Menyatukan Perpecahan Dengan Cinta

Catatan Majelis Maiyah Kenduri Cinta ke-199, 15 Maret 2019

Banyak jamaah yang sudah menerka setelah poster Kenduri Cinta edisi Maret 2019 dirilis, dengan adanya unsur ilustrasi Tari Topeng Losari, bahwa ada sesuatu yang berbeda di Maiyahan Kenduri Cinta bulan ini. Dan ketika sore hari foto-foto persiapan Kenduri Cinta dirilis di akun Twitter resmi pun beberapa jamaah semakin bertanya-tanya mengapa panggung yang disiapkan lebih besar dari biasanya. Ya, pementasan tari dari Sanggar Nanik Topeng Losari adalah jawabannya.

Di Mocopat Syafaat Januari 2019 lalu, Mbak Nanik yang tak lain adalah keturunan ke-7 dari pencipta Tari Topeng Losari hadir di Kasihan, Bantul. Malam itu, Mbak Nanik mementaskan salah satu tarian dari Tari Topeng Losari. Mbak Nanik sendiri ternyata adalah salah satu sahabat dari Pak Toto Rahardjo dan Pak Tanto Mendut, juga dekat dengan Pak Jujuk Prabowo, sutradara Sengkuni2019 yang sama-sama juga menekuni Tari. Awalnya, Mbak Nanik dan anggota komunitas Sanggar Nanik Topeng Losari dijadwalkan untuk hadir di Kenduri Cinta bulan Februari 2019 lalu, namun saat itu bertepatan Mbak Nanik berada di Kamboja untuk mementaskan Tari Topeng di sana. Baru bulan Maret ini pementasan Tari Topeng Losari di Kenduri Cinta dapat terlaksana.

Meskipun sempat hujan, bahkan ketika sound system sudah tertata, dan hujan yang turun cukup deras, tak sedikit pun mengurangi kesungguhan penggiat Kenduri Cinta untuk mempersiapkan ubo rampe yang harus disiapkan. Sekitar pukul 5 sore, rombongan Sanggar Nanik Topeng Losari tiba di Taman Ismail Marzuki, alhamdulillah hujan sudah reda. Alat-alat gamelan ditata, dengan waktu yang tersedia. Setelah gamelan tertata dengan rapi, check sound dan blocking panggung dilakukan. Mbak Nanik turun langsung mencoba area panggung untuk menari. Total rombongan Sanggar tersebut berjumlah 35 orang yang terdiri dari para Nayaga, Penari dan juga beberapa orang crew dan make up artist.

Setelah Kenduri Cinta dibuka dengan wirid Tahlukah, beberapa penggiat membuka diskusi dengan para jamaah. Tema utama terangkum dalam judul yang diangkat: “NEITHER NOR”. Tema ini merespons kondisi zaman hari ini di mana polarisasi terjadi sangat runcing di berbagai lini, padahal hanya disebabkan oleh persoalan yang sifatnya sangat pragmatis: perbedaan pandangan politik. Dari suasana Pilpres 2019 kali ini sangat terasa betapa tidak sehat masyarakat Indonesia dalam membicarakan PILPRES di ruang publik. Bagaimana sebagian kelompok berusaha menggiring opini agar kelompok lainnya ikut memilih calon Presiden yang sesuai dengan pilihan mereka. Gerakan penggiringan opini ini mungkin tidak terstruktur, namun sangat massif seperti dikendalikan oleh beberapa pihak.

Barangsiapa yang tidak Pro 01 maka akan dianggap pendukung 02, begitu juga sebaliknya. Pertanyaannya adalah, apakah memilih 01 atau 02 itu berdasarkan pertimbangan like and dislike sehingga tidak ada ruang bagi masyarakat untuk meneliti misalnya kandidat mana yang memang bertujuan berjuang untuk rakyat Indonesia. Mbah Nun pada Maiyahan di Joglo Panembahan Yogyakarta beberapa hari yang lalu menyampaikan, bahwa siapapun Presiden yang terpilih nantinya itu tidak begitu penting, karena yang utama adalah bahwa rakyat Indonesialah yang harus menang dalam kontestasi PILPRES 2019 ini.

