Mengapresiasi Wasilah Peradaban dengan Berguru Langsung Pada Allah

Catatan Sinau Bareng CNKK di Ponpes At-Ta'awun Klaten, 13 Maret 2019

“Sekarang ini banyak petugas wasilah yang posisinya seakan-akan menggantikan Allah.” Kalimat yang diucapkan oleh Mbah Nun di hadapan para jamaah, hadirin serta para pejuang di pondok pesantren At-Ta’awun tersebut kalau kita hanya pahami sepenggalan bisa-bisa menjadi salah kaprah dan dikira sedang menggelontorkan wacana anti wasilah. Walau kalau berkeyakinan begitu juga tidak apa.

Hanya saja menurut Mbah Nun setelah sekian lama berlangsungnya peradaban ummat manusia, orang tidak bisa menghindar bahwa segala sesuatu ternyata butuh wasilah. Kata wasilah ini juga bukan hal yang ngeri-ngeri spiritual sufistik, tampaknya Mbah Nun memberