Mengapresiasi Wasilah Peradaban dengan Berguru Langsung Pada Allah

Catatan Sinau Bareng CNKK di Ponpes At-Ta'awun Klaten, 13 Maret 2019

Ada juga pertanyaan dari Mbah Nun soal kapan kita berhadapan dengan Allah secara langsung dan kapan perlu wasilah? Pertanyaan yang ditujukan pada kelompok Abu Bakar inilah yang sebenarnya membuka samudera kemesraan dan keilmuan dan kalau bisa kita sebut dekonstruksi atas narasi wasilah yang terlanjur beku sekian lama ini.

Tentu saja karena pondok pesantren At-Ta’awun selain sedang memperingati milad juga sedang prosesi wisuda Al-Qur`an santriwan dan santriwatinya, beberapa nomor KiaiKanjeng dibawakan. Sesuai tema tentu saja di awal acara Khotmil Qur`an mengalun. Dan hampir setiap kali nomor-nomor nada dibawakan oleh KiaiKanjeng selalu membuka lagi pintu ilmu. Mbah Nun menjelaskan setelah khatmil Qur`an mengenai yang mana Al-Qur`an yang sebenarnya? Kalau yang bertuliskan ayat-ayat itu menurut Mbah Nun itu adalah Al-Qur`an dalam bentuk kitab atau mushaf. Al-Qur`an yang sejati menurut Mbah Nun ada pada kapasitas manusia dalam menerima sinyal wahyu, sedangkan yang bertulisan-tulisan itu dia menjadi pemantik pencarian manusia. Senada dengan itulah ada juga pertanyaan kepada kelompok workshop lain mengenai apa bedanya syariat Allah, Syariat Islam, dan Fiqh ulama. Ternyata dalam ketiga hal ini kita sering tertukar.

Cukup panjang juga kemudian dibahas pada malam hari ini mengapa Rasulullah selama hidup di Madinah tidak menggunakan struktur kekuasaan atau bahkan tidak menggunakan istilah khalifah tapi Abu Bakr RA dan seterusnya menggunakan kekhalifahan atau sistem pemerintahan. Untuk yang ini bisa kita katakan malam agak menghangat. Jawaban yang muncul dari jamaah dan kelompok beragam. Ada yang mengajukan jawaban bahwa karena setelah Rasul Saw tidak ada yang mampu melakukan demikian. Kiai Muzammil punya tawaran jawaban berdasarkan bahasa yang menarik, “Bahasa Arabnya depan itu Amama, maka orang yang di depan itu namanya Imam. Kalau belakang itu Kholfun, maka pelakunya khalifah.” Dengan logika bahasa semacam ini Kiai Madura yang satu ini menawarkan bahwa gelar khalifah justru dipakai karena kerendahhatian para generasi sahabat.

Namun tampaknya yang benar-benar ingin dicuatkan oleh Mbah Nun melalui pertanyaan ini adalah, kenapa pada masa Rasul masyarakat Madinah bisa berhasil ditransformasikan tanpa kekuasaan tapi setelah Rasul Saw orang malah langsung menggunakan kembali kekuatan politik dan kekuasaan? Yang mana waktu itu istilahnya khalifah. Mbah Nun menggoda, “Kenapa tidak ada yang mencoba melakukan seperti yang dilakukan oleh Kanjeng Rasul?” Mbah Nun mengajak bertanya, “Apakah kita ini serius ittiba’ Rasul? Adakah orang yang benar-benar serius mengikuti jalan kenabian?” Pertanyaan Mbah Nun itu membawa perenungan yang sangat dalam.

Betul-betul terasa. Malam tiba-tiba sunyi, mungkin semua melihat ke dalam diri masing-masing. Kenapa kita bisa ada di sini? wasilah peradaban macam apa yang membuat kita melahirkan generasi berdebat di medsos? Warisan generasi masa lampau macam apa yang membuat kita berpikir bahwa negara dan kekuasaan sangat penting sehingga kita harus sibuk dengan pilpres yang jelas hanya urusan negara. Bukan kita.

Kalau kita memang mau serius berbicara rentetan jalur sanad dan nasab, juga mengapresiasi wasilah-wasilah peradaban kita, apa yang dilakukan oleh Mbah Nun dan dibahas malam ini mungkin adalah yang sangat tepat untuk saat ini. Nama-nama tidak dikeramatkan, kita lihat kembali bahwa pada jalur wasilah peradaban kita mungkin ada kekurangjangkepan, ada kekurangan presisi, kekurangakuratan atau justru ada formula-formula, resep dan racikan yang terlalu overdosis. Rasanaya itu yang sangat berharga pada setiap majelis Maiyah, bisa dan mau melihat masa lalu secara apa adanya. Tidak terlalu mengkultuskan juga tidak terlalu merendahkan. Kalau kita terjebak pada salah satunya, kita akan menuai zaman yang karut-marut, yang hampir mustahil diperbaiki karena kesilapan ditutupi oleh kekeliruan demi kesilapan berikutnya.

“Persolan bangsa ini tidak bisa diperbaiki oleh siapapun yang terpilih nanti. Hanya ada empat alasan yang bisa membuat bangsa ini berubah yakni wabah atau endemi besar-besaran, bencana alam besar bersamaan, revolusi total dari rakyat, atau perang saudara. Dan kita berdoa agar itu tidak perlu terjadi,” Mbah Nun menawarkan pembacaan kondisi dan sejauh yang penulis sendiri bisa amati, memang tidak ada harapan selain itu. Tapi di situlah lantas letaknya iman.

Tiba-tiba bahasan bahwa Allah tidak berhingga jumlah sifatnya menjadi krusial untuk kita pahami. Karena dengan begitu kita bisa mematok batasan pembacaan kita dan bisa punya setitik optimisme bahwa mungkin sekehendaknya Allah Swt bisa saja terjadi perubahan tanpa perlu mengalami empat penggugat tersebut. Bisa. Kenapa bisa? Karena Allah Maha Segalanya.

Dan bukankah tergelarnya Ngaji Bareng seperti malam ini juga adalah usaha minimal yang bisa kita lakukan untuk menawar campur tangan Allah terhadap berbagai persoalan bangsa ini? Bangsa terlalu lama dijajah oleh negara. Dan negara tidak pernah berdiri dengan otentisitas. “Merdeka kok malah bikin republik?” canda Mbah Nun. Kita memproklamirkan diri berdaulat tapi kemudian tidak pede kalau tidak seperti yang pernah singgah menjajah. Tapi terlanjur dan terlanjur, sudah rentetan sanad yang menjadi wasilah peradaban kita mengantarkan kita pada kondisi ini.

Dalam dan luasnya bahasan malam hari ini membuat doa yang dilantunkan pada penghujung acara sangat bernilai khusyuk rasanya. Sesepuh pondok sempat mengucapkan bahwa Ngaji Bareng bersama Mbah Nun malam ini seolah para santri diajak meloncat ke maqomat hakikat. Mungkin ilmu hakikat tidak harus sengeri yang dibahas di berbagai komunitas spiritual. Mungkin justru hakikat adalah kewajaran berlaku dan menemukan seserpihan ayat-ayat di berbagai fenomena. Seperti yang kita selalu dan akan terus lakukan di berbagai majlis Maiyah.

Buku Cak Nun