Menikmati Keseimbangan melalui Harmoni “Ngegas” dan “Ngerim”

Pukul 18.30, saya berangkat menuju Kec. Tanjunganom Kab. Nganjuk. Sejak di depan stasiun Jombang saya menjumpai rombongan motor CB. Ternyata, arah tujuan kami sama, stadion Warujayeng Kab. Nganjuk. 

Malam itu, Klub CB Nganjuk mengadakan Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. Rangakaian acara Ulang Tahun ke-31 CB Nganjuk digelar sejak pagi hari Jumat (4/10/2019). Acara dipuncaki Sinau Bareng dengan tajuk Sinau Ngegas Ngerim.

Terminologi ngegas dan ngerim cukup akrab di telinga jamaah Maiyah. Uniknya, terminologi ini seperti tumbu ketemu tutup dengan semangat Klub CB Nganjuk.

Mbah Nun mengajak jamaah menemukan idiom lain terkait perilaku manusia dan yang semakna dengan ngegas dan ngerim. Kita bisa mencatat, misalnya terlalu kenyang (kuwareken) dan terlalu lapar (keleson), terlalu kencang dan terlalu pelan.

Mbah Nun menyarankan agar kita tidak ngegas ketika seharusnya ngerem, dan tidak ngerim ketika seharusnya ngegas. Dua kutub ini ditemukan komprehensifnya. Diwaspadai konteksnya. Ditimbang akurasinya.

Hal ini menjadi catatan khusus mengingat sejumlah persoalan hidup dipicu oleh perilaku ngegas dan ngerim yang tidak akurat penerapannya. Akibatnya, kita memacu kencang-kencang nafsu dan syahwat. Sedangkan terhadap nilai-nilai kemuliaan kita mengeremnya kuat-kuat.

Bukankah hal itu menunjukkan laku hidup yang terbalik-balik? Dan inilah awal mula tragedi hidup manusia, mulai skala pribadi hingga lingkup hidup bernegara.

Sambil terus menyimak pemaparan Mbah Nun, saya mlipir berkeliling dalam stadion. Luar biasa antusiasme mereka yang hadir. Setiap bagian tanah lapang dipadati oleh jamaah. Baik mereka yang datang sambil membawa tikar dari rumah hingga pedagang keliling yang menjajakan qohwah jahanam alias kopi panas dan sejumlah makanan kecil.

Ini peristiwa kebudayaan yang jarang ditemui. Mereka seperti merindukan suasana yang penuh kehangatan. Angin yang berhembus kencang — karena Nganjuk adalah kota angin — tidak mengurangi kemesraan mereka.

Suasana pengajian “tempoe doeloe”, khas Sinau Bareng, terasa kental. Duduk lesehan di atas tikar bersama keluarga, teman atau para sahabat, di bawah langit malam, sambil menyimak poin-poin ilmu, menerbitkan perasaan damai. Sinau Bareng memang lebih dari sekadar ceramah atau pengajian pada umumnya.

Belum lagi inisiatif panitia yang menyediakan stan-stan untuk para pedagang. Malam itu stadion Warujayeng menjadi pasar rakyat. Mulai penjual aneka ragam panganan, asesoris khas CB Nganjuk dan Maiyah, hingga onderdil motor ada di sana. Fenomena Sinau Bersama seperti ini tampaknya belum meluluhkan keangkuhan Indonesia.

Yang menarik perhatian saya adalah spot foto yang disediakan Panitia. Panggung setinggi setengah meter dengan backdrop foto Mbah Nun, ramai dikunjungi jamaah. Mereka memanfaatkan momentum “3 Dekade 1 Harmoni”. Tidak ada yang rebutan mengambil tempat. Mereka mengambil posisi foto yang tidak mengganggu posisi orang lain. Tidak ada pemberi komando sehingga secara suka rela mereka bergantian dan saling memberi tempat.

Aslinya, masyarakat kita adalah masyarakat yang cinta damai. Mbah Nun kerap menyampaikan fakta ini. Juga malam itu, Beliau menegaskan agar kita saling kantil, melekat satu sama lain, terikat dalam tali kebersamaan dan kerukunan. Saya menyaksikan kemesraan hidup bebrayan.

Diam-diam saya juga mengamati perilaku jamaah yang berjalan di antara jamaah lain yang duduk lesehan. Anak-anak muda itu  merendahkan badan saat melewati sela-sela jamaah. Perilaku memberi hormat, amit nyuwun sewu, sambil agak membungkuk, menjadi pemandangan yang menyejukkan hati.

Itulah beberapa adegan “di luar panggung” yang sempat saya rekam. Adegan tersebut menyatu dengan adegan di atas panggung menjadi sebuah orkestrasi Ngaji Bareng yang penuh harmoni.

Tidak heran apabila saat mengawali acara, Mbah Nun juga menyapa jamaah yang jauh dari panggung. Semua yang hadir, di depan, belakang, kiri atau kanan panggung berada dalam rengkuhan cinta dan kasih sayang.

Maka, berada di dekat atau jauh dari panggung tidak jadi soal. Selain bisa menyaksikan melalui big screen, kita terhubung melalui ikatan batin. Jarak tidak pernah memisahkan kita.

Itulah kiranya kita mesti mengerti, salaman pun bisa dilakukan secara batin. Berulang kali Mbah Nun menyampaikan hal ini. Selain karena Beliau perlu segera bergegas menuju acara berikutnya, tidak bisa bersalaman tidak mengurangi kadar cinta kita.

Cinta kita kepada Beliau dan Marja’ Maiyah marilah ditumpahkan melalui sejumlah kegiatan yang memberikan manfaat kepada sesama. Isyarah semacam ini terbaca gamblang karena Mbah Nun berulang kali menyampaikannya.

Itulah mengapa di awal acara Beliau membaca Surat At-Taubah ayat 128-129. Tidak tega, tidak mentoloan, gampang merasa welas dan kasihan kepada sesama makhluk Allah adalah perilaku yang dibimbing oleh cahaya ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hingga sifat rouf dan rahim.

Selamat berulang tahun, Kawan-kawan CB Nganjuk.

Buku Cak Nun