Mojok di Perpustakaan EAN Tentang Laki-Laki yang Tidak Berhenti Menulis

Catatan Dikusi Sewelasan Perpustakaan EAN, 11 Februari 2019

Cak Rusdi bukanlah “Laki-Laki Yang Tak Berhenti Menangis” itu, Cak Rusdi adalah manusia laki-laki yang tidak berhenti menulis. “Laki-Laki Yang Tak Berhenti Menangis” adalah judul buku, sebuah kumpulan tulisan dari yang tidak berhenti menulis sebagai manusia ini. Sayangnya saya tidak pernah berjumpa secara ragawi dengan almarhum Cak Rusdi. Konon kita perlu menulis agar tidak terlupakan, tapi rasanya Cak Rusdi bukan seorang yang terlalu drama dengan dilupakan atau tidak, beliau almarhum ya nulis dan menulis saja. Mencatat tanpa kecenderungan menjadi penulis, wartawan, sastrawan atau apapun embel-embel itu. Kalau nanti ada yang menyebut dengan salah satu begitu ya terserah. Mungkin begitu. Mungkin.

Buku berisi kumpulan tulisan Cak Rusdi mengenai agama ini diterbitkan oleh penerbit MOJOK. Bagi yang tinggal di sekitaran Yogya komunitas MOJOK mungkin cukup akrab. Terutama pemuda-pemudi yang senang dengan pertemuan berbagai wacana, diskusi dan kejenakaan yang nakal. Di masa sekarang orang butuh nakal memang karena telalu banyak penjinakan. Sekali lagi sayangnya saya kurang tahu banyak tentang komunitas MOJOK, satu-dua person mungkin saya kenal atau minimal pernah dengar-dengar dalam selentingan obrolan. Sekali dua kali juga nongkrong di warung kopi bernama sama. Dulu sering numpang menulis di warung bernama Mas Kali kemudian warungnya tutup. Pasti bukan karena saya warung itu tutup. Selebihnya saya tidak segaul itu.

Hanya baru beberapa ribu tahun sejak manusia mengenal peradaban tulis-menulis dan sejak itu dimulailah sejarah. Karena apa yang terjadi sebelumnya, sebelum bisa dituangkan dalam simbol rentetan huruf yang membentuk kata, belum lagi bisa kita kenang betul. Pengalaman kita dalam tulis-menulis tidak begitu panjang sejauh yang bisa ditemukan. Seberapa pun besar jasa para Wali Songo, hampir tidak ditemukan catatan mengenai mereka yang diproduksi pada era bersamaan ketika mereka masih berkiprah.

Konon, ketika awal manusia mengenal tulisan, beberapa generasi tua mengeluh bahwa para pemuda menjadi semakin manja, lemah karena terlalu dipermudah oleh teknologi bernama tulisan. Beberapa hipster di zamannya juga menolak trend tulis-menulis karena dianggap adalah sebuah konspirasi untuk menyerap berbagai data agar bisa diperjualbelikan. Generasi tua dan hipster di berbagai zaman memang selalu jadinya begitu, apa yang terjadi pada mereka? Nah kita tidak tahu. Soalnya tidak ada catatannya. Ini harusnya reportase tapi malah mengarang bebas. Dasar memang bukan wartawan.

“Cak Rusdi itu wartawan yang kelewat idealis, sehingga banyak kritiknya terhadap profesi wartawan,” begitu ujar Mas Irfan Afifi, setelah pengantar dari Mbak Ririn dan kemudian oleh moderator yakni Mas Faisal Nur diperkenalkan sebagai “budayawan muda”. Beliau menjadi pembabar bahasan dalam diskusi Sewelasan edisi ke-48 ini. Ternyata menjadi wartawan tidak cukup, harus menjadi wartawan yang idealis baru bisa seberkualitas Cak Rusdi. Mungkin karena wartawan telah jadi profesi sebagaimana semua hal belakangan menjadi profesi. Tapi sejauh yang saya baca dalam tulisan-tulisan Cak Rusdi memang beliau almarhum menulis sebagai manusia. Mungkin kita hanya mencari manusia sekarang ini. Yang bukan penulis tapi sesekali menulis dengan serius. Yang bukan ulama tapi sesekali ngulama dengan sungguh-sungguh. Bukan yang dua puluh empat jam dalam seminggu, empat minggu dalam sebulan dan dua belas bulan dalam setahun menjadi profesinya tanpa pernah istirahat selain dalam waktu weekend.

