Nututi Jalan Istiqomah

Refleksi Milad Ke-2 Tadarus Limolasan

Tadarus Limolasan adalah sebuah Simpul Maiyah yang berada di wilayah Batang, Jawa Tengah. Tidak terletak di pusaran kota, dari Alun-Alun butuh menempuh kurang lebih 45 menit perjalanan ke arah tenggara. Apabila dihitung dari arah Semarang, butuh waktu tempuh sekitar satu setengah jam. Tepatnya, kami berkegiatan di wilayah Limpung.

Tahadduts bin-ni’mah, Tadarus Limolasan tengah menginjakkan usianya yang ke-2 tahun. Kami para Penggiatnya memohon doa dari sedulur sekalian, terutama yang telah lebih lama mengistiqomahi Maiyah, supaya kami pun dapat nututi jalan keistiqomahan.

Kegelisahan adalah awal motivasi kami untuk bergerak dan berkumpul. Saya, Choirul Anam dan Irfan Fredineyanto pada awalnya tergugah pada kegiatan pendidikan di wilayah Limpung dan sekitarnya yang cenderung pragmatis dan sepihak. Meskipun sebetulnya situasi pendidikan semacam ini juga menggejala hampir di seantero nasional.

Bentuk pragmatisme pendidikan diantaranya terlihat dari apa yang diajarkan di sekolah-sekolah formal, baik pendidikan menengah, atas maupun tinggi yang dominan mengarah pada satu tujuan saja tanpa mengendepankan nilai-nilai pendidikan seperti halnya prinsip “undzur ma qala, wa la tandzur man qala”. Hal lain yang terlihat dari pragmatisme pendidikan adalah sangat minimnya upaya untuk menciptakan sikap rendah hati yang bernilai akhlaq yang diajarkan, termasuk kegiatan pembelajaran yang bermuatan religius-spiritual.

Dari pandangan ini kemudian lahir gagasan dan ide tentang berkumpul bersama berapapun jumlah orang yang hadir, sehingga dapat berdiskusi dan mencari formula baru tentang pendidikan mencakup: ekonomi, agama, Islam, akhlaq dan kebudayaan.

Rutinan bulananpun terselenggara, sempat pada awalnya kami mengenalkan diri dengan sebutan Maiyah Alas Roban. Kemudian setelah kami melibatkan diri dalam mekanisme organisme Maiyah bersama Koordinator Simpul, kami bersepakat untuk meneruskan penyebutan dengan “Tadarus Limolasan”.

Bagaimana kegiatan di Simpul terselenggara? Mekanisme yang berlangsung secara alamiah adalah masing-masing diantara Penggiat yang aktif kemudian mensedekahkan apa yang dimiliki. Sehingga ubarampe yang dibutuhkan atas terselenggaranya sebuah forumpun terpenuhi.

Selain urun materi dan perlengkapan, diantara Penggiat juga saling urun keahlian. Dokumentasi dipegang oleh Ahmad Luthfi dan Irfan Frideniyanto. Pemenuhan kebutuhan penulisan oleh Yunus Mustofa, Muntaha dan Saya sendiri. Sedangkan, peran sebagai admin media sosial (Instagram, Twitter dan Website) diambil oleh Mufti Islam Insani. Perangkat penyokong lainnya diperankan oleh H. Holil, Muhammad Ehsan, Handoyo, Musonef Sokheh serta sederet Penggiat lainnya.

Simpul ini awalnya ditempatkan di Majelis Ta’lim Al-Furqon Dukuh Cendono Lor, Limpung, Batang. Awal mulanya dahulu yakni pada 15 Agustus 2017.  Setelah beberapa bulan berlangsung, memasuki tahun 2018 majelis ini berpindah tempat di halaman Masjid Al-Ittihad masih di Dukuh Cendono Lor. Dari pemindahan ini harapannya adalah majelis ini dapat diikiuti oleh masyarakat umum.

Pada Milad yang pertama tahun lalu, Tadarus Limolasan membuat edisi spesial dengan menhimpun para aktivis muda Batang yang sedang berkuliah di kota besar, yakni Semarang dan Yogyakarta. Selain kalangan mahasiswa, kami juga berharap selanjutnya bisa mengakomodir kalangan pelajar. Bagaimana agar tradisi diskusi bisa dibangun, agar budaya malu bertanya bisa dikikis. Kami memulainya dengan menyambangi sekolah-sekolah di mana pengajarnya telah terlebih dahulu mempunyai persentuhan dengan Tadarus Limolasan.

Demikianlah sekilas jejak pendek perjalanan kami, dalam rangka tahaduts bin-ni’mah. Harapan besar ke depan, rutinan dapat terus istiqomah. Ahmad Lutfi dan Musonef Sokheh mentarget diri agar sebelum 40 kali putaran jangan pernah libur melaksanakan rutinan. Harapan berikutnya adalah Tadarus Limolasan dapat bersinergi dengan organisasi dan majelis apapun saja yang ada di wilayah kami, kemudian lebih banyak melaksanakan aktivitas di MA/SMA/SMK kesemuanya dalam rangka wujud sambung katresnan kepada Mbah Nun, Mas Sabrang dan seluruh Masyarakat Maiyah. (Choiril Anam)

Buku Cak Nun