya hendak berangkat konser. Konser di mana?”. “Di Taman Ismail Marzuki,” Pak Titut menjawab.

Siang itu, kami berempat, Saya, Rizky, Pak Titut Edi, dan Pak Wardi hendak menuju Ibukota, memenuhi undangan teman-teman Kenduri Cinta yang katanya kangen disambangi. Tidak pernah tidak hangat sambutan teman-teman, baru sampai di selasar kedatangan, sudah ada yang menjemput. Kemudian tidak ditanya sudah makan apa belum, eh lah kok langsung saja diajak ke warung Sunda.

“Saya nasi putih saja, Dik,” Pak Titut memesan tanpa perlu membuka buku menu yang disodorkan pelayan. Saya pikir pria bertampang dukun ini memang sedang laku puasa mutih. Ternyata tidak, setelah nasi putih keluar, se-stopless abon dikeluarkan dari tas. “Bekal dari Ibu,” katanya. Memang pasangan jadul.

Tepat pukul 20.00 WIB kami kemudian beranjak menuju lokasi tempat Maiyahan akan digelar, yaitu Plaza Besar Taman Ismail Marzuki. Tempatnya sangat lega, di sekelilingnya nampak berbagai aktivitas berlangsung bersamaan tetapi tidak saling mengganggu. Nampak sebuah tenda sederhana sudah berdiri di pojokan tenggara, tenda Khas Kenduri Cinta. Bulan yang hampir purnama menjadi pemandangannya, lengkap dengan menjulangnya gedung-gedung bertingkat. Khas ibukota. Lantai dari bebatuan sejenis andesit cukup nyaman untuk duduk-duduk melibatkan diri di dalam forum nantinya. Terlebih yang datang lebih awal masih kebagian alas duduk berupa karpet yang memang disiapkan oleh teman-teman penggiat.

Pak Titut naik ke panggung pukul 21.00 WIB. saya bertugas memberikan pengantar di awal. Saya menyampaikan bahwa Pak Titut ini bukan seniman, tapi dia menemukan diri sejati yang otentik. Kemudian ia berkesenian sebagai wujud cinta kasihnya kepada alam dan sesama.

Pak Titut mengawali dengan sapaan sebelum kemudian menampilkan beberapa tembang. Tembang yang ia bawakan “Lele Dumbo Nyokot Tempe”, “Pacul Gowang”, “Karang Panginyongan” hingga “Sulasih Sulanjana”. Dengan bahsa khas kaum Penginyongan, Pak Titut menjelaskan tentang cowongan boneka batok kelapa yang ia bawa. Ini adalah warisan leluhur berupa ritual meminta hujan kepada Tuhan semesta alam. Sebuah ritual adat yang sekarang sudah punah.

“Saya bukan musryik, karena bermain cowongan. Saya hanya ingin melestarikan karya leluhur. Leluhur bisa mati, tetapi karyanya tak pernah mati,” sambung Pak Titut. Pak Titut sangat mengagumi mantra-mantra yang ada di dalam ritual Cowongan. Mengapa? Karena setelah Pak Titut meneliti, di dalam mantra tersebut terdapat kualitas sastra yang tinggi, selain itu juga penuh dengan ajaran cinta kasih kepada Tuhan, sesama, dan lingkungan alam.

Pak Titut berjasa mengenalkan ritual minta hujan dari Banyumas itu kepada generasi masa kini. Tidak hanya bagi anak muda di Banyumas, tetapi di berbagai kota di mana ia pentas, juga di luar negeri. Ia mengartikulasikan ritual ke dalam pertunjukan teaterikal yang sesuai dengan konteks zaman hari ini.

Dalam durasi sekitar satu jam hampir 90% percakapan menggunakan Bahasa Banyumasan. Saya yakin ada banyak orang yang tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Pak Titut. Namun yang bisa ditangkap dari jamaah, adalah betapa otentik, tulus dan total Pak Titut dalam menyambung hati dengan jamaah yang hadir. Energi keikhlasan dan kegembiran sudah pasti akan sampai di hati para Jamaah, melebihi sampainya bahasa.

Usai pementasan dan rehat sejenak di belakang, Pak Titut kembali ke panggung untuk membersamai narasumber yang telah hadir. Duduk di sebelahnya ada Bang Novel Baswedan, Penyidik senior KPK yang menjadi ikon perjuangan total memberantas korupsi. Terlebih hari itu sedang berlangsung rentetan peristiwa besar di KPK. Di sebelahnya lagi ada Syeikh Nursamad Kamba, Marja kita.

Dari Bang Novel, kita mendapat gambaran jelas bertapa krusialnya hari-hari ini termasuk perjuangan melawan musuh-musuh yakni mereka yang tidak nyaman dengan kerja KPK. Pak Titut ketika diberi kesempatan merespons, Ia menyampaikan hal yang tidak ndakik-ndakik. Intinya, kalau dari kecil sudah dibiasakan jujur, sudah besar tidak korupsi. Sembari beberapa ungkapan yang membesarkan hati Bang Novel serta lima pegawai KPK yang membersamainya hadir malam itu.

Pak Titut juga sempat merespons dengan lagu “Sing medeni setanne, jas-jasan karo dasian, nyolong duit trilyunan” (Yang menakutkan setannya, pakai jas dan dasi, mencuri uang triliunan). Ia membawakan sepenggal lagu “Jago Kluruk”, lagu ciptaannya sendiri yang sudah sangat sering ia nyanyikan di mana-mana.

Yang istimewa malam hari itu adalah karena lagu anti-korupsi itu dinyanyikan langsung dihadapan kawan-kawan pejuang para Punggawa utama KPK, tepat di hadapan Bang Novel Baswedan. Dan yang istimewa lagi adalah setelah lagu itu dinyanyikan, jamaah sontak bertepuk tangan dan bersorak dengan sangat-sangat keras. Entah berapa desibel, yang jelas moment itu adalah tepukan dan sorakan paling keras yang saya dengar malam hari itu. Sungguh menggetarkan.

Semoga penggalan lagu itu menjadi penguat perjuangan mereka. “Kalian semua berjuang bukan untuk KPK, tetapi untuk negara kita tercinta,” sahut salah seorang pegawai KPK yang ikut membersampai Bang Novel. Tensi ketegangan memang masih nampak di guratan wajah mereka. Ya, karena hari itu baru saja berlangsung demo dua kubu berhadap-hadapan di Gedung KPK, dan baru saja dilaksanakan prosesi pengembalian mandat dari para pimpinan KPK kepada Presiden, bentuk kejengkelan atas proses Revisi RUU KPK yang sedang berlangsung.

Acara terus berjalan, silih narasumber berganti bicara. Pun juga dengan respons-respons audiens. Tidak terasa menjelang pukul 04.00 dini hari sudah. Kenduri Cinta pun mencapai puncaknya. Entah berapa ribu jamaah yang hadir dan terus bertahan hingga penghujung acara untuk menyerap ilmu-ilmu yang dibungkus dengan kebahagiaan. Jamaah meninggalkan lokasi acara, sembari beberapa ikut bantu-bantu teman-teman Penggiat untuk bebersih sampah. Beberapa menyempatkan bersalaman dan meminta swafoto dengan Pak Titut. “Ternyata banyak orang Banyumas di Kenduri Cinta, Dik,” ujarnya. Alhamdulilah di sini kita sambung seduluran, tidak ikut dengan yang ada di luar sana mereka yang membuat congkrah.

Buku Cak Nun Majalah Sabana