Negara Yatim Piatu

Kalau tubuh makhluk yang namanya manusia ini adalah sebuah Negara, maka kita semua ini adalah bagian terkecilnya. Sebelum akhirnya berkoloni secara fungsional maupun secara teritorial menjadi bagian dari Keluarga, Rukun tangga, Rukun warga, Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/kota madya, provinsi reguler dan daerah istimewa yang bersifat otonom lebih luas.Kita adalah sebuah Sel lengkap dengan cetak birunya yang disebut DNA.

Kemudian, apakah kita punya kuasa terhadap cetak biru DNA tubuh kita? Jawabannya tentu saja tidak. Kalaulah iya, pastilah sangat terbatas dan kalau tidak didasari keluhuran budi, yang sebenarnya terjadi adalah perusakan dan akan mengganggu keseimbangan alam. Lalu apa yang seharusnya dilakukan para ahli Biokimia molekuler (baca, para produsen regulasi dan penjaga regulasi Negara kita)? Mereka mestinya hanya mengidentifikasi rantai DNA yang “cacat” dari sebuah sel untuk dilakukan rekayasa genetika diganti dengan yang baik, bukannya salah arah dan kebablasan melakukan rekayasa genetika terhadap sebuah sel ber-DNA baik (baca dengan melakukan KRIMINALISASI dan INTIMIDASI) dengan maksud kepuasan sesaat “ilmuwan” yang sok-sokan tersebut. Sok kuasa, sok pintar dan bahkan cenderung hedonis, korup dan tamak.

Rekayasa genetika harusnya terkendali dan terkontrol, hanya memotong rantai Gen yang cacat untuk digantikan dengan yang baik. Rekayasa genetika yang salah arah bisa berbahaya bagi kehidupan di dunia, karena hanya akan mengganggu alam dalam mencapai titik equilibrium alias harmoni dan keseimbangannya. Setiap koloni sel ber-DNA di dalam tubuh kita mempunyai tugas dan fungsi yang sempurna, saling melengkapi mengikuti cetak biru Allah Swt.

Koloni sel otak berfungsi sebagai ruang kendali seluruh aktivitas tubuh dan juga kejiwaan. Syaraf betugas menyalurkan perintah, baik yang Volunter (bekerja taat mengikuti perintah kita) maupun yang Otonom semisal jantung dan organ dalam lainnya yang bekerja tidak mengikuti jalur komando otak kita akan tetapi tetap taat bersinergi dengan organ organ-organ volunter lainnya mengikuti perintah si empunya kehidupan.

Pembuluh darah berfungsi sebagai kanal-kanal yang mengedarkan jutaan armada pembawa logistik nutrisi bagi kehidupan. Sel darah putih berfungsi sebagai pasukan pengintai, penyerbu dan infanteri penerkam musuh. Hormon dan enzim bertanggung jawab terhadap ketertiban masing-masing simpul organ bak Polisi. Tulang belakang berfungsi sebagai kerangka yang kokoh. Otot kebagian peran menggerakkan seluruh elemen tubuh, sementara kulit dan rambut sebagai pelindung dan membawa peran yang sangat penting yaitu estetika, dan sebagainya.

Setelah ditiupkan Roh, terbentuklah sebuah makhluk yang namanya manusia. Makhluk yang sempurna, punya rasa, punya karsa/mau, punya rasa malu, punya nafsu baik dan jahat. Setiap hari seluruh bagian tubuh kita bergerak ritmik dengan irama yang sempurna bak Phylharmonic Orchestra, sangat merdu. Masing-masing bagiannya bergerak mengikuti irama sang “dirigen” untuk suatu tujuan dan arah yang jelas. Mana melodi, mana bas, mana biola, mana flute dan saxofone tidak saling meniadakan, akan tetapi berbarengan bersahutan mengikuti dengan tertip mematuhi sang “dirigen”. Karena mereka sadar akan tujuan bersama.

Supaya manusia “baca Negara” menjadi kokoh, baik dan mampu menjaga keseimbangan alam, yang seharusnya dilakukan adalah rekayasa rantai DNA jahat/cacat dan bukannya rekayasa DNA baik, istilah kerennya KRIMINALISASI dan MANIPULASI. Pusat kendali (“dirigen”) kegiatan yang bersifat otonom maupun volunter tubuh kita adalah Otak. Menjadi jahat, bijak, lemah atau kuat tergantung Otak kita sebagai pusat komando. Kalau diperlukan kadang memang harus “Otoriter” terhadap wilayah volunter. Apapun keputusannya, wilayah otonom niscaya akan mengikutinya pula, kecuali diganggu, bisa “mbalelo” dia. Otak adalah Bapak kita, “dirigen” kita dan menetapkan arah tujuan hidup kita. Sedangkan Nurani adalah ibu kita yang seharusnya taat bersinergi dengan Bapak kita. Kalau Otak dan Nurani sering berbenturan maka pecahlah mereka, mereka berpisah, bercerai dan manusia tersebut menjadi gila, “Schizofrenia”, hancur bahtera rumah tangga, kemudian masing masing merger dengan lainnya.

Di dalam sebuah Negara, kita ini adalah sebuah Sel berDNA yang pada akhirnya akan membentuk koloni dan berperan mengikuti ketetapan Allah SWT, tanpa kita bisa menolaknya. Berikhtiar bukan berarti reaksi penolakan akan tetapi adalah sebuah reaksi penyempurnaan posisioning, menuju tempat yg sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Berkoloni Sebagai Birokrat, Politisi, Ilmuwan, Tentara, Jaksa, hakim dan bahkan Polisi. Apa mereka semua sudah puas dan merasa pas berada di dalam koloni mereka? Belum tentu. Kalau tidak puas harusnya berikhtiar secara terhormat sambil berserah diri pada ketetapan Allah SWT dan bukannya tumbuh maunya sendiri keluar dari cetak biru DNAnya dan menjadi kanker. Keluar dari koloninya mendesak organ-organ lain dan membuat kerusakan di mana-mana.

Rabu malam tgl 16 Januari 2019, sepulang dari kunjungan komparasi dan penjajakan kerjasama ke beberapa Perguruan Tinggi dan Rumah Sakit di Fuzhou negeri Cina, sebuah Negeri yang terkenal dengan One Country One Policy-nya yang terkesan represif dan otoriter (“bapak ibunya Garang” kayak bapak ibu saya dahulu tapi punya arah tujuan yang jelas untuk dicapai pada waktu yang jelas pula), tetapi kemajuannya sangat mengagumkan. Dalam hati saya yakin, tidak sampai satu dekade mendatang mereka akan menjadi “penguasa Dunia”.

Di dalam pesawat saya tidak bisa tidur. Takut. Takut kita tidak setangguh pasukan Ronggolawe yang dengan gagah berani sukses menenggalamkan kapal Jenghis Khan yang akan menjarah kita di perairan Tuban berabad-abad yang lalu. Saya takut. Karena banyak “kanker” di tubuh Indonesia. Saya takut. Karena saya sebagai bagian terkecil Negara Indonesia merasa tidak punya kedua orang tua yang menuntun dan menetapkan arah hidup saya sebagai Khalifah di muka bumi ini, kelak mau ke mana dan jadi apa. “Bapak dan ibu saya sudah bercerai”.

Yang saya punya adalah pembantu “outsourching” lima tahunan yang bisa saja kejam nggak jelas arah, menjadikan saya sapi perah, membiarkan masing-masing koloni saya dan teman-teman saya bergerak tak tentu arah. Saya takut. Karena saya ternyata YATIM PIATU.

Fuzhou-Jakarta, 16 Januari 2019