Metode Sinau Bareng Puncaki Hari Keluarga Nasional 2019

Liputan Sinau Bareng Harganas 2019, GOR Gadjah Mada Mojosari Mojokerto, 30 Juni 2019

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kembali untuk kedelapan kalinya menghadirkan Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng dan kali ini adalah dalam rangka memuncaki peringatan Hari Keluarga Nasional ke-26 pada 2019 untuk wilayah provinsi Jawa Timur. Acara dipusatkan di Kabupaten Mojokerto, dan untuk Sinau Bareng digelar di GOR Gadjah Mada Mojosari Mojokerto tadi malam, 30 Juni 2019.

Seperti kita tahu, BKKBN adalah badan negara yang ingin keluarga-keluarga Indonesia menjadi keluarga yang berkualitas. Maka berbagai program dan kegiatan yang mendorong ke arah sana digalakkan, dan demikian pula rumusan nilai-nilai keluarga diperkenalkan dan diingatkan selalu kepada segenap masyarakat. Ada misalnya delapan fungsi keluarga dirumuskan BKKBN: Fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta dan kasih sayang, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, dan fungsi lingkungan.

Di atas panggung ada Mbah Nun bersama para narasumber yaitu Pak Agus Sukiswo (Inspektur Utama BKKBN), Pak Yenrizal Makmur (BKKBN Jawa Timur), Pak Pungkasiadi (Wakil Bupati Mojokerto), Pak Bimo (Ponpes Segoro Agung), Pak Suko Widodo, dan Wagub Jatim Emil Dardak bersama Ibu Arumi Bachsin Emil Dardak (yang sekaligus ketua penggerak PKK Provinsi Jawa Timur). Di depan beliau-beliau, telah duduk ribuan orang yang siap mengikuti Sinau Bareng dan bergembira hati bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Rasanya tidak mudah sebenarnya untuk, misalnya, mengajak segitu banyak orang buat melangsungkan sebuah mata acara bernama diskusi atau membahas sesuatu, apalagi BKKBN mengusung sejumlah tema penting menyangkut keluarga, dan pasti akan banyak kendala teknis buat melibatkan semua mereka.

Namun, di bawah panduan Mbah Nun, Sinau Bareng dapat melangsungkan beberapa hal atau agenda sekaligus. Ada beberapa workshop dengan menjaring partisipasi dari hadirin untuk turut naik ke panggung, dan yang tidak ikut maju tetap ikut berpartisipasi dari tempatnya duduk masing-masing. Tak ada yang tidak terlibat.

Ada juga workshop yang melibatkan semua hadirin yang dibagi dalam tiga dan dua kelompok besar. Sementara, bapak-bapak yang di atas panggung, selain menyampaikan sambutan, juga bernyanyi, nanti akan kebagian tugas memberikan respons terhadap pandangan yang disampaikan kelompok-kelompok maupun apa saja yang berlangsung sepanjang Sinau Bareng.

“Hari Keluarga, Hari Kita Semua” itulah tema Harganas kali ini, dan semboyannya adalah “Cinta Keluarga, Cinta Terencana.” Pijakan berpikir yang disampaikan di awal Sinau Bareng tadi malam adalah mencoba membawa kita untuk berpikir kalau Allah memerintahkan iqra` (membaca), sebenarnya siapa yang disuruh membaca. Nabi Muhammadkah? Ataukah kita semua? Kemudian apa yang harus dibaca? Kalau pada saat ayat pertama itu turun yang dimaksudkan adalah membaca Al-Qur`an maka tidak mungkin, karena teks Al-Qur`annya belum ada.

Maka di situlah pertanda bahwa yang dibaca bukan huruf-huruf, melainkan sifat-sifat dan keadaan sekitar, diri manusia sendiri, alam, pepohonan, binatang, dan yang lain-lain yang sangat banyak dan luas. Jadi, ketahuilah membaca itu koentji. Dari sini, Mbah Nun menarik garis, “Kunci berkeluarga itu mengerti hati istri, mengerti hati suami, mengerti hati anak.” Artinya kita mesti pandai membaca isi hati istri kita, suami kita, atau anggota keluarga kita.

Bagi Mbah Nun, insyaAllah masyarakat sudah memahami secara kognitif delapan fungsi keluarga maupun asas keluarga (seperti gelem ngalah, gak oleh unggul-unggulan, loman, dan nriman), juga gerakan yang baik yang sedang dicanangkan BKKBN yaitu: gerakan kembali ke meja makan dan stop nonton medsos mulai jam 18.00 hingga 21.00 WIB; akan tetapi yang dibutuhkan adalah latihan, latihan keluarga. Itulah sebabnya, Sinau Bareng menjadi sangat bermanfaat.

