Meniti Perjalanan Sejarah Lampung #1

Mukadimah Maiyah Dualapanan Juli 2019

Ditarik secara induktif sebagaimana keberadaan Ratu Darah Putih yang menurunkan perjuangan sampai pada masa Pahlawan Nasional Radin Intan II. Menurut sumber sejarah, Ratu Darah Putih adalah keturunan Sunan Gunung Jati yang beristeri Putri Sinar Alam dari Keratuan Pugung, yang melahirkan Ratu Darah Putih, dalam lintasan sejarah ia menyebarkan agama Islam di tanah Saksi secara demografi tempat itu menjadi pertemuan 3 sungai, konon tempat itu tempat itu menjadi sarana transportasi air untuk perdagangan dan manusia. Di dekat itu Ratu Darah Putih dimakamkan.

Penggiat Maiyah Dualapanan ziarah ke makam Ratu Darah Putih, Insya Allah ada karomah Ratu Darah Putih, pada malam hari itu kondisi gelap tanpa ada penerangan tetapi bisa melihat sesama peziarah dan pepohonan disekitarnya, bahkan tidak ada seekor nyamuk pun yang mengusik ketenangan para peziarah, hanya ada suara air mengalir dari pertemuan 3 sungai tersebut.

Ada konsistensi dari para ahli waris dan para abdi dalom untuk menjaga makam Ratu Darah Putih dan istrinya tidak dijadikan destinasi wisata religi alasannya untuk menjaga kesakralan dan marwah Ratu Darah Putih. Pada perjalanan sejarah kelak melahirkan Radin Intan II.

Sekilas tentang Radin Intan II, tentunya ada Radin Intan I yang merupakan kakek dari Radin Intan II, tetapi yg paling dikenal adalah Radin Intan II, karena sejak usia 14 tahun, sudah berjuang melawan penjajah, dengan perawakan yang berisi, tinggi, semampai, dan matanya penuh wibawa, Radin Intan II adalah seorang yang memiliki pengaruh besar dan memiliki kesaktian sehingga sulit untuk ditaklukkan, bahkan Belanda pernah menawarkan agar Radin Intan II untuk belajar hingga di Hindia Belanda tetapi ia menolak.

Ada dokumen penting di petilasan Radin Intan II yaitu perjanjian antara Lampung dengan Banten, salah satunya adalah ketika Banten diserang, maka masyarakat Lampung berada di barisan terdepan, dan sebaliknya, artinya antara Lampung dan Banten tidak bisa dipisahkan dalam penyebaran syiar Islam di Indonesia bagian barat.

Maiyah dualapanan dengan meniti kesejarahan Lampung, khususnya Ratu Darah Putih dan Radin Intan II untuk memberikan inspirasi kepada masyarakat Lampung umumnya dan masyarakat maiyah dualapanan khususnya, agar menjunjung tinggi budaya dan perjuangan Ratu Darah Putih dan Raden Intan II. Selanjutnya dengan mengetahui dan memahami semangat perjuangan Radin Intan II agar generasi mulai dapat mengambil sisi baik dari perjuangan Radin Intan II bahwa meniti kesejarahan Lampung menjadi penting untuk meneladani sekaligus memberi pencerahan pentingnya sejarah Lampung dan tidak melupakan Lampung dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ada sebuah pertanyaan mendasar di mana harus disalurkan royalti nama besar pahlawan Radin Intan II, mengingat jasa dan nama Radin Intan II sudah digunakan sebagai nama jalan, organisasi, bandara, perguran tinggi, dll. Sementara sebagaian dari mereka yang menggunakan nama besar Radin Intan II tidak semuanya mengenal Radin Intan II, atau bahkan tidak mengetahui dimana makamnya dan atau dimana keluarga yang masih ada saat ini. Seharusnya mereka yang diuntungkan dari kesadaran akan sejarah Radin Intan II memberi perhatian untuk fasilitas pendidikan, kepustakaan, dan meseum perjuangan Radin Intan II, guna menginspirasi generasi muda yang lahir, tumbuh dan berkembang di Lampung untuk tidak menampakkan kearifan lokal yang telah dibangun oleh pahlawan Radin Intan II.

Kesalehan dan kewibawaan Ratu Darah Putih serta semangat perjuangan Radin Intan II dapat dijadikan materi sinau bareng bersama majelis ilmu masyarakat Maiyah Dualapanan dan dibersamai dengan kegembiraan Dualapanan Ben akan menghibur dan membawa kebersamaan dalam persaudaraan maiyah.

Dalam hati yang bersih dan pikiran yang jernih mari melingkar dan bergembira bersama Majelis Ilmu Masyarakat Maiyah Dualapanan, pada hari Minggu 28 Juli 2019, Pukul 20.00 s/d selesai, di Pondok Pesantren Al-Muttaqien, Kemiling, Bandar Lampung.

Buku Cak Nun