Menuju Peradaban Husnudhdhan, Dialektika Mikul Dhuwur Mendem Jero

Nomor Gundul Pacul akan dilantunkan, Mbah Nun memberi pengantar bahwa Gundul Pacul yang akan dibawakan oleh KiaiKanjeng ini merupakan hasil carangan, ijtihad. Dan dari situ kita diantar pada bahasan mengenai putaran siklus pakem-carangan dan carangan-pakem. Salah satu keistimewaan manusia Jawa-Nusantara menurut Mbah Nun adalah kemampuannya dalam menampung segala hasil ijtihad berbagai bangsa di dunia. Dan ini adalah bekal yang sangat ampuh dalam menghadapi masa yang akan datang, “Sebab ke depannya kita seluruh dunia akan menjadi satu”.

Memang, sekat-sekat bangsa dan negara sudah mulai hilang dan makin terasa seperti mitos saja. Apa yang kita sebut sebagai tembok batas negara sudah hilang getar pengaruhnya dalam diri manusia. Entah bagaimana, bahasan soal Gundul Pacul di awal acara ini saja, Mbah Nun sudah membukakan pada kita beragam pintu keilmuan.

Nomor ini salah satu yang dipinta khusus oleh pihak keluarga penyelenggara acara Ngaji Bareng di Joglo Panembahan pada Selasa tanggal 12 Maret 2019M. Joglo Panembahan ini dulu didirikan oleh almarhum Bapak Projo Narpodo pada tahun 1980. Seperti laiknya joglo, pembangunannya atas dasar niat sedekah sosial. Keberfungsiannya lebih banyak untuk warga sekitar. Zaman berlalu, lima putra-putri beliau almarhum tentu punya kenangan sendiri dengan joglo ini. Namun benarlah zaman berlalu, ada keksatriaan sendiri ketika manusia menyatakan ketidaksanggupannya atas satu dan berbagai hal.

Kelima putra-putri almarhum Pak Projo Narpodo sudah tidak memiliki kesanggupan untuk terus merawat joglo orang tua mereka. Joglo adalah bangunannya, yang penting tentu adalah ruh cita-cita di baliknya. Putra-putri mereka tidak punya kesanggupan merawat fisik bangunan tersebut namun tentu tetap merawat suburnya cita-cita.

Rasanya seperti kita sedang dipertontonkan miniatur perjalanan peradaban manusia. Kan manusia memang beranjak dari lingkup komunitas terkecil, keluarga, menjadi masyarakat, suku, bangsa, kesultanan, kerajaan hingga pada bungsunya lahirlah negara modern. Bentuk-bentuk itu seperti adalah orang tua yang punya cita-cita luhur, dan ketika sampai titik kemampuannya memang perlu melepas dan menyatakan bahwa bentuk yang dibangunnya sudah tidak pas dengan zamannya.

Kerajaan sudah lewat, tak lama lagi ternyata negara modern juga sudah tidak akan lebih lama usianya. Negara modern hanya perlu itiqad ksatriawi untuk mengakui ketidakmampuannya agar para anak zaman lega mencari bentuk baru. Ini yang masih belum. Maka baiknya memang dilepas dengan baik-baik, diingat cita-citanya dan itulah sejatinya “Mikul Dhuwur Mendem Jero” yang menjadi tajuk utama Sinau Bareng malam hari ini.

Kita mengenang sesepuh bukan untuk legitimasi dan romantisme masa lalu belaka, tapi untuk mengerti sabil dan thariq-nya arah zaman. Ini dijelaskan dengan singkat oleh Mbah Nun bahwa, “Salah satu penyakit orang modern adalah menganggap orang-orang terdahulu itu bodoh”. Ada yang perlu kita jangkepi dari kekurangan di masa lalu tapi itu tidak pernah berarti manusia di masa lalu itu bodoh.

Mohon izin tulisan ini sedikit romantis. Sebab kalau dibayangkan, betapa banyak tentunya kenangan beliau lima bersaudara dengan joglo peninggalan tiyang sepuh mereka. Tentu bukan hal yang ringan untuk melepas begitu saja. Ada nilai kenangan dan impian di baliknya dan itu tidak boleh tanggal. Sinau Bareng menjadi cara yang dipilih oleh pihak keluarga untuk tetap bersetia pada soko guru cita-cita sesepuh. Demikian itulah, sebuah peradaban tinggi mengenal yang namanya pusaka. Sebuah pusaka yang akan beralih tangan sering perlu pengayoman proses oleh sang wali pamomong.

Mungkin demi menjaga garis luhur cita-cita leluhur itulah, perpindahan kepemilikan Joglo Panembahan dari pihak keluarga kepada Pemda DIY melibatkan banyak instrumen dan perangkat kemasyarakatan. Turut hadir Ibu Kapolsek Keraton yang mungkin menjadi bintang cemerlang malam ini karena merdua suaranya dan confident sekali tampaknya, “Pulang dari Ngaji Bareng, insya Allah followers instagram saya nambah. Jangan lupa ya di-follow akun saya…” Ceria sekali ibu ini. Sayangnya nama akunnya lupa dicatat oleh yang menulis tulisan ini. Karena agak jauh jarak, lokasi Joglo Panembahan yang berada di sekitar Alun-Alun, dengan jalan kecil berkelok seperti labirin ini membuat penulis hanya bisa menyimak dari seberang, di sebuah kafe. Eladalah nama kafenya juga Cafe Eyang, komplit sudah nuansa kasepuhan terbangun.

Ada juga Pak Danramil yang ternyata sangat bangga bisa duduk berjejer dengan Mbah Nun. Dari panggung memancar-macar tumpah-ruah kebanggaan tersebut, sampai Pak Danramil mengaku foto beliau malam ini bersama Mbah Nun langsung beliau kirim ke grup-grup WA keluarga. Ada hal yang selalu tampak di Sinau Bareng, Ngaji Bareng ataupun berbagai majelis Maiyahan. Tawa, canda dan kemesraan yang tidak dibuat-buat. Seolah entah bagaimana atmosfer yang terbangun membuat setiap orang merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Lihat saja itu ibu Kapolsek dan Pak Danramil, benar-benar lepas. Padahal panggung tidak seberapa luas. Tapi jiwa memang ukurannya berbeda dengan bendawi.

Keapaadaan, kemurnian dan kesejatian manusia yang berada dalam lingkup nuansa Sinau Bareng ini mungkin yang terasa mujarab bagi pihak keluarga untuk melepas joglo peninggalan sesepuh mereka. Ada sakralitas dalam keapaadaan manusia, dan itulah sakralnya Sinau Bareng. Sakralitas itu, yang bukan sesuatu disakral-sakralkan tanpa makna dan tujuan, membuat pihak keluarga bisa yakin bahwa joglo ini ke depannya walau sudah dikelola oleh Dinas Pariwisata DIY tetap berada pada khittah tujuan awalnya. Bukan sekadar tujuan pariwisata yang dibisnis-bisniskan demi pemasukan, tapi tetap pada shadaqah sosialnya.

Buku Cak Nun