Mensyukuri ‘Ajibah Maiyah

Catatan Majelis Maiyah Padhangmbulan, 14 April 2019, Bagian 2

Ketika tema ‘Ajibah diuraikan oleh Habib Anis dan Kyai Muzamil, telah rawuh Cak Fuad dan Syekh Nursamad Kamba. Pukul 24.00 WIB Beliau bergabung bersama jamaah. Perwakilan dari simpul Maiyah: Mas Sigit Aryanto dari Rembang, Mas Khairul Fahmi dari Poci Maiyah Tegal dan Mas Fahmi Agustian dari Kenduri Cinta Jakarta, turut menyumbangkan pengalaman ‘ajibah mereka.

‘Ajibah, keajaiban dari Allah, didaftari bersama dalam rangka meneguhkan rasa bersyukur. Beragam perspektif, sudut pandang, acara berpikir, melalui berbagai dimensi, lipatan, cakrawala dipelajari dan dijelajahi oleh Maiyah. Namun, satu hal yang tidak boleh luput dari fokus para jamaah adalah menemukan kembali fadlilah yang dipinjamkan Allah kepada kita.

Mbah Nun kerap memacu dan menanamkan militansi supaya menemukan mengenali, dan meneguhkan fadlilah kita. Ini bukan sekadar anjuran agar kita rajin bekerja–Mbah Nun berpesan, selain rajin kita juga perlu tekun dan menekuni fadlilah itu hingga mencapai “maqam” maestro. Salah satu figur yang bisa kita sebut dalam konteks ini adalah almarhum Pak Is, maestro seruling KiaiKanjeng.

Menemukan fadlilah diri kita masing-masing selain sebagai upaya pembacaan bahwa Tuhan memiliki maksud kelahiran kita di dunia, setiap individu Maiyah memiliki tanggung jawab terhadap kelangsungan penghidupan keluarganya. “Dengan bekal ilmu, pengetahuan dan pengalaman ber-Maiyah, Jamaah Maiyah memastikan penghidupan ekonomi diri dan keluarganya masing-masing. Mengambil keputusan tentang apa yang dipilih untuk dikerjakan dan diperjuangkannya, demi memastikan wala tansa nashibaka minad-dunya,” demikian pesan Mbah Nun dalam Bertanam Kesuburan di Kebun-kebun Maiyah, pada 2017 lalu.

‘Ajibah bukan sekadar disyukuri secara lisan formal. Konsekuensinya, fadlilah kita harus bermanfaat dalam bentuk keamanan penghidupan keluarga hingga skala kehidupan yang lebih luas.

Pada kesempatan ini Cak Fuad juga menguraikan makna kata ‘Ajibah, Ajaib dan Mukjizat. Pengalaman Beliau selama melakukan perjalanan dari Jakarta ke Timur Tengah tak luput dari perjumpaan ‘ajibah demi ‘ajibah paseduluran yang dijalin oleh jamaah Maiyah.

‘Ajibah juga dikandung oleh ayat-ayat Al-Qur`an, yang tidak sedikit kalangan intelektual Barat meragukan kebenarannya. Sedangkan dalam pembuka surat Al-Baqarah, dzaalikal kitaabu laa raiba fiih, kitab yang tidak ada keraguan sedikit pun merupakan pernyataan yang cukup telak meruntuhkan keraguan para intelektual.

‘Ajibah-‘ajibah yang lain dalam Al-Qur`an diuraikan Cak Fuad, seperti penemuan mayat Firaun dan proses reproduksi. Cukup banyak ilmuwan yang menemukan hikmah sehingga hidupnya berubah dan beriman kepada Allah. “Lalu, bagaimana dengan hidup kita? Apakah Al-Qur`an telah mengubah hidup kita?” tanya Cak Fuad.

Lebih khusus, Cak Fuad mengajak jamaah mencermati makna kata hikmah. “Allah menganugerahkan al-Hikmah (pemahaman yang mendalam tentang al-Qur`an dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah: 269).

Hikmah yang dimaksud adalah fahmu al-quran, pemahaman yang mendalam terhadap Al-Qur`an sebagai output dari al-‘aqlu al-salim, akal yang sehat. Ya, akal sehat itu memiliki ketepatan berkata dan bertindak. Presisi–kata yang kerap digunakan oleh Mbah Nun untuk menyebut ketepatan bertindak dan berkata. Atau orang Jawa mengatakan titis untuk menuding makna yang mengandung sikap akurat dan presisi. Lawan kata dari grusa-grusu.

Hikmah, pemahaman yang mendalam terhadap Al-Qur`an, diberikan kepada Ulul Albab. Siapa mereka? Adalah orang yang menggunakan akal sehat (al-‘aqlu al-salim). Albab adalah jamak dari Lubb yang artinya inti dari segala sesuatu. Ada yang berpendapat Lubb adalah hati tapi bukan Qalb (yang berbolak-balik), sebagaimana ungkapan doa: Yaa muqallibal qulub. Wahai Yang Maha Membolak-balik hati…

Lubb atau Qalb yang dimaksud bukan liver, melainkan al-mudlghah atau jantung. Di dalam jantung, menurut penjelasan Cak Fuad, terdapat “sel-sel” yang berfungsi sebagai “software” dan mengendalikan otak saat menjalankan proses berpikir. Inilah yang dimaksud sebagai Lubb. Allah mengungkapkan hal tersebut di antaranya dalam ayat: “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat berpikir atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?” (Al-Hajj: 46)

Oleh karena itu, Cak Fuad berpesan agar kita tidak bosan mengolah diri: membaca ayat-ayat Allah, baik ayat yang tertulis, yang terdapat dalam diri kita maupun yang terhampar di alam semesta. Dalam hal ini Syekh Nursamad Kamba menyampaikan catatan yang perlu kita kerjakan bersama. Juga pesan dari Mbah Nun terkait ayat: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (Al-Ankabut: 69).

Simak catatan Pengajian Padhanmbulan selanjutnya.[]

Buku Cak Nun