Di situlah tiga workshop dilakukan; diskusi kelompok (menjawab pertanyaan bagaimana nilai pelaksanaan delapan fungsi keluarga serta apa tantangan yang dihadapi dalam mencapai optimalitas delapan fungsi tersebut), workshop lepetan (yang mengajarkan kekompakan dan kerjasama. Hal yang penting dalam keluarga), dan workshop satu musik tiga lirik (dan dua lirik) yang beda. Workshop yang terakhir ini melatih kita buat konsentrasi namun pada saat bersamaan juga harus melihat kanan kiri, empati, tepo seliro, dan mengerti kapan giliran kita.

Itulah yang berlangsung saat mereka di bawah komando Mas Jijid, Mas Yoyok, dan Mas Doni diberi tugas menyanyikan Ilir-ilir, Shalawat Badar, dan Ya Thaybah. Juga kemudian lagu Rek Ayo Rek, Lihat Kebunku, dan Sepedaku Roda Dua. Dan dua lagu lagi yang melibatkan gerakan badan. Sedangkan pada tiga lagu sebelumnya itu, musik dieksplorasi dari irama pelan hingga cepat, sehingga tampak akan diuji siapa yang istiqamah dan konsisten, serta bagaimana setiap kelompok bertahan dalam berkomposisi. Alhamdulillah, walau harus berjuang, pada workshop lewat musik ini, para kelompok bisa menunjukkan hasil yang bagus.

Nah, yang agak beda adalah presentasi tiga kelompok yang bertugas menjawab pertanyaan. Hampir semuanya terjebak memberikan penilaian kepada fungsi-fungsi keluarga seakan malah menilai tepat tidaknya klasifikasi BKKBN ini, padahal yang dimaksud adalah menilai keadaan keluarga pada umumnya di masyarakat kita ditinjau dari delapan fungsi keluarga tadi, misal bagaimana kenyataan fungsi agama di keluarga, bagaimana fungsi sosial budayanya, dan lain-lainnya. Jadi, Mbah Nun sebenarnya mengajak para partisipan dan kita semua itu iqra atau membaca apa yang ada di sekiling kita, yaitu keluarga-keluarga di masyarakat, yang ini bukanlah seperti membaca huruf-huruf. Benar, ternyata tidak mudah membaca yang bukan huruf, maka diperlukan latihan.

Namun, Mbah Nun mengingatkan, “Tak masalah kali ini belum tercapai atau belum terjawab, sebab yang terpenting pertanyaan-pertanyaan itu Anda bawa pulang, besok pagi bangun tidur, Anda mungkin punya jawaban yang lebih berkembang. Terus-menerus dijadikan bahan pemikiran. Jadi, latihan atau workshop ini baru pintu pembuka….” Pak Wabup secara spesifik memberikan respons atas presentasi para jubir kelompok ini, tetapi yang tak kalah pentingnya adalah catatan beliau atas Sinau Bareng ini bahwa Sinau Bareng ini mengajak aktif semua indera kita, dari mata sampai kaki, dan itu membuat semua hal atau pesan menjadi gampang diingat. Dari setiap sisi atau penemuan dalam workshop ini, Mbah Nun mengajak mereka menarik nilai dan prinsip yang penting dalam membangun keluarga.

Demikianlah sekilas yang dapat kita petik dari Sinau Bareng dalam rangka memeringati Hari Keluarga Nasional ke-26 di GOR Gadjah Mada Mojosari Mojokerto yang tentu tidak hanya berisi workshop, namun secara lebih intrinsik dapat kita rasakan suasana kedekatan (social intimacy) pada semua hadirin, terlebih ini adalah Mojokerto, arek-arek Jawa Timur, yang lugas egaliter dan ceplas-ceplos dan Mbah Nun sangat paham itu dan sangat sayang kepada mereka semua, anak-cucu yang kelak akan mengisi bangsa ini dengan sesuatu yang baru. Tembang apik Kolosebo dilantunkan Mas Islamiyanto menjelang acara usai.

Kurang lebih lima jam, ribuan orang hadirin dan jamaah ini telah duduk dengan penuh antusias dan partisipatif dalam Sinau Bareng ini. Belum benar-benar selesai, sebagian mereka berusaha naik panggung untuk bersalaman dengan Mbah Nun sehingga mereka diajak turun untuk lebih rapi dan tertib dalam bersalaman. Antusiasme mereka memang sangat tinggi. Tampaknya itu juga gambaran dari semangat mereka untuk mau bersimbah keringat dan tak enggan berdebu tangannya (matrobah) dalam mencari nafkah untuk keluarganya. Semoga.

Selamat Hari Keluarga Nasional ke-26. (Helmi Mustofa)

Buku Cak Nun