Mukaddimah Sastra Liman dan Launching Majalah Sabana

  1. Sejak penerbitan edisi X, Oktober 2019, majalah sastra Sabana dikembangkan menjadi “Majalah Sastra Maiyah”, dengan landasan pemikiran:
    • Terbitnya kembali majalah sastra Sabana dengan label “Sabana, Majalah Sastra Maiyah” merupakan bukti bahwa masyarakat Maiyah memiliki perhatian dan kepedulian dengan dunia bahasa dan sastra di Indonesia.
    • Majalah Sabana sebagai “Majalah Sastra Maiyah” kepada masyarakat Maiyah dalam melakukan pembelajaran apresiasi dan berkreasi, khususnya di bidang sastra dan kebahasaan Indonesia maupun daerah.
    • Majalah Sabana sebagai “Majalah Sastra Maiyah” dapat digunakan sebagai media komunikasi dalam konteks belajar bersama membangun patembayatan antara kalangan di luar Maiyah dengan masyarakat Maiyah, dan juga sebaliknya.
    • Majalah Sabana sebagai “Majalah Sastra Maiyah” akan dijadikan landasan pertemuan “Sastra Liman” yang diselenggarakan pada tgl. 5 setiap bulannya di Rumah Maiyah, Kadipiro, Yogyakarta. Melengkapi “Diskusi Buku/Perpustakaan” setiap tgl. 11, dan Mocopat Syafaat setiap tgl. 17 di Kasihan, Bantul.
    • Karena majalah Sabana sudah dikembangkan menjadi “Majalah Sastra Maiyah” maka diharapkan masyarakat Maiyah sudi mengirimkan karya-karya tulisnya, baik berupa puisi, cerpen, esai, untuk dipertimbangkan pemuatannya pada setiap penerbitan majalah Sabana. Termasuk kegiatan-kegiatan Maiyah di masing-masing komunitas.
  2. Penerbitan majalah sastra Sabana edisi X, sebagai “Majalah Sastra Maiyah” pada bulan Oktober 2019, dikaitkan dengan peringatan Sumpah Pemuda 1928, yang di ranah kebahasaan bulan Oktober lazim disebut sebagai “Bulan Bahasa dan Sastra”. Sedangkan tema yang diangkat adalah fenomena “Kebahasaan Milenium” yang merebak saat ini dan terkesan demikian “eksklusif”. Untuk itu, redaksi Sabana telah mewawancari: 1. Dr. Cahyaningrum Dewojati, M. Hum. (Sekretaris Program Studi S-2 Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada), 2. Prof. Dr. Suminto A Sayuti (Guru Besar Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta), (3) Dr. Tirto Suwondo, M. Hum., Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, dan (4) Ahmad Zamzuri, M.A. (Peneliti di Balai Bahasa Yogyakarta).
  3. Sabana edisi X, memuat pidato sastra Umbu Landu Paranggi yang disampaikan dalam “Seminar Internasional Sastra Indonesia di Bali 2019: Sastra, Lingkungan, dan Kita”, Taman Budaya Provinsi Bali, 10-13 Oktober 2019. Diharapkan, setiap Sabana terbit ULP sedia mengirimkan tulisannya untuk penerbitan Sabana selanjutnya.
  4. Melanjutkan penerbitan Sabana edisi IX, untuk edisi X dan seterusnya, majalah Sabana akan terus membuka rubrik Belik, yang dikhususkan pada pemuatan karya-karya sastra para siswa dan guru, baik dari DIY maupun dari luar DIY.

Yogyakarta, 4/10/2019

Buku Cak Nun Majalah Sabana