PadhangmBulan Tidak Membesarkan PadhangmBulan

Sebelum saya diadili oleh Allah, Hakim Maha Jeli itu, saya harus membiasakan diri untuk mengadili diri saya sendiri.

Sebelum saya ditarap oleh para Malaikat kelak di ambang batas antara dunia dengan Akhirat, saya harus terus-menerus sinau untuk narap diri saya sendiri.

Ditarap itu bahasa populernya diinterogasi.

Kalau yang menginterogasi sesama manusia tidak sukar meladeninya. Manusia punya sangat banyak kelemahan.

Misalnya, yang diketahui oleh manusia tidak ada seperseribu dibandingkan yang tak diketahuinya. Ibaratnya: manusia tahu satu, tak tahu seribu.

Wong tentang dirinya sendiri saja manusia tidak banyak tahu, apalagi tentang diri saya atau manusia lainnya.

Dan kelemahan itu bisa jadi, malah membengkak justru tatkala manusia diposisikan sebagai –misalnya- polisi, tentara, jaksa dan lain sebagainya.

Bahkan kalaupun manusia yang menginterogasi saya itu hebat, serba tahu, memiliki referensi jangkep tentang hidup saya dan tentang apa yang saya lakukan sehubungan dengan interogasi ini – mereka masih punya kemungkinan lain.

Umpamanya, seseorang bisa kita giring untuk tidak menggunakan pengetahuannya dengan cara memberinya sogokan.

Seseorang bisa kita kondisikan untuk tidak sadar atas apa yang sebenarnya ia mengerti, dengan cara menyentuhkan energi tertentu di bagian saraf akalnya.

***

Alhasil, selama masih bernama manusia, masih bisa “diatur”.

Beda dengan Malaikat yang eksistensi dan fungsinya tunggal: ya’maluuna ma yu’maruun, mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan. Artinya, tidak mengerjakan apapun saja yang tidak diperintahkan oleh Tuhan.

Malaikat tidak bisa menyebut mangga adalah jambu, atas pertimbangan apapun—dari alasan ekonomi, politik sampai ewuh pekewuh kebudayaan. Malaikat hanya bisa mengatakan merah adalah merah.

Kalau kesalahan saya 1,5 kilogram, Malaikat tidak bisa saya pengaruhi untuk mengatakan kesalahan saya adalah 1,49 kilogram. Apalagi menghapuskan kesalahan saya ini sebagaimana banyak terjadi dalam pergaulan di antara manusia.

Terutama ketika di dalam sejarah manusia sudah ada possessiveness politik, keserakahan ekonomi, kesesatan kultural dan kejahiliyahan ilmu mengenai diri manusia sendiri dan hakekat keidupan.

***

Jadi, sebelum saya nyahok alias nyuklun atawa loro wagu ketika kelak di-congklok oleh Malaikat dan apalagi Allah langsung, maka salah satu pekerjaan utama saya adalah mentradisikan interogasi dan proses peradilan atas diri saya sendiri.

Misalnya tentang (pengajian) Padhang mBulan, saya bombardir diri saya sendiri kapan saja saya ingat, siang atau malam, dalam keadaan berjaga maupun terkadang dalam kondisi tidur.

“Ndut.” Begitu diri saya ini biasa dipanggil di Menturo sejak masa kecil saya, “kamu akan besarkan Padhang mBulan sampai seberapa?”

Diri saya agak kaget dan heran oleh pertanyaan saya.

“Dibesarkan bagaimana maksudmu?”

“Ya dibesarkan. Sebagai kelompok pengajian. Sebagai semacam pesantren. Atau setidaknya sebagai sebuah institusi sejarah.”

Diri saya tampak agak bingung, tapi ia berusaha menjawab dengan sabar.

“Kalau disebut pesantren ya bukan dong, meskipun yang namanya pesantren tidak harus diformulasikan melalui bentuk schooling, kurikulum, santri muqim beberapa tahun, ada kiai permanen dan benar-benar kiai. Pesantren itu yang penting suatu wadah dan momentum di mana orang saling mengaji, saling belajar dan saling menolong satu sama lain di bidang apapun saja yang diridhoi oleh Allah. Mekanismenya boleh pakai tahun ajaran, boleh satu kali thok ketemu seumur hidup. Tapi bagaimanapun kalau kita berpikir tradisional dan konvensional, Padhang mBulan ini tidak memenuhi syarat untuk disebut pesantren, apalagi saya bukan kiai. Kalau Cak Fuad masih lumayan kiai dibanding saya!”

***

Saya coba kejar lagi:

“Saya tanya tentang membesarkan Padhang mBulan kok kamu memfokuskan pembicaraan ke soal pesantren. Nylimur ya?”

