Modern Problems Need Modern Solutions

Catatan Silatnas Penggiat Maiyah, Semarang 6-8 Desember 2019

Berupaya menjadi yang dipercaya Allah, bekal menjadi trusted di hadapan Manusia

Diskusi berlangsung hingga jeda siang tiba waktu istirahat. Usai santap siang dan peserta bersantai di lantai bawah serta di halaman, beberapa  peserta tampak kaget sekaligus gembira ketika menyaksikan Mbah Nun hadir, karena sesi bersama Mbah Nun tidak ada di dalam rundown.

Sembari relaks di sofa transit yang juga berada di ruang utama Silatnas, Mbah Nun memanggil peserta utamanya yang jauh-jauh, dari Lampung, dari Mandar, dan dari Eropa. Setelah jenak berbincang, tidak selang lama Mbah Nun bergabung ke depan bersama-sama Koordinator Simpul.

Bekal-bekal pokok untuk diterjemahkan menjadi gerak Maiyah diurai secara tumakninah. Di antaranya Mbah Nun menekankan bahwasanya pola gerak organisme Maiyah bukanlah ditarik lokomotif. Tetapi analoginya adalah aliran sungai. Gerak aliran sungai didorong oleh sumber mata air. Oleh karena itu kelangsungan gerak akan terpelihara apabila terus sambung dan tidak terputus dengan sumber mata air.

Itulah mengapa Koordinator Simpul tidak membuat padatan-padatan gerak yang memberatkan, dan ke depan pun tetap akan demikian. Karena, seperti yang disampaikan Mbah Nun, keberadaan koordinator Simpul hanyalah merespons dinamika yang sedang berlangsung.

Amanah untuk membangun trust diurai oleh Mbah Nun menyambung apa yang sudah disampaikan oleh Mas Sabrang pada sesi malam sebelumnya. Hendaknya kita bukan hanya berupaya percaya kepada Allah, tetapi juga bagaimana supaya masing-masing kita menjadi dipercaya oleh Allah. Trusted dihadapan Allah adalah bekal supaya kita juga trusted di hadapan manusia, di hadapan mitra usaha, dan seterusnya.

Menyingung soal tiga pilihan revolusi, Mbah Nun menyentil, kenapa revolusi sosial diletakkan di urutan teratas. Kata Mbah Nun, “Sebab hobimu revolusi sosial, kan?”, Mbah Nun berharap semua yang hadir untuk menerjemahkan apa yang dimaksud sebagai kesadaran pawang, bahwa revolusi spiritual menjadi pribadi-pribadi yang mateg aji adalah hal yang sangat penting untuk dibangun, supaya kita tidak terjebak pada pencapaian yang tampak sebagai prestasi yang padahal hal itu melenakan. Mbah Nun berharap setiap Penggiat Maiyah di manapun berada dapat mempawangi keadaan.

Meski begitu, Mbah Nun memberi piweling supaya masing-masing mempelajari situasi sosial yang berlangsung di lokal. Mempelajari siapa-siapa yang mendominasi kepemilikan sumber daya ekonomi dan seterusnya syukur hingga menguasai data distribusi penguasaan tanah.

Mengapa mateg aji yakni mengerjakan revolusi spiritual merupakan hal penting? Sebab aslinya kita ini tidak bisa menggenggam kompleksitas yang ada di hadapan kita. Tunggu saja, kita akan saksikan bagimana mereka-mereka yang memilih bermain-main dengan kompleksitas tanpa ilmu dan bekal spiritualitas yang presisi sehingga memadai akan runtuh oleh kompleksitas yang mereka ciptakan sendiri.

Mbah Nun juga menyampaikan supaya masing-masing menelaah dan memperbaiki kembali landasan dan filosofi masing-masing di dalam berkumpul, melingkar, dan membentuk simpul. Muhasabah atau menghitung diri adalah hal yang harus terus-menerus dilakukan. Ketika salah seorang Jamaah merespons mengenai tantangan kolaborasi ekonomi, Mbah Nun membuka seluas-luasnya setelah ini peluang dilaksanakannya diskusi dan pendalaman kelompok sesuai dengan peminatan.

Hingga lepas ashar, sesi bersama Mbah Nun kemudian dipungkasi. Panduan penutup sesi sore hari itu adalah bagaimana agar kita mengutamakan asas manfaat di atas asas kompetensi. Sebelum beranjak meninggalkan ruangan, Sholawat dan Munajat dilantunkan bersama-sama. Suasana haru sekaligus gembira amat terasa. Kemudian Mbah Nun melanjutkan perjalanan untuk menuju Jepara melaksanakan agenda Sinau Bareng bersama warga masyarakat di sana.

