Orang-Orang Kalah

Bernas, 2 Maret 1991

Tak ada orang menang, melainkan hanya orang kalah yang mendatangi Mas Dukun.

Orang kalah. Orang yang dikalahkan. Oleh siapa?

Oleh orang lain. Oleh kehidupan, yang tikaman pisaunya amat menyakitkan. Oleh kekuasaan, yang datang dari luar dirinya.

Oleh bermacam-macam kekuasaan: kegagalan mencapai cita-cita, kengerian terhadap ketidakmenentuan hari depan, istri yang menyeleweng, suami yang kejam, orangtua yang memperalatnya, raksasa bisu yang menggusur tanahnya, sistem-sistem dalam putaran sejarah yang membuatnya tidak saja gagal memperoleh kelayakan hidup, tapi bahkan menenggelamkannya ke garis minus kehidupan.

Garis minus kehidupan itu bisa berupa kefakiran ekonomi, hilangnya pilihan-pilihan untuk melangkah, atau ketertekanan psikologis yang membuat seseorang tak lagi menggenggam dirinya sendiri dalam kekuasaannya.

Orang-orang kalah terkatung-katung—tidak saja—dalam ketiadaan harapan, tapi bahkan dalam kepungan ancaman-ancaman.

Mas Dukun sering bertanya: Kenapa engkau lari kepadaku? Apakah engkau berpikir aku memiliki sesuatu untuk sanggup membebaskanmu dari kurungan itu?

Sebagian orang kalah menjawab: Kami tidak mencari pahlawan, Mas Dukun, melainkan sekadar haus terhadap sahabat. Kami tidak menuntut agar dipindah dari kekalahan ke kemenangan, tetapi setidaknya kami mempunyai sahabat di dalam kekalahan.

Mas Dukun lama-lama menjadi tahu: ada banyak “keranjang sampah” bagi “manusia sampah” yang dikalahkan—tetapi tidak cukup.

Ada ahli kejiwaan bagi yang memerlukannya. Ada kiai-kiai saleh dan bijak. Ada organisasi bantuan hukum. Tetapi mereka sesungguhnya bukanlah pihak yang paling nomor satu mengemban kewajiban untuk menampung mereka.

Di file kategori mana engkau menyimpan kenyataan di mana ribuan penduduk yang beragama Islam—yang tanah dusunnya dibeli secara paksa dengan harga yang tak memadai—ditolong dan ditemani tidak oleh seorang kiai atau ulama atau lembaga Islam mana pun, melainkan oleh seorang Romo? Bahkan Romo ini pula yang mengantarkan mereka keliling mencari muballigh bagi acara keislaman mereka?

Jumlah orang-orang kalah semakin membengkak saja dari hari ke hari.

Dan jumlah itu semakin tak terkirakan lagi tatkala kita mengetahui bahwa orang-orang yang mengalahkan pun—bahwa orang-orang yang memperoleh kemenangan atas orang lain pun—sesungguhnya adalah juga orang-orang kalah.

Mas Dukun sering berkata kepada sahabat-sahabatnya itu: “Tuhan tidak pernah memintamu untuk menang melawan orang lain. Yang diminta oleh-Nya adalah kemenangan melawan diri sendiri”.

Mas Dukun berusaha melawan kenyataan filosofi populer yang berlaku di mana-mana.

Dunia membuka lapangan kompetisi agar seseorang mengalahkan lainnya. Dengan kata lain: agar seseorang menjadi pemenang, sementara lainnya menjadi orang kalah.

Betapa tidak membahagiakan dunia semacam itu! Betapa setiap keindahan dalam kemenangan semacam itu sesungguhnya palsu!

Kemenangan dan keindahankah yang didapatkan oleh seorang kades yang berhasil tidak memperhatikan kesejahteraan penduduknya, bahkan menguras kekayaan penduduk itu untuk perutnya sendiri?

Mas Dukun berkata: “Halal untuk kalah melawan raksasa, tapi haram menyerah kepada nafsu untuk tak mempertahankan kebenaran”. []

(Diambil dari buku Surat Kepada Kanjeng Nabi, Emha Ainun Nadjib, Mizan, 1996)

Buku Cak Nun