Mètes Mitos

Mukadimah Damarate Maret 2019

Mitos disebut sebagai cerita yang tidak memiliki asal-usul kebenaran atau tidak berdasar pada pemahaman ilmiah, tetapi dipercayai secara kolektif sebagai kebenaran. Karena itu, mitos menjadi liyan dalam konsep pengetahuan modernisme. Dalam oposisi biner, mitos adalah lawan dari rasionalitas. Namun, di sisi lain modernisme dengan rasionalitas yang diagung-agungkan, justru melahirkan mitos-mitos baru. Roland Barthes menyebutnya mitos-mitos modernisme.

Sebagai sebuah cerita, mitos dimasukkan dalam bentuk sastra lama yang berakar pada tradisi lisan atau folklore, seperti legenda, dongeng, hikayat, tambo, fabel, dan sebagainya. Namun, mitos memiliki nilai-nilai dan fungsi persuasif yang lebih melekat menjadi kepercayaan masyarakat daripada cerita lisan lainnya. Mitos kemudian dianggap takhayul karena posisinya sebagai cerita yang dipercaya kebenarannya. Karena itu, mitos memiliki beban makna peyoratif. Sekelompok orang, misalnya, bisa tersinggung jika kepercayaannya dianggap sebagai mitos.

Benturan antara mitos dengan rasionalitas tidak hanya masuk dalam wilayah sains, tetapi juga berbagai bentuk ritual maupun amaliyah keagamaan. Dalam terminologi Islam, mitos bisa masuk dalam ranah bid’ah maupun musyrik. Pada posisi ini, kita melihat bahwa mitos memiliki posisi yang sama dalam sains maupun agama. Jika sains memiliki sandaran logika dan empirisme, agama, dalam hal ini Islam, memiliki sandaran Qur`an dan Hadist. Pertanyaannya adalah bagaimana menempatkan mitos sebagai takhayul dan mitos sebagai sebuah sistem kepercayaan kolektif masyarakat, sebagai nilai, laku, dan kejatidirian.

Sesuatu atau cerita disebut mitos, dalam pengertian tradisional, manakala ia berada dalam dua kondisi: irasional dan kontinuitas. Irasional, sekali lagi, bukan hanya dalam pemahaman ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam agama yang tercerabut dari sunah dan kitab suci. Kontinuitas menjadi penanda penting bagi sesuatu atau cerita disebut mitos. Sebab, dalam kontinuitas itulah mitos kemudian dipercaya kebenarannya tanpa pembuktian. Sesuatu disebut mitos karena ia terus-menerus masuk dalam pikiran manusia. Dalam konsep yang lebih prestisius, mitos bisa menjadi ideologi.

Mari kita bayangkan sebuah objek agar pemahaman ini bisa lebih konkret. Baru-baru ini, misalnya, ada tayangan supranatural di televisi Indoensia, yakni acara menyibak ilmu hitam yang dilakukan oleh Roy Kiyoshi. Program ini menarik jutaan masyarakat karena Roy pada saat yang sama sedang menebalkan ingatan kolektif tentang peran ilmu hitam dalam kehidupan saat ini. Cerita santet, pesugihan, dll., misalnya, sejauh ini diterima sebagai mitos. Pun begitu dengan berbagai cerita-cerita misteri lainnya. Mitos dengan demikian menjadi istilah sebagai jawaban atas ketidakmampuan manusia menyibak berbagai misteri semesta maupun Yang Ada.

Ketidakberterimaan pada hal-hal di luar rasionalitas dan empirisme, kemudian memunculkan istilah sugesti. Istilah ini lahir pada dasarnya belum menjawab berbagai hal di luar nalar manusia yang “tidak bisa” dibuktikan dalam laboratorium. Karena itu, mitos pun berkembang dalam berbagai dimensi dan bidang kehidupan manusia. Pun dalam bentuk benturan-benturan, seperti ilmu kedokteran dengan pengobatan alternatif yang oleh sebagian masyarakat modern dianggap mitos.

Kembali lagi pada soal Roy Kiyoshi, timbullah pertanyaan: bagaimana bisa instrument yang dibawa oleh Roy maupun berbagai caranya bisa menyibak misteri ilmu hitam yang dimiliki seseorang. Dalam kerangka Islam, pertanyaan itu bisa juga muncul, semisal, bagaimana cara-cara seperti itu bisa berterima, sedangkan Islam punya caranya sendiri sesuai sunnah sang nabi, seperti rukyah. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan kerendahhatian dan tekat untuk belajar, khususnya tentang menerima perbedaan.

Bagaimana mitos, baik yang berakar pada tradisi maupun modernisme, beroperasi dalam kehidupan manusia, memengaruhi manusia, dan membentuk perilaku manusia. Bagaimana mitos-mitos tradisi menemukan kebenaran ilmiahnya maupun kebenaran sunahnya. Bagaimana kita memahami mitos-mitos modernisme, misal tentang kecantikan yang disemburkan oleh iklan-iklan yang berhasil membentuk definisi tentang cantik.

Pada posisi ini kita memahami bahwa sebuah cerita, mitos pada dasarnya diciptakan. Karena itu, ia juga bisa dimusnahkan. Mitos-mitos tradisional mungkin banyak ditinggalkan, tetapi mitos-mitos modern bermunculan seperti telah disebut di atas. Karena itu, tidak menutup kemungkinan adanya takhayul-takhayul modern yang diciptakan oleh kaum borjuasi. Di sinilah kita mengetahui bahwa mitos modernisme berkait erat dengan kekuasaan. Dan, ilmu pengetahuan dalam pertarungan kepercayaan terus salib-menyalib dengan mitos-mitos. (Umar Fauzi Ballah)

Buku Cak Nun