Lepas jeda sore, Hari Widodo memandu jalannya sesi sharing simpul tentang usulan-usulan apa saja yang harus dikerjakan ke depan. Tentu usulan tersebut tidak terlepas dari apa yang menjadi panduan Mbah Nun pada sesi sebelumnya. Kategorisasi yang dibuat oleh Mbah Nun meliputi: Penghidupan ekonomi, penghidupan budaya, dan penghidupan ruhani. Di antara peserta memberi usul yang baik supaya usulan yang ada tidak terlepas dari inisiasi program yang sudah berjalan di simpulnya.

Tiba pada sesi malam hari, sesepuh simpul-simpul yang terundang hadir, Cak Rachmad, Ali Fatkhan, dan rekan-rekan lainnya ikut terlibat di dalam diskusi. Simpul Mafaza yakni Maiyah Eropa turut mempresentasikan apa yang menjadi agenda ke depan yakni pelaksanaan Simposium Internasional dan paket panduan membangun desa yang terinspirasi sajak Umbu Landu Paranggi.

Simpul-simpul kemudian berembug mencari formula bersama supaya setiap gagasan-gagasan baik seperti yang disampaikan Penggiat Maiyah Eropa sebagai contohnya tersebut mendapat apresiasi dan dukungan yang berpotensi memberikan akselerasi. Berbagai usulan dilontarkan, didiskusikan, saling menanggapi, melengkapi, membantah dan proses dinamika diskusi berlangsung tidak terasa hingga tengah malam.

Tibalah penghujung pelaksanaan sesi malam hari di malam Minggu tersebut. Meski tampak lelah, usai sesi di dalam ruangan selesai, masing-masing duduk melingkar di restoran, halaman, parkir dan selasar kamar mereka berdiskusi secara cair.

Hari Minggu pagi, tiba sudah pada sesi terakhir Silatnas Penggiat Maiyah Tahun 2019. Beberapa topik diskusi yang berlangsung sepanjang tiga hari tersebut kemudian diformulasi ke dalam butir-butir hasil kesepakatan.

Mbah Nun mengamanahkan untuk setiap Simpul dipastikan memiliki pasukan wirid yang oleh Mbah Nun disebut sebagai Hizbul Maiyah. Koordinator Simpul akan memformulasi persambungan mereka satu sama lain sebagai sumber daya yang mesti kita syukuri dan kita rawat bersama. Muhammad Khumaidi dari Koordinator Simpul akan memandegani pelaksanaannya.

Selain pasukan wirid, tindak lanjut dari rumusan butir yang langsung dikerjakan pada sesi kali itu adalah pengusulan orang-orang yang bersedia dan berpotensi memiliki andil manfaat yang besar bagi pasukan penelitian dan pengembangan (Litbang) yang akan dibentuk untuk mendukung kerja Koordinator Simpul Maiyah. Sejumlah nama kemudian ditampung untuk digodog lebih lanjut oleh koordinator Simpul Maiyah.

Usai pembahasan embrio Litbang, tibalah pada ujung dari sesi penutupan, yakni sesi sharing. Simpul demi Simpul secara bergantian memberikan sharing singkatnya. Ini adalah sesi yang gembira sekaligus mengharukan. Meski banyak diantara peserta baru saling kenal, tetapi di hari ketiga ini nampak sudah ajur-ajer, gerrrr gelak tawa berkali-kali terlontar dari celetuk satu sama lain.

Waktu sharing yang leluasa membuat satu sama lain mendapat tambahan kilas-kilas pengenalan yang lebih banyak tentang keadaan simpul di daerah berbeda. Mereka juga memberikan tanggapan atas jalannya forum. Sebagian besar mereka mengapresiasi Gambang Syafaat atas kerja optimal mereka memerankan tugas sebagai panitia.

Seorang peserta juga memberi respons yang amat baik, bahwasanya hendaknya kita mendiskusikan hal-hal keekonomian seperti pada sesi malam hari sebelumnya dengan sesederhana mungkin. Kenapa? Supaya kita bisa melangkah menyiapkan hal-hal yang jauh lebih substantif. Ya, benar, Efektif menempuh cara, dan presisi menuju tujuan adalah hal yang terus harus diupayakan.

Usai berfoto bersama dan bersalam-salaman. Sebelum agenda kepulangan, seluruh peserta bersantap makan siang di lantai bawah. Beberapa yang masih betah, bersantai di selasar dan di bawah pohon beringin di parkiran. Tiga hari yang sudah dilalui, semoga menjadi tonggak perubahan yang menjadi bagian dari rakaat panjang yang sedang dikerjakan bersama-sama seluruh jamaah Maiyah saat ini.

Lainnya