Tema ini memantik salah seorang jamaah bertanya, apakah ada posisi netral dalam hidup ini? Bagaimana caranya agar kita tetap dalam posisi netral? Sebuah pertanyaan sederhana, namun tidak mudah menjelaskan di forum Maiyahan seperti Kenduri Cinta ini. Di hadapan massa yang sangat beragam latar belakang pendidikannya, siapapun yang berbicara di podium Maiyah harus memiliki kepekaan untuk menyampaikan informasi yang bisa diterima oleh semua pihak.

Netral bisa diposisikan sebagai kondisi seimbang. Kehidupan manusia sangat dinamis, apalagi manusia sendiri adalah makhluk kemungkinan. Maka, kondisi netral atau seimbang adalah kondisi yang harus selalu diupayakan terus-menerus. Tidak mungkin seseorang berada pada satu titik yang stabil dalam waktu yang lama. Betapa dinamis hidup sehingga manusia selalu dalam kondisi yang Mbah Nun menyebutnya “disemogakan”. Semoga kita istiqomah, semoga kita berada di jalan yang lurus, semoga kita senantiasa dalam kondisi beriman, dan seterusnya. Itulah mengapa salah satu hikmah surat Al-Fatihah adalah salah satu ayat yang berbunyi ihdinash-shiratha-l-mustaqiim, bahwa kita sebagai manusia senantiasa memohon kepada Allah untuk selalu ditunjukkan jalan yang lurus; shirathal mustaqim. Tidak tanggung-tanggung, minimal dalam satu hari kita membaca ayat tersebut sebanyak 17 kali.

Menikmati Persembahan Sanggar Nanik Topeng Losari

Malam ini cukup istimewa di Kenduri Cinta. Saking istimewanya Mbah Nun bahkan datang lebih awal dari biasanya. Dan ketika datang, Mbah Nun segera bergabung dengan teman-teman yang sudah berada di panggung. Mbah Nun menyambut hangat kedatangan rombongan Sanggar Nanik Topeng Losari di Kenduri Cinta. Setelah satu per satu personel Sanggar Tari ini diperkenalkan oleh Mba Nanik, Mbah Nun sedikit memberi lambaran untuk mengantarkan pementasan tari malam tadi.

Mbah Nun menyampaikan bahwa berdasarkan daya pandang terendah yang dimiliki manusia, ketika melihat seorang penari sedang menari maka yang tampak adalah lekukan tubuh, gerak tangan, dan kaki. Tetapi, jika kita meng-upgrade sedikit daya pandang kita, maka yang kita lihat adalah keindahan dari sebuah tarian.

Tiga tarian kemudian dipentaskan; Tari Panji Sutrawinangun dan Tari Rampak Patih Jayabadra yang dimainkan oleh anak-anak didik Mbak Nanik di Sanggarnya. Kemudian Mbak Nanik sendiri menari Tari Tumenggung Mangandireja. Para penari didikan Mba Nanik ini masih sangta muda. Rata-rata usia mereka adalah 15-17 tahun. Dan sebagai catatan, dijelaskan oleh Mba Nanik bahwa tidak sembarangan orang boleh menari tari-tarian ini. Dibituhkan proses yang lama untuk memastikan bahwa seseorang memang layak untuk menjadi penari tari topeng. Bahkan, Tari Topeng sendiri adalah sebuah kesenian yang diwariskan secara turun-temurun, dan harus berdasarkan hubungan darah. Dan untuk menjadi catatan, bahwa penerus generasi selanjutnya bukanlah anak dari generasi yang hari ini, melainkan anak dari saudara, baik itu kakak atau adik dari generasi yang hari ini memegang tanggung jawab untuk menjaga tradisi Tari Topeng ini.

Buku Cak Nun