Padhangmbulan, yang Menampung dan yang Ditampung

26 Tahun Padhangmbulan telah usai digelar. Sesuatu, entah apa itu, terasa kental mengendap. Kesan, citra, aroma, nuansa, getaran, hingga desir kebahagiaan yang misterius, berbisik-bisik di lorong sunyi. 

Lega rasanya saat diperkenankan oleh Allah menjadi bagian dari aliran sungai jariah Bani Muhammad desa Mentoro yang mengalir menuju Kasih Sayang dan Cinta-Nya. 

Dan rasa syukur kian melimpah manakala kita menyadari bahwa Padhangmbulan seperti “disirnakan”, “ditiadakan”, “difanakan” oleh Allah, sehingga mata negara belum atau bahkan tidak menatap keindahannya. 

Padhangmbulan dan Jamaah Maiyah bukan faktor, namun pada saat yang sama, adalah faktor bagi keberlangsungan keseimbangan sunnatullah. 

Mengawali pembukaan 26 Tahun Padhangmbulan, Mbah Nun berpesan, “Melihat sebuah pohon, jangan terpancang pada buah. Kita perlu menyadari faktor lain, seperti peran dan fungsi daun, ranting, batang hingga akar, tanah dan udara.”

Artinya, orang yang terobsesi melihat buah, hanya buah dan semata-mata buah, akan meniadakan faktor daun, ranting, batang, akar, dan sebagainya. 

Faktor yang ditiadakan lantas tidak menjadi benar-benar tiada. Ia tetap ada karena anggapan tidak ada itu dipicu oleh sedikitnya dua penyebab: myopia dan kesempitan yang dikenal sebagai cekak, ciut, dan cethek. 

Sekarang, kita tengah mengalami “buah” dari negara yang bukan negara. Pemerintah yang bukan pemerintah. Politik yang bukan politik. Pendidikan yang bukan pendidikan. Agama yang bukan agama. 

Kita bisa mencatat sejumlah sikap “buah-oriented”, bahkan hingga tingkat paling kecil dalam praktik keseharian. Atau kita bisa mencermati “buah” yang kini dituhankan manusia zaman now, yakni terkenal, kaya dan berkuasa.

Lantas, di tengah itu semua, Padhangmbulan berada di mana?Atau lebih spesifik: Padhangmbulan menampung atau ditampung?

Di hadapan sekulerisme dan materialisme Padhangmbulan pasti tidak terlihat. Tidak eksis. Tidak menampilkan gebyar. Tidak show of force. Atau memakai ungkapan Mbah Nun, mbembet. 

Bagi yang terpapar virus eksistensi media mainstream, pengajian rutin setiap malam bulan purnama ini dianggap sudah habis. Tidak eksis lagi. Seorang kawan pernah mengisahkan pertanyaan, “Pengajian Padhangmbulan masih ada ta, Mas?”

Cerita ini membawa kita pada poin berikutnya, yaitu dominasi. Ternyata, selain berhadapan dengan dominasi media, di mana Padhangmbulan tidak pernah “eksis” melalui tayangan televisi nasional, publik juga terpapar oleh dominasi politik, dominasi intelektual, serta sejumlah standar eksistensi dominasi lainnya.

Yang patut disyukuri adalah Padhangmbulan dan Majelis Maiyah tidak berambisi mendominasi apa pun atau siapa pun, sehingga tidak membuka peluang didominasi oleh apa pun atau siapa pun. 

Bahkan, berulang kali Mbah Nun menegaskan, manusia yang berkumpul di Majelis Masyarakat Maiyah atas izin dan perkenan Allah. Hanya kepada Allah dan Rasulullah tali dominasi ditambatkan.

Padhangmbulan tidak bisa dilihat melalui terminologi dominasi sekularisme. Padhangmbulan adalah ruang yang menampung. Stok kasih sayang Padhangmbulan bermata air dari sumber Rahman Rahim Allah dan welas asih Rasulullah yang ‘aziizunalaihi maa ‘anittum. 

Ruang yang tercipta di Padhangmbulan dan Maiyah adalah Milik-Nya juga.

Buku Cak Nun Majalah Sabana