Modern Problems Need Modern Solutions

Catatan Silatnas Penggiat Maiyah, Semarang 6-8 Desember 2019

Pada kompleksitas yang terus meningkat, mustahil masalah diselesaikan dengan cara-cara lama

Perhelatan yang menjadi ajang di mana simpul-simpul Maiyah se-Nusantara dan dari luar negeri berkumpul bersama, yakni Silatnas Penggiat Maiyah 2019, telah usai digelar dengan lancar.  Di akhir pekan pertama bulan Desember, dengan mengambil tempat di Balatkop UMKM Jawa Tengah di Srondol Banyumanik Semarang sebanyak 115 perwakilan simpul-simpul Maiyah dan sesepuh serta undangan dari berbagai daerah hadir untuk duduk bersama dan berdiskusi sepanjang tiga hari mulai hari Jumat petang (6/12) hingga Minggu siang (8/12).

Gambang Syafaat pada kesempatan kali ini mendapat peran sebagai tuan rumah pelaksanaan ajang pertemuan tahunan ini. Para Penggiatnya bekerja dengan cekatan sedari awal persiapan. Arti penting Silatnas selain sebagai ajang silaturahmi juga merupakan wahana untuk mendudukkan pemahaman bersama atas berbagai hal penting. Silatnas juga menjadi wadah berembug untuk memunculkan kesepakatan-kesepakatan yang dirasa perlu sesuai dengan dinamika perkembangan yang berlangsung. Mengingat arti penting tersebutlah, Penggiat selaku panitia benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya secara optimal.

Tempat yang dipilih pun representatif, nyaman untuk berembug, dan  juga mudah untuk diakses dari berbagai arah kedatangan. Pemanduan kedatangan dilaksanakan dengan telaten dan sabar sehingga tidak ada laporan peserta yang nyasar mencari alamat. Pun demikian dengan pemilihan menu makanan. Penyiapan tempat istirahat dan relaks yang sebaik mungkin juga disiapkan dengan begitu baik oleh panitia. Gayung bersambut, para peserta pun cukup patuh pada panduan rundown dan pengaturan yang dikerjakan panitia demi tertib lancar dari jalannya acara.

Lagu-lagu khas Semarangan mulai diperdengarkan, dan peserta dipersilakan makan malam bersama. Usai makan malam, sesi ramah tamah pun dimulai. Penggiat Gambang Syafaat memberi penyambutan di sesi terawal dengan munajat dan sharing dari beberapa Penggiatnya.

Usai ramah tamah, Mas Sabrang kemudian bergabung di tengah-tengah peserta. Pesan awal yang disampaikan Mas Sabrang adalah bahwa Mbah Nun ingin dirinya menyampaikan, “Sampaikan kepada arek-arek, bahwa Maiyah tidak hanya seperti ini saja”.

Ya, Mas Sabrang mengurai tentang eskalasi kompleksitas yang mesti disadari oleh setiap gerakan. Keadaan dengan kompleksitas yang semakin meningkat akan mustahil diselesaikan dengan cara-cara lama. Mas Sabrang menyampaikan bahwa, “Modern problems need modern solutions”.

Yang harus disadari lainnya adalah bahwa tumbuh kembang Maiyah lahir dan berada di iklim yang tidak kondusif, sehingga prestasi tidak menjadi diapresiasi. Maka menjadi tantangan tersendiri bagi masing-masing Penggiat untuk menyadari hal yang tampak sepele sudah dikerjakan, padahal hal itu adalah hal yang besar. Tantangan berikutnya adalah bagaimana kita bersama-sama membentuk padang pasir baru, di mana iklim yang berlaku di sana lebih kompatibel dengan prinsip dan nilai yang kita anut, sehingga nir-apresiasi serta problematika hari ini lainnya tidak menjadi masalah di sana. Di antara prinsip dan nilai yang kompatibel itu adalah: konsistensi dan integritas, yang semua itu terekam dengan baik.

Beberapa pokok prinsip diurai sedemikian rupa, hingga dilanjutkan dengan sesi respons dari peserta. Jadwal yang sedianya harus dipungkasi pukul 22.00 kemudian diperpanjang hingga 24.00.

