Padhangmbulan: Mensyukuri Momentun Pengajian Lintas Generasi

Catatan Majelis Maiyah Padhangmbulan, 14 April 2019, Bagian 1

Pengajian Padhangmbulan maju dari jadwal rutin. Hari ini Ahad, 14 April 2019, jamaah kembali melingkar dalam Majelis Masyarakat Maiyah Padhangmbulan.

Sejak pagi beberapa pegiat Simpul Maiyah dari berbagai kota telah hadir di Mentoro. Sebelum mengikuti Pengajian Padhangmbulan mereka mengikuti acara bertajuk Syukuran ‘Ajibah Maiyah. Yang hadir bukan hanya para pegiat simpul–para Marja’ Maiyah dan kamituwo, para sahabat Mbah Nun yang usianya tidak muda lagi, hadir bersama anak-anak muda, duduk bersama dalam satu majelis.

Ada apa gerangan? Syukuran ‘Ajibah Maiyah adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt atas segala bentuk anugerah, hidayah dan keajaiban yang menaungi Maiyah. Berlangsung sejak pukul satu siang hingga pukul sepuluh malam, lalu dilanjutkan dengan Pengajian Padhangmbulan, tidak berlebihan kiranya jika momentum kali ini merupakan momentum pertemuan lintas generasi untuk yang kesekian kali di Padhangmbulan.

Pengajian malam ini adalah pertautan anak cucu Maiyah dengan para kamituwo, para sesepuh dan sahabat yang menemani perjalanan Mbah Nun.

Setelah dibuka shalawat oleh Mbak Yuli dan Lemut Samudro, Kyai Muzamil dan Habib Anis menyapa jamaah yang memadati area Padhangmbulan bahkan sejak usai shalat Isya. Kyai Muzamil menyampaikan mukadimah yang menekankan pentingnya bersikap seimbang. Menyejukkan, mengayomi, menampung merupakan sikap dasar Maiyah yang kembali dielaborasi oleh Kyai Muzammil.

Habib Anis menyambung, persoalan keseimbangan bukan hanya terkait dengan alat vital. Faktanya, menurut Habib Anis, daerah yang berada di tengah, yang dilewati garis khatulistiwa adalah daerah paling subur di dunia. Syekh Mahmud Saltut bahkan mengungkapkan kesuburan nusantara adalah penggalan tanah surga.

Berangkat dari prinsip keseimbangan Habib Anis membabar kesadaran berpikir secara seimbang dalam berbagai aspek dan dimensi. Salah satunya, menyadari kenyataan zawjain, dunia diciptakan secara berpasangan. Bersikap wasathan, berada di posisi yang tepat akurasinya, pas presisinya, bijaksana output-nya merupakan buah dari proses mengolah diri menggapai cakrawala liutammima makaarimal akhlaq.

Habib Anis berpesan, “Mulailah menata keseimbangan dalam diri kita.” Seimbang antara kholqy (badan fisik) dengan khuluqy (badan halus), sebagaimana doa yang kerap kita baca saat bercermin.

Duet antara Kyai Muzammil dengan Habib Anis menemukan gatukan temanya secara alamiah dan spontan. Keduanya menekankan pentingnya bersikap wasathan (tengah-tengah). Istilah yang kerap digunakan Mbah Nun, sebagaimana diungkapkan Al-Quran adalah laa syarqiyyah wa laa gharbiyyah.

Ketika kita istiqamah dan terus berusaha menyeimbangkan diri, maka bersiaplah menemukan anugerah ‘ajibah dari Allah Swt.

Buku Cak Nun