Padhangmbulan: Kangen, Krasan dan Otentik

Catatan Pengajian Padhangmbulan, Mentoro, Sabtu, 14 September 2019

Keluarga Mbah Nun di Mentoro berduka. Ibu Khoirotin binti Abdul Hamid berpulang pada Kamis (12/9/2019). Beliau adalah istri Bapak Miftach Assurury, kakak Mbah Nun.

Setelah shalat Isya’, Sabtu (14/9/2019), sebelum pengajian Padhangmbulan dimulai, warga desa Mentoro berkumpul di Sentono Arum. Tahlil dan doa dibaca. Acara kirim doa akan berlangsung hingga hari Selasa depan.

Cak Nas, mewakili keluarga, menyampaikan terima kasih atas kehadiran warga Mentoro dan jamaah Padhangmbulan yang turut mendoakan Ibu Khoirotin.

Usai mengikuti tahlil di Sentono Arum, saya menuju ndalem kasepuhan. Selain untuk kulonuwun, bersalaman dengan Cak Fuad dan Cak Dil, biasanya akan ada panduan mengenai tema pengajian Padhangmbulan.

“Coba digali lagi lebih dalam mengapa jamaah hadir di Padhangmbulan,” saran Cak Dil. Saya jadi teringat, tahun ini, Padhangmbulan telah berjalan selama 26 tahun.

Cak Fuad menambahkan, dialog bersama jamaah tetap bermuara kepada terminologi Manusia Nilai, Manusia Pasar dan Manusia Istana.

Gayung bersambut. Cak Dil menawarkan idiom passion sebagai pintu masuk untuk mendalami terminologi tiga komposisi manusia tersebut.

“Pertanyaannya bukan lagi bagaimana cara menemukan passion, tapi mengapa anak-anak zaman sekarang semakin sulit mengenali dirinya?” tanya Cak Dil.

Jamaah memenuhi area pengajian Padhangmbulan. Pukul 21.00 Bapak Abdullah Qoyim membuka tadarus Al-Quran. Teman-teman Lemud Samudro mengiringi bacaan Wirid Padhangmbulan.

Saya menyaksikan sorot mata bahagia sekaligus rindu terpancar dari wajah jamaah. Tidak perlu menyampaikan pengantar yang berkepanjangan, saya segera mempersilahkan jamaah naik ke panggung.

Malam ini kita setia dan menyetiai bahwa ini majelis kita bersama. Sinau Bareng melalui jalinan komunikasi yang dihidupi oleh kebersamaan, kemesraan, keindahan seraya menjaga prinsip bebrayan.

Jamaah langsung sigap menyampaikan respon. Sembilan orang duduk di panggung. Saya mencatat satu persatu respon mereka. Bahkan, Cak Dil menyilahkan mereka mengutarakan kegelisahan, terutama mengenai passion tadi.

Buku Cak Nun