Menuju Ijazah Maiyah

Manusia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, tetapi tidak melalui jalan yang akan membawa mereka ke suatu titik pemahaman atas dirinya sendiri. Manusia salah sangka atas manusia. Diri manusia menjadi tak kunjung mencapai kesadaran atas diri manusia. Manusia melangkah dengan keangkuhan untuk memahami dan menaklukkan segala sesuatu di luar diri mereka, menguras alam, mengeruk bumi, menguasai sesamanya, sehingga tidak punya peluang untuk mengurusi pemahaman atas dirinya sendiri.

Manusia yang sempat mengenal informasi tentang “barang siapa mengetahui dirinya, maka ia mengetahui Tuhannya”, sampai sekian abad tetap berada dua langkah di belakang posisi “mengetahui Tuhannya”, karena yang ia sangka “dirinya” ternyata bukanlah dirinya.—Emha Ainun Nadjib

Majelis Masyarakat Maiyah memasuki perjalanan pada dekade ke-3. Bermula dari Padhangmbulan, embrio yang lahir di Menturo, Jombang. Setelah Padhangmbulan, berurutan muncul; Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, Kenduri Cinta dan Bangbang Wetan. Kini, tersebar 63 titik simpul Maiyah yang menyelenggarakan forum Sinau Bareng serupa dengan Padhangmbulan. 

Tahun ini, Kenduri Cinta menapaki perjalanan 19 tahun. Semangat kegembiraan adalah salah satu bahan bakar untuk menjaga kesetiaan berproses penyelenggaraan forum Sinau Bareng ini. Kesetiaan adalah salah satu nilai sejati kehidupan yang semakin pudar hari ini. Kesetiaan yang terbangun kuat bukan hanya karena 1-2 orang saja, tetapi semua yang terlibat dalam forum majelis ilmu ini menumbuhkan bersama-sama kesetiaan itu.

Proses menjaga kemurnian diri manusia dalam nilai kesetiaan merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menghindarkan diri melakukan perbuatan yang tidak disenangi oleh Tuhan. Melalui forum Majelis Masyarakta Maiyah Kenduri Cinta, kita semua berproses untuk terus belajar dan menemukan ketepatan langkah untuk melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan.

Ijazah Maiyah merupakan salah satu ungkapan rasa syukur masyarakat Maiyah Nusantara untuk memberikan apresiasi terhadap sosok-sosok yang menjaga 5 prinsip nilai: Kebenaran, Kesungguhan, Otentisitas, Kesetiaan dan Keikhlasan. Manusia yang mampu menjaga 5 prinsip nilai kehidupan itu adalah manusia yang layak untuk diteladani. Mereka yang menjaga 5 prinsip nilai itu tidak pernah menjadi tidak dirinya, mereka adalah pribadi-pribadi yang sungguh-sungguh untuk terus tetap menjadi dirinya sendiri, tanpa polesan, tanpa make up materialisme, tanpa rekayasa.

Seperti yang ditulis oleh Mbah Nun, Ijazah Maiyah ini bukan semacam award. Di Maiyah, Mbah Nun berulang kali mengingatkan kita bahwa tugas utama manusia sebagai hamba Allah adalah melakukan apa yang semestinya dilakukan. Ijazah Maiyah ini merupakan salah satu ikhtiar Masyarakat Maiyah untuk melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan.

Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail dan Iman Budhi Santosa adalah pribadi-pribadi yang telah terbukti pantas menjadi teladan atas keistiqomahan menjaga 5 prinsip nilai itu. Sutardji Calzoum Bachri adalah manusia teladan yang dengan kesetiaan nuraninya menikmati kesucian Allah, dengan menjaga otentisitas kepribadian ekspressinya. Taufiq Ismail adalah pribadi yang pantas menjadi teladan karena dengan keteguhannya menjaga akal sehat kemanusiaan dan peradaban, dengan totalitas perjuangan dan keikhlasan duka derita yang ia alami. Iman Budhi Santosa adalah sosok yang menjadi teladan karena ketekunannya menyelami keindahan karya Allah serta mensyukuri rahasia nilai-nilai dalam kehidupan.

Kenduri Cinta kali ini akan diselenggarakan pada 12 Juli 2019. Pada gelaran kali ini, Kenduri Cinta akan menyerahkan Ijazah Maiyah kepada 3 tokoh tersebut serta mengapresiasi karya-karya sastra mereka, Masyarakat Maiyah Nusantara mengungkapkan rasa syukur kepada Allah karena telah dipertemukan dengan sosok-sosok penuh kesetiaan ini.

Jauh sebelum era ini, Rasulullah saw sudah memperingatkan ummat manusia bahwa perjuangan yang paling berat adalah perjuangan melawan diri sendiri. Dan kita hari ini sudah tidak memerlukan lagi teori tersebut, karena pada akhirnya kita memang telah mengalami peradaban di mana manusia telah gagal mengalahkan dirinya sendiri. Manusia telah gagal total mengendalikan dirinya sendiri.

Dan Ijazah Maiyah adalah penghormatan yang hanya terbatas kepada beberapa orang saja. Ijazah Maiyah adalah penghormatan serta ungkapan cinta yang mendalam kepada siapa saja yang telah mampu melaksanakan kebenaran, kesungguhan, otentisitas, kesetiaan dan keikhlasan dalam diri dan kehidupannya, sebagaimana yang Allah perintahkan.

Seperti halnya Ijazah Maiyah di tahun 2011 lalu, sosok-sosok yang menerima Ijazah Maiyah adalah manusia-manusia yang sangat otentik, yang tidak pernah tidak menjadi dirinya. Mereka setia menjadi dirinya, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah.

Iman Budhi Santosa

Semoga, dengan Ijazah Maiyah ini, kita sebagai Masyarakat Maiyah juga turut belajar melalui keteladanan para penerima Ijazah Maiyah. Meneladani untuk menjadi diri kita sendiri yang sesungguhnya, yang memang Allah kehendaki. Kesempatan untuk hidup di dunia ini sudah seharusnya kita manfaatkan untuk melatih kepekaan diri kita agar mampu menikmati apapun saja yang telah dianugerahkan oleh Allah swt kepada kita.

Dan semoga, kita mampu menemukan Ijazah Maiyah pada kehidupan kita masing-masing dan juga bersama-sama di Maiyah ini.

Buku Cak Nun Majalah Sabana