Oh iya, ini semestinya adalah reportase. Perlu ada lima W satu H. Atau dua H bila ditambah “Hahahihi”. Apa sih. Maaf kalau melantur. Betapa beban berat harus menuliskan reportase sebuah diskusi yang sedang membahas seorang penulis yang mengagumkan, bukan? Harap pahami. Jadi kalau tadi “what”-nya sudah terjawab, sekarang kita perlu ke “where” bahwa acara ini diadakan di lantai dua Perpustakaan EAN. Kenapa diadakan di Perpustakaan EAN? Karena memang diskusi Sewelasan merupakan agenda rutin tiap bulan para pejuang Perpustakaan EAN. Tapi kenapa diadakan di lantai dua perpus sementara biasanya di pendopo Rumah Maiyah? Nah itu adalah sebab pendopo Rumah Maiyah sedang dipakai untuk latihan menuju pentas Sengkuni2019 yang di Surabaya. Latihan serius tengah diadakan dan lelaki yang mestinya ikut membuat catatan di setiap latihan itu bolos sekali ini untuk membuat catatan mengenai diskusi Sewelasan. “When”? Tanggal 11, sesuai nama Sewelasan. Februari 2019 Masehi, kira-kira pukul 20.00 WIB lewat sedikit acara telah berjalan.

Dan “how”-nya adalah bagaimana berjalannya diskusi? Tentu sangat menyenangkan, melebar, meluas dan mendalam dan cukup efektif. Hanya malam ini ruang perpus agak gerah tentu akibat jumlah penduduk diskusi yang ketambahan teman-teman dari komunitas lain. Apakah dari komunitas MOJOK juga ada? Wartawan yang baik mestinya punya insting mencari tahu soal itu, tapi saya bukan wartawan. Cuma berusaha baik saja dan sering gagal. Dan pikiran yang sedang bercabang antara acara diskusi dan latihan teater, saya jinakkan dengan bermain catur online. Saya tidak jago catur. Tapi catur berfungsi agar saya tidak gelisah. Saya dengar Mas Putut EA yang kepala suku MOJOK juga adalah pecatur handal.

Bu Roh sebagai sesepuh kita juga menjadi pembahas malam ini. Bu Roh memang selalu akrab dan dekat pada semua orang, stamina silaturrohim beliau sangat saya kagumi dan masih cita-cita untuk saya contoh. Dengan itu Bu Roh banyak bercerita mengenai sosok almarhum Cak Rusdi yang beliau kenal. Beberapa hal dikisahkan dari kiprah CR di Kenduri Cinta hingga kebiasaan almarhum menulis hingga saat-saat terakhir beliau dalam kondisi sakit. Dan Bu Roh memimpin para hadirin untuk dengan khusyuk mengirimkan Al-Fatihah kepada almarhum. Mesra sekali kita tetap berkorespondensi dengan yang sudah hijrah ke dimensi lain.

Perenungan Cak Rusdi dalam buku ini banyak menyentuh sisi rohani, kelembutan batinnya terasa. Agama bukanlah sekadar kumpulan teks-teks suci atau yang disucikan itu, tapi agama adalah persentuhan manusia dengan kehidupan yang menemukan cantolan pada apa yang kita sebut kitab suci. Dari apa yang dibahas oleh Mas Irfan, saya berkesimpulan bahwa almarhum Cak Rusdi adalah orang yang benar-benar beragama. Bukan agama jadi-jadian atau ormas mazhab yang diagama-agamakan.

Dialog juga terjadi tentu saja. Karena ini adalah diskusi. Seorang lelaki yang tak berhenti memakai jekt bercorak hijau dengan topi pet, tidak berhenti bernama… (tolong disudahi kebiasaan memakai kalimat “tidak berhenti” ini). Maksud saya beliau bernama Mas Riyadi dari Sidoarum mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana agar tulisan-tulisan sekualitas karya Cak Rusdi ini bisa masuk ke sistem sekolah. Pertanyaan yang mengarah pada pendidikan dan pola pikir masyarakat juga muncul dari Mas Fahrozi, berasal dari Madura. Beliau juga membawa cerita pengalaman ketika masyarakat di tempatnya memandang miring pada buku “Historical Jesus” yang sedang dia bawa. Mungkin Mas ini boleh sesekali ikuti bahasan-bahasan Reza Aslan, Martin Friedman atau Dale B Martin di YouTube. Karena kalau dengar lewat YouTube pakai headset kan selesai masalah, tidak perlu ada yang tahu bukan?

Oleh Mas Irfan kita diajak kemudian menyelami sisi pendampingan proses. Bahwa masyarakat memang perlu ditemani, bukan dipaksakan untuk tercerahkan. Mas Irfan banyak mengambil contoh dari serat-serat dan naskah-naskah Jawa. Serat Wedhatama yang cukup modern misalnya beliau ambil sebagai bahan. Contoh-contoh dari leluhur serta kebesaran jiwa manusia di sekeliling. Kita perlu peka pad hal-hal semacam ini dan kepekaan pada kelembutan-kelembutan seperti inilah sesungguhnya yang bisa kita dapatkan dalam tulisan-tulisan Cak Rusdi. Sehingga selalu asik untuk kita mojok dan memperbincangkannya, seorang laki-laki yang tidak berhenti menulis.

Buku Cak Nun