Padhangmbulan Membuka Pintu Kebijaksanaan

Liputan Majelis Maiyah Padhangmbulan, 21 Maret 2019

Padhangmbulan kembali hadir. Kamis Kliwon malam Jumat Legi, 21 Maret 2019, jamaah Padhangmbulan melingkar di Majelis Ilmu Maiyah. Cuaca malam yang dingin dan hujan di beberapa lokasi tidak menyurutkan niat. Parkir motor di halaman SMK Global tampak padat.

Di belakang panggung kawan-kawan dari Lemut Samudro mempersiapkan diri untuk melayani jamaah. Musik shalawat akan mengisi sesi pengajian. Sementara di panggung utama santri TPQ Halimatus Sa’diyah menyapa jamaah dengan musik terbangan dan lantunan shalawatan.

Pukul 21.30 WIB Bapak Abdullah Qayim membuka pengajian. Tadarus Al-Qur`an dibaca dengan langgam khas yang mengingatkan kita akan suasana darusan zaman dahulu. Beberapa jamaah menyalakan handphone, ikut nyemak, dan beberapa yang lain ikut membaca. Surat Al-Kahfi dibaca dengan tartil.

Dari sisi panggung saya mengamati wajah-wajah Maiyah. Rata-rata mereka adalah anak-anak muda, generasi milenial, yang entah datang dari sudut kota dan daerah sebelah mana. Satu yang pasti, malam ini mereka tampak sumringah. Ada kepasrahan dan ketulusan yang tercermin dari wajah mereka serta sikap legowo untuk saling berbagi tempat.

Entah, saya kok tiba-tiba merasakan ada yang tengah mengendap dalam akal dan hati teman-teman jamaah. Dan mohon tidak dibayangkan penampilan mereka layaknya kaum santri, meski ada pula teman-teman santri di antara jamaah. Padhangmbulan merangkul, memangku, mempersaudarai siapa saja sebagai sesama makhluk dan hamba Allah. Paseduluran ini sungguh menerbitkan rasa bahagia.

Lemut Samudro sudah standby di panggung. Bacaan surat Al-Fatihah untuk para Marja’ Maiyah dan keluarga jamaah dilantunkan bersama-sama. Disambung dengan Wirid Padhangmbulan–suasana malam ini benar-benar mengendap dalam kepasrahan. Lagu “Duh Gusti” menegaskan tekad dalam memproses diri mudah-mudahan lulus menjadi manusia, lulus sebagai hamba Allah, lulus sebagai khalifatullah.

Duh Gusti mugi paringo
ing margi kaleresan
Kados margining menungso
kang panggih kanikmatan
Sanes margining menungso
kang paduko laknati

Padhangmbulan membuka pintu ilmu, pintu kesadaran, pintu keseimbangan, pintu kebijaksanaan. Malam ini, Bismillah, kita sedang memasukinya.

Buku Cak Nun