Orientasi Hidup

“Dan raihlah akhirat dengan segala anugerah yang telah Allah berikan kepadamu, dan jangan lupa bagianmu di dunia. Berbuatlah ihsan sebagaimana Allah telah berbuat ihsan kepadamu, dan janganlah berbuat kerusakaan di bumi, sungguh Allah tidak suka kepada para perusak” (Al-Qashash: 77)

Pandangan dan orientasi hidup manusia menentukan sikap, perilaku, dan keputusan-keputusan yang diambilnya dalam kehidupan. Ada orang yang orientasi hidupnya dunia semata, seperti Qarun yang hidup di zaman Fir’aun. Ketika diingatkan untuk membagi hartanya kepada orang lain dia menolak dengan alasan bahwa kekayaannya belum cukup dan harta yang dimilikinya itu adalah hasil usahanya sendiri, hasil kerja keras dan keringatnya sendiri. Ada pula yang orientasi hdupnya akherat semata, seperti tiga orang di zaman Rasulullah. Yang pertama bertekad untuk melakukan sholat sepanjang malam selama hidupnya, yang kedua akan melakukan puasa terus menerus sepanjang umurnya, dan yang ketiga tidak akan menikah sepanjang hidupnya karena hal itu akan mengganggu konsentrasi ibadahnya.

Allah Swt melalui firman-Nya di atas dan ayat-ayat lainnya memberikan petunjuk mengenai orientasi hidup yang seimbang, yaitu orientasi hidup akherat tanpa melupakan dunia. Jadi al-ghayatul qushwa atau tujuan akhir hidup manusia memang akhirat, tapi jangan lupa bahwa manusia juga boleh menikmati bagiannya di dunia. Rasulullah Saw memberikan nasihat kepada tiga orang yang diceritakan di atas dengan bersabda: “Aku adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tapi aku tetap tidur di malam hari, makan di siang hari, dan tetap menikah”.

Kalimat “dan jangan lupa bagianmu di dunia” ini berbentuk larangan, tapi dalam surat Al-Hasyr 18 Allah mengingatkan kita semua sebagai orang-orang beriman agar berorientasi ke masa depan. “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri melihat apa yang sudah dia siapkan untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahu sedetail-detailnya apa yang kalian lakukan”.  Hari esok dalam wacana Al-Qur`an bukan hanya dalam hitungan hari, bulan atau tahun bahkan kurun, tapi menembus keluar batas kehidupan dunia sampai di akhirat. Jadi hari esok kita adalah akhirat kita. Masa depan kehidupan kita adalah kehidupan akhirat, yang dimulai dengan hari kiamat. Dan hari kiamat itu adalah hari perhitungan atau yaumul hisab.

Di yaumul hisab itu manusia ditanya atau diminta pertanggungjawaban tentang empat hal yang paling mendasar. Pertama tentang umurnya dengan apa dia mengisinya, untuk sesuatu yang bermakna atau sesuatu yang sia-sia. Diisinya dengan amal baik atau amal buruk, dengan kegiatan yang membawa kemanfaatan kepada sesama manusia atau membawa kemadharatan.

Kedua, tentang jasadnya untuk apa dia gunakan. Kemana kakinya melangkah, menuju sorga atau neraka. Tangannya digunakan untuk membangun atau merusak, matanya, telinganya dan semua anggota badannya, digunakan untuk kebaikan atau keburukan.

Ketiga, tentang ilmunya, apa yang dia lakukan dengannya. Untuk menerangi atau menggelapi, untuk mencerdaskan atau membodohi dan membodohkan. Untuk meluruskan yang bengkok atau membengkokkan yang lurus. Untuk membela kebenaran dan keadilan atau untuk mendukung kepalsuan dan kezaliman.

Keempat, tentang hartanya bagaimana dia memperolehnya dan untuk apa dia gunakan. Diperoleh dengan cara halal atau haram, digunakan untuk kemanfaatan atau kemadharatan. Termasuk dalam hal keempat ini adalah jabatan atau kekuasaan, bagaimana kamu memperolehnya, dengan cara yang haq, benar, sesuai dengan hukum dan akhlak yang mulia, atau dengan cara yang bathil, tidak sesuai dengan aturan dan akhlak yang tercela. Dan setelah jabatan atau kekuasaan itu digenggam, untuk apa kamu gunakan. Untuk membangun kejayaan umat dan bangsa atau untuk membangun kejayaan pribadi, keluarga, dan golongan.

Inilah empat hal yang perlu direnungkan oleh setiap manusia, karena tidak seorang pun yang bisa melepaskan diri dari pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Adapun pesan kedua yang terdapat dalam firman Allah di atas adalah, “Berbuatlah ihsan sebagaimana Allah telah berbuat ihsan kepadamu”. Hidup di dunia ini adalah masa manusia menanam, sedangkan di akhirat adalah masa kita mengetam. Maka Allah memberikan petunjuk kepada manusia agar memperbanyak berbuat ihsan selama hidup di dunia. Kata ihsan sengaja tidak diterjemahkan dengan kebaikan, karena ihsan lebih dari sekadar kebaikan.

Ihsan adalah kebaikan luar biasa. Memberi lebih dari kewajiban, mengambil kurang dari hak itulah ihsan. Mengendalikan amarah dan memaafkan adalah contoh lain dari ihsan. Dalam ayat ini, manusia diperintahkan untuk berbuat ihsan sambil diingatkan bahwa Allah pun berbuat ihsan kepada mereka. Allah memberikan rezeki kepada semua manusia, baik yang beriman maupun yang tidak, kepada orang yang menyembahnya atau tidak menyembahnya. Jika manusia berbuat ihsan, maka ihsan Allah kepada mereka pun akan dilipatgandakan.

Pesan ketiga, “Dan janganlah berbuat kerusakaan di bumi”. Melakukan kerusakan adalah kebalikan yang sangat jauh dari melakukan ihsan. Ada orang yang secara sadar melakukan kerusakan, tapi ada yang melakukan kerusakan tapi tidak sadar bahwa dia melakukan kerusakan. Dalam surat Al-Baqarah 11-12 Allah Swt menggambarkan salah satu sifat orang-orang munafik adalah “Jika dikatakan kepada mereka janganlah kalian melakukan kerusakan di bumi. Mereka menjawab: kami justru membangun, bukan merusak. (lalu Allah menegaskan) tidak, mereka telah merusak tapi tidak merasa”. Inilah yang sedang melanda negeri kita dewasa ini. Semua merasa melakukan kebaikan untuk rakyat, bangsa dan negara, padahal sebenarnya telah melakukan perusakan yang luar biasa terhadap sendi-sendi kebangsaan dan nilai-nilai kebaikan. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita semua terutama kepada mereka yang sedang memegang kekuasaan di negeri ini.

Buku Cak Nun