Ngindung Ka Waktu Mibapa Ka Zaman

Mukadimah Jamparing Asih Juni 2019

Adalah falsafah orang sunda terhadap waktu. Singkatnya pengertian dari istilah ini, adalah belajar terkoneksi dan mengiblat terhadap waktu, serta memperhatikan perkembangan zaman. Ruang dan waktu tidak bisa dipisahkan satu sama lainya, dan kedua hal itu adalah inti dari keberlangsungan kehidupan.

Sejarah adalah sebuah disiplin ilmu yang selalu menyentuh permukaan waktu dari setiap periode.

Sejarah mengajarkan manusia untuk lebih memahami hidup. Sebab sejarah memberikan pelajaran kisah dari masa ke masa bagaimana pergulatan hidup manusia. Alqur’an sebagai kitab suci umat islam pun sangat banyak bercerita tentang kisah-kisah di masa silam.

Singkat kata, inti kehidupan manusia terletak pada dimensi waktu dan kesejarahan nya.

Waktu adalah sesuatu keberadaan yang sangat vital. Ia sebagai petanda sekaligus menjadi penanda akan adanya sesuatu. Bahkan dalam mitologi Yunani, di percayai bahwa alam semesta yang kita tempati ini berawal dari waktu. Oleh karena itu orang-orang Yunani mempercayai ada nya Dewa penguasa waktu yang disebut Khronos.

Masayarakat jawa mengenal istilah Baṭara Kala seorang dewa penguasa ruang dan waktu. Dia adalah ruang sekaligus waktu itu sendiri. Tidak ada satupun dari semua yang tercipta di dunia ini yang tidak dikuasai oleh ruang dan waktu, tak terkecuali kita sebagai manusia.

Ruang dan waktu semesta memiliki aturan tertentu. Rule, siklus, pola yang mau tidak mau, harus diikuti oleh siapa dan apa saja yang hidup dalam cakupan ruang dan waktu semesta.

Dalam istilah filsafat hegel, hal ini disebut dengan istilah “Geist” atau sering diterjemahkan dengan arti “roh absolut si penggerak sejarah”.

Mereka yang tidak bisa mengikuti dan tidak bisa selaras dengan ruang waktu, akan menuai kemalangan, hidup tanpa arah, selalu merasa gelisah, kesialan bahkan kecelakaan. Masyarakat Jawa menyebut mereka ini dengan istilah sukerto.

dalam ajaran Islam juga Allah, berkali-kali bersumpah atas nama waktu. Secara logika tidak mungkin Allah bersumpah dengan sesuatu yang tidak penting. Ketika Allah bersumpah atas nama sesuatu, pasti ada makna, ada hal yang penting, yang ingin Allah sampaikan.

Islam sangat mengamini vitalitas dan bahaya nya sebuah waktu. Bahkan Allah puluhan kali didalam Al-Qur`an bersumpah atas nama waktu, dalam sehari-semalam saja Allah bersumpah enam kali menggunakan kata yang menunjukan waktu mengikuti pola edar matahari dalam sehari-semalam.

Semisal, Al-Lail, waktu malam. Al-Fajr, waktu pagi ketika terbitnya matahari. Ad-Dhuha, waktu yang menujukan agak siang, ketika matahari mulai naik sepenggalah. Al-Ashr, waktu sore, ketika matahari akan tenggelam. Dll.

Kalau dalam sehari semalam saja Allah bersumpah dengan jenjang perubahan waktu, itu artinya ada banyak momen peralihan waktu yang harus kita perhatikan, yang harus kita gali dan pelajari.

Dalam cakupan yang lebih luas Al-Qur`an menyebutkan, kata ‘Dahr’ untuk menunjukan waktu yang dilalui oleh masa sejak terciptanya alam, hingga punahnya. Kata ‘Ajal’, untuk menujukan sesuatu mempunyai batas waktu. Kata ‘Waqt’ menujukan waktu untuk menyelesaikan sesuatu. Kata ‘Sa’ah’, untuk menujukan akhir masa kehidupan manusia di dunia serta kepunahan alam untuk memasuki kehidupan baru di akhirat. Kata ‘Amadan’, untuk menujukan masa yang panjang. Kata ‘Hin’, untuk menujukan suatu waktu yang telah ditentukan oleh Allah.

Singkatnya bahwa di dalam Al-Qur`an, waktu merupakan masa yang ada sejak diciptakannya alam semesta hingga kiamat. Masa tersebut akan dilalui oleh kehidupan dan digunakan untuk memulai dan mengakhiri sesuatu.

Tidak terlepas dari semua itu, akan selalu ada anomali terhadap waktu. Sebab waktu adalah tentang irasionalitas. Para filsuf dan fisikawan macam martin heideger dan einsten dalam pembahasan nya tidak pernah luput dari konsep waktu. Begitu pun para ahli spritualitas selalu bersingungan dengan waktu.

Lantas bagaimana kah sebenarnya maksud dari waktu dan perkembangan zaman?

Mari kita diskusikan dan melingkar bersama di maiyah jamparing asih. Ditunggu kehadira dulur-dulur semua.

Rahayu.

Buku Cak Nun