“Ah. Sampeyan ini kayak ndak tahu saja. Setiap titik di permukaan bumi ini bisa kita masuki untuk sampai ke pusat bumi. Jadi pembicaraan apapun sesungguhnya bersifat multi fokus….”

“Lho, saya omong jangan mengalihkan fokus kok kamu malah mengalihkan fokus ke masalah tentang fokus!”

“Karena untuk sampai soal “besar” atau “membesarkan”, kita harus memperhatikan berbagai titik tema yang lain serta harus berjalan melalui garis yang bisa membawa kita kepada soal itu secara lebih matang…”

“Jangan ruwet-ruwet”, saya bentak diri saya. “Jawablah masalah membesarkan Padhang mBulan itu!”

“Gimana sih. Semua yang saya omongkan tadi itu juga dalam rangka menjawab soal membesarkan Padhang mBulan. Sejauh ini saya menanggapi Sampeyan dengan hampir sama sekali tidak menyentuh masalah membesarkan Padhang mBulan, karena di dalam otak dan hati saya memang tema seperti itu sama sekali tidak ada….”

***

Saya tidak putus asa. Saya kejar terus diri saya.

“Tidak ada bagaimana? Mosok kamu tidak ingin membesarkan Padhang mBulan? Kan lembaga-lembaga lain, kelompok-kelompok lain, apalagi bertujuan untuk syiar dan tolong-menolong di antara sesama hamba Allah, selalu punya cita-cita luhur untuk membesarkan dirinya!”

“Apanya yang dibesarkan?” diri saya bertanya.

“Lho di mana-mana ada lembaga-lembaga besar dan ada yang kecil. Ada pesantren besar ada yang kecil. Ada jumlah pengajian besar ada yang kecil. Ada jamaah pengajian besar dan ada yang kecil. Lha Padhang mBulan ini bagaimana?”

“Ya tidak gimana-gimana.”

“Apa Padhang mBulan memang bercita-cita untuk membesarkan namanya?”

Diri saya tertawa cekakakan.

“Padhang mBulan membesarkan namanya? Untuk apa nama dibesarkan? Yang besar hanya Rasulullah Saw. Yang Akbar hanya Allah. Lainnya semu dan kerdil. Wong urusan kok membesarkan nama. Urusan itu ya bagaimana taat kepada Allah dan saling tolong-menolong di antara sesama hamba-hamba-Nya. Itu baru urusan. Belum tahu dia!”

“Ah, kamu ini sok filosofis!” kecam saya kepada dirinya, “Mbok ya yang wajar-wajar saja. Setiap manusia dan apapun saja yang diupayakannya selalu berada dalam orientasi untuk punya nama besar, nama baik, citra positif dan lain-lain.”

“Mohon maaf, begitu itu cara berpikir sekunder namanya. Cara berpikir primer adalah keselamatan di depan Allah Swt….”

***

Kali ini malah saya yang membombardir saya.

“Padhang mBulan ini”, katanya, “tidak ada urusannya dengan kekecilan atau kebesaran, kalau ada tema tentang besar dan kecil, setiap makhluk Allah ini memiliki kebesaran dan kekecilannya masing-masing, tanpa harus diperbandingkan satu sama lain. Kenapa katak engkau bilang kecil dan sapi itu besar? Apakah engkau menyarankan agar katak minum pil pembengkak badan sehingga kelak ia bisa sebesar sapi? Katak dan sapi memiliki eksistensi dan maqam-nya sendiri-sendiri. Soto dan rawon memiliki keistimewaan dan kelemahannya masing-masing.”

Diri saya terus membombardir.

“Padhang mBulan tidak terlibat dalam konstelasi di mana ia lebih kecil atau lebih besar dibanding lainnya. Padhang mBulan tidak superior atau inferior atas siapapun. Padhang mBulan tidak unggul atau kedhisor oleh apapun dan siapapun. Padhang mBulan bukan hanya tidak mengurusi kebesaran dirinya atau namanya, tapi juga sudah sangat terbatas waktunya untuk mengurusi hal-hal yang lebih mendasar dan lebih primer dibanding soal kebesaran nama.”

Ia meneruskan tanpa henti.

“Yang menjadi urusan Padhang mBulan bukan siapa hebat dan siapa sakti. Melainkan apakah silaturahmi bulanan ini bisa mempertemukan formula kemashlahatan di antara para jamaah, baik di bidang ekonomi, politik, budaya atau apapun saja yang menjadi kebutuhan mendasar manusia hidup. Silahkan sampeyan merancang pendirian dengan seksama di medan Padhang mBulan secara langsung…”

(Tabloid Padhang mBulan, Jumadil Akhir 1418 H/Agustus 1997)

Buku Cak Nun