Berganti pagi, usai santap sarapan, sesi pagi diawali dengan sharing pemaham bersama mengenai jenis-jenis forum di Maiyah. Setiap individu mesti dapat mengambil peran yang berbeda di forum yang berbeda. Duduk sebagai jamaah Sinau Bareng berbeda peran dan posisinya ketika sedang menyelenggarakan workshop skill sharing. Pun begitu pada forum seperti Silatnas yang sedang berlangsung hari ini.

Mas Helmi turut bergabung menjembatani berbagai pokok-pokok informasi. Di antaranya Mas Helmi menekankan tentang bagaimana mestinya mendudukan pemahaman yang presisi tentang organisme dan organisasi. Bahwa organisasi dan organisme itu tidak dikotomis melainkan dialektis. Hal itu diurai dengan apik dari apa yang disampaikan Mbah Nun kepada Mas Helmi, bahwasanya organisasi dilakukan dengan porsi dan tujuan yang jelas, yakni supaya tercapai gerak yang organis. Masing-masing bisa meneliti, bahwa di balik langkah gerak yang tampak alamiah, kalau frame-nya diperlambat, kita akan menyaksikan kerja-kerja pengorganisasian.

Fahmi Agustian dari Koordinator Simpul selanjutnya menyampaikan challenge supaya simpul-simpul mulai berpikir tentang peran yang lebih luas dan inklusif. Misalnya membuat inspiration talk untuk audiens publik bukan hanya untuk jamaah Maiyah. Itu adalah hal yang sangat baik. Syaratnya, harus dikenali dengan baik dulu ini siapa-siapa tokoh inspiratif dari Maiyah yang sharingnya bermafaat luas.

Mas Helmi kemudian merespons dengan mencontohkan salah seorang sahabat Mbah Nun yakni dr. Pri dari RS dr. Iskak, ia yang mendapat inpsirasi membangun sebuah rumah sakit dan mendapat penghargaan kelas dunia karena berangkat dari pemahaman Maiyah yang ia peroleh. Dan dr. Pri tetap menjalin hubungan baik dengan Mbah Nun, KiaiKanjeng, dan keluarga besar Maiyah.

Rizky dari Koordinator Simpul Maiyah mengapresiasi simpul-simpul, terlebih yang antusias datang ke silatnas, adalah cermin betapa mereka sudah mencecap ilmu Maiyah dan ketelatenannya merawat simpul dan datang ke silatnas sebagai ujud iktikad ingin memberi timbal balik kepada Maiyah. Ini adalah semangat yang baik. Rizky juga menggarisbawahi apa yang disampaikan Mas Helmi yakni tentang pentingnya meneruskan produksi pengetahuan yang telah dilakukan simpul-simpul secara istiqomah, serta tantangan untuk mengembangkannya yakni dengan cara meningkatkan kepekaan untuk menangkap hal-hal yang nampak sepele, yang padahal hal itu adalah sesuatu yang mengandung kadar fenomenologis.

Ketika salah seorang peserta memantik topik bahasan bahwa Orang Maiyah mestinya tidak terikat oleh ‘baju’ Simpul, melainkan hendaknya ‘Maiyah’ bisa dikerjakan di mana saja meski tanpa baju, Rizky kemudian merespons bahwa Jamaah Maiyah tidak ada kewajiban untuk membuat simpul. Hanya saja sesuai amanah Mas Sabrang, Simpul yang sudah ada ini dirawat dan dicari caranya untuk menjalin ‘colokan’ persambungan yang baik satu sama lain.

Persoalan berkumpul, Orang Maiyah dapat berforum dalam sebanyak mungkin format dan formula. Masih oleh Rizky, bahkan UUD 1945 pada pasal 28 menjamin kebebasan untuk berkumpul. Tapi masa iya, kumpul tingkat RT beberapa orang sesama Jamaah Maiyah, apakah harus membuat poster skala nasional. Apakah itu tidak over show off?

Buku dan Merchandise