Padhangmbulan, Gembira dalam Kesunyian

“Kalau kamu datang ke sini tidak merasakan kegembiraan, muliho wae (pulang saja)”. Begitulah yang diungkapkan oleh Cak Nun di Kenduri Cinta edisi Oktober tadi malam, atau dinihari tadi? Selalu saja ketika Maiyahan, kita sering lupa waktu. Saking asiknya kita Sinau Bareng, kita tidak sadar telah melewati pergantian hari di tengah malam. Karena kita bergembira bersama di Maiyah.

Kalau kita tidak gembira, untuk apa kita datang ke Maiyahan. Coba sejenak kita berkaca pada diri kita sendiri, betapa kita memiliki beban hidup yang berat, dan setiap orang memiliki beban yang berbeda-beda. Tetapi, seberat apapun beban hidup persoalan yang kita punya, akan terasa ringan ketika kita datang ke Maiyahan. Sudahlah, tak usah berpura-pura, itu yang kita rasakan memang ketika Maiyahan.

Apakah ketika kita pulang dari Maiyahan lantas persoalan hidup kita menjadi beres? Tentu saja tidak. Memangnya Maiyah ini Departemen Sosial? Tentu saja bukan. Dan sepulang kita Maiyahan, masalah hidup kita akan kita hadapi lagi. Tetapi, selalu saja ada energi yang baru yang kita dapatkan setelah kita datang ke Maiyahan. Di Kenduri Cinta, sudah banyak saya mendengar cerita, banyak jamaah yang datang baru pulang dari kantor, langsung ke Taman Ismail Marzuki pada Jumat pekan kedua. Tidak sedikit pula yang keesokan harinya masih harus masuk kerja, malam itu mereka menghabiskan malam di Kenduri Cinta. Belum lagi mereka yang datang dari jauh, bukan hanya luar kota bahkan luar pulau. Maiyah sudah dianggap sebagai oase bagi kita semua. Dan kegembiraan yang kita rasakan selama ini di Maiyahan itu bermula pada sebuah malam, 26 tahun yang lalu, di Menturo, Sumobito, Jombang.

Padhangmbulan. Atas inisiatif Cak Dil, saat itu keluarga besar Cak Nun merasa kangen dengan Cak Nun. Tetapi, jadwal Cak Nun begitu padat. Singkat cerita, Cak Dil dan keluarga besar di Menturo sepakat untuk membikin sebuah forum majelis ilmu; Padhangmbulan. Secuplik sejarah Padhangmbulan bisa teman-teman baca pada tautan ini; Padhangmbulan, Pohon Rindang.

26 tahun sudah Padhangmbulan berproses. Embrio itu kini melahirkan lingkaran-lingkaran majelis ilmu yang lain. Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, Kenduri Cinta, Bangbang Wetan dan puluhan titik simpul Maiyah yang lahir atas kejernihan dan kemurnian sumur ilmu Padhangmbulan kini tersebar di berbagai daerah. Sebagai Ibu, Padhangmbulan telah mengalami dinamika yang beragam. Pada satu masa, Desa Menturo di malam purnama dipenuhi oleh lautan manusia. Puluhan ribu orang datang ke forum majelis ilmu ini. Apakah ini sebuah kehebatan? Apakah ini sebuah kebanggaan dan prestasi? Sama sekali bukan.

Dua dekade silam, persebaran informasi tidak semudah hari ini. Bagaimana kemudian orang-orang yang datang bahkan berasal dari daerah yang sangat jauh dari Menturo. Budaya getok tular di masyarakat saat itu masih sangat kuat. Jangan membayangkan ada media sosial seperti hari ini. Bahkan pilihan moda transportasi saja masih sangat terbatas pada saat itu. Tidak berlebihan kiranya jika orang yang paling berjasa adalah Cak Dil. Andaikan Cak Dil tidak memiliki inisiatif untuk membikin sebuah forum majelis ilmu Padhangmbulan pada medio Oktober 1993 silam, mungkin kita tidak akan merasakan kegembiraan ber-Maiyah seperti hari ini.

Dan kita bergembira di Padhangmbulan dan juga Maiyahan di berbagai tempat lain. Pada setiap Maiyahan dihelat, kita mengkhususkan hari itu sebagai hari yang spesial. Kita semua datang, kemudian duduk bersama, sinau bareng, srawung, khusyuk, setia hingga akhir acara. Saling mengamankan satu sama lain, saling menjaga martabat satu sama lain. Maiyah menjadi sebuah panggung sunyi yang jauh dari keriuhan dan keramaian Indonesia. Tetapi, kita bergembira di Maiyah. Kita bergembira dalam kesunyian Maiyah dari hiruk pikuk Indonesia.

Dan kenapa kita bergembira di Maiyah? Pada tulisan sebelumnya, saya menyebut bahwa Jamaah Maiyah adalah orang yang mengikatkan diri ke Maiyah bukan diikat oleh Maiyah. Namun demikian, melalui Syeikh Nursamad Kamba saya diingatkan untuk mentadabburi Surat Al Kahfi ayat 14; Wa robathna ‘alaa quluubihim idz qoomuu faqooluu robbuna robbu-s-samaawaati wa-l-ardli lan nad’uwa min duuniihi ilaahaa, laqod qulnaa idzan syathothoo. Dari ayat tersebut, Allah mengingatkan bahwa yang memiliki peran untuk mengikat hati kita bukan hanya kita semata, tetapi juga ada peran Allah di dalamnya.

Itulah hidayah Allah. Dan ketika hidayah Allah kompatibel dengan apa yang ada di dalam diri kita, maka produknya adalah kebaikan. Maka, kegembiraan yang kita alami bersama di Maiyah pun akan menghasilkan kebaikan.

Tema khusus untuk 26 Padhangmbulan kali ini; Dholuman Jahula. Sebuah peringatan bagi kita, melalui Surat Al Ahzab ayat 72, Allah menutup ayat tersebut dengan sebuah peringatan keras. Bahwasanya manusia adalah makhluk yang dholim dan sangat bodoh.

Padhangmbulan sebagai sumur ilmu, mata air khasanah keilmuan kita di Maiyah menjadi sumber ilmu. Salah satu ijtihad utama di Maiyah adalah peneguhan kembali tauhid kita. Meneguhkan kembali jati diri kita, agar kita menemukan pijakan agar tidak salah langkah, agar tidak melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kita lakukan. Ijtihad kembali kepada tauhid ini pula adalah sebuah proses kita untuk menemukan siapa diri kita sesungguhnya, dan apa peran yang sebenarnya harus kita lakonkan di dunia ini, sesuai dengan kehendak Allah.

Selamat ulang tahun, Padhangmbulan. Panjang umur untuk “Ibu” kita semua.

Buku Cak Nun