Padhangmbulan dan Pengembaraan “Manusia Esai”

Sejak usai mengikuti pengajian Padhangmbulan pada Sabtu (14/92019) lalu, ada yang masih mengganjal di pikiran. Di sela diskusi singkat, Cak Dil menyampaikan saran, “Coba digali lagi lebih dalam mengapa teman-teman mengikuti pengajian Padhangmbulan?”

Pertanyaan itu, kini, masih mengusik saya. Mengapa saya datang ke pengajian Padhangmbulan? Dihitung mundur, Padhangmbulan sudah berjalan tiga tahun ketika saya hadir pertama kali pada 1996-an.

Tidak banyak yang saya ingat kala itu. Jalan menuju desa Mentoro belum diaspal. Debu beterbangan sepanjang jalan menuju Mentoro. Pengajian Padhangmbulan digelar di teras mushola. Jamaah yang hadir tidak begitu padat. Kemudian penuh sesak menjelang Reformasi 98.

Pengajian tafsir Cak Fuad menjadi menu wajib. Ayat per ayat diterangkan secara detail. Mulai arti kata, terjemah, tafsir, asbabun nuzul hingga pemaknaan secara kontekstual. Pemaknaan yang terakhir ini dilanjutkan oleh Mbah Nun usai Cak Fuad menuntaskan tafsirnya.

Saya mencoba mengingat pemaparan Mbah Nun lebih detail. Namun, yang muncul justru citra esai yang saya baca pada buku Indonesia Bagian Dari Desa Saya, atau Dari Pojok Sejarah.

Lalu berturut-turut Sastra yang Membebaskan, Sesobek Buku Harian Indonesia, Secangkir Kopi Jon Pakir, mengisi masa dua tahun pertama saya nyantri di kota Malang.

Tidak kalah merebut perhatian adalah Markesot Bertutur. Ini buku entah saya baca berapa puluh kali. Selalu ada yang baru. Nuansa, bisikan, rasa, mutiara, cakrawala, nongol di ruang kesadaran saat menyelami kalimat demi kalimat.

Meski berulang kali membacanya, kata-kata, ucapan, perilaku hingga kegilaan Markesot menjadi spirit yang tidak pernah selesai. Bagaimana tidak, jika logika dan imajinasi, akal dan rasa, langit dan bumi, dunia dan akhirat bertemu dalam kosmos kesadaran yang wahid.

Spirit “Markesot” mulai saya waspadai, mengingat saat itu saya nyantri dan tinggal di pesantren. Untungnya, iklim pesantren saya cukup terbuka dan egaliter. Atmosfer ini membawa saya pada buku-buku Mbah Nun berikutnya, sambil tetap mengaji kitab-kitab khas pesantren.

Barangkali spirit itu pula yang membawa saya ke Padhangmbulan. Semacam pengembaraan di mana pintu gerbang yang terbuka itu diawali dengan persentuhan esai dan sastra yang ditulis Mbah Nun.

Pengembaraan manusia esai, demikian tiba-tiba saya mendapat idiom, berlangsung hingga sekarang. Pengembaraan dengan pasang surut, dinamika, dialektika, dan ini semua bergetar mengalir dalam jalinan syariat, thariqah, shirath sebagai “manusia esai”.

Latar belakang kehadiran seseorang di Padhangmbulan bukan faktor tunggal. Sebagaimana seorang manusia juga bukan “makhluk-mono”. Latar belakang sosiologi, budaya, psikologi, politik, atau pendidikan belum mampu memotret secara jernih dan adil. Kendati semua faktor itu memberikan andil pada konteksnya masing-masing.

Bagaimana kita memahami kompleksitas itu? Mbah Nun punya formula.

Al-Muthahharun itu artinya orang-orang yang mendapat pencerahan. Orang-orang yang  disucikan oleh Allah.

Barangsiapa belum disucikan oleh Allah dia tidak akan bisa bersentuhan dengan Maiyah. Kalau orang datang bermaiyah seperti Anda, berarti Anda sebelum datang ke sini, sudah disucikan oleh Allah.”

Formula tersebut pasti bukan formula tunggal. Ada anasir-anasir, unsur-unsur, bagian-bagian, sub-bagian-sub-bagian yang mengutuh. Maiyah mempersembahkan keutuhan.

Utuh antara makna denotasi dan konotasi, dunia dan akhirat, bumi dan langit, substansi dan wadah, jasad dan roh, dan seterusnya. Maiyah adalah cahaya: laa syarqiyyah wa laa gharbiyyah. Karena itu, dia suci dan disucikan.

Siapakah yang menyucikan Maiyah? Pasti Allah, dan pasti bukan kita. Allah menjadi satu-satunya Yang Maha Menyucikan (Al-Muthahhir). Sedangkan kita adalah pihak yang disucikan (Al-Muthahharun).

Benar apa yang didawuhkan Mbah Nun. Maiyah bukan produk Beliau, karena Maiyah itu suci, yang diciptakan dan dijaga kesuciannya oleh Allah Yang Maha Menyucikan.

Dan kita adalah pengembara yang memproses diri, menyubjeki diri, memantaskan diri, mengolah diri, baik individual maupun komunal, agar pantas disucikan Allah. Kita adalah subjek yang objek, dan objek yang subjek.

Kita bukan manusia suci, bukan manusia baik, bukan manusia mulia sehingga kesanggupan kita adalah memuliakan makhluk Tuhan.

Padhangmbulan, sebagaimana Majelis Maiyah yang lain, bukan hanya menampung manusia. Angin, debu, batu, air, penjual kopi, juru parkir ditempatkan pada maqam yang mulia dan suci.

Jagalan 190919

Buku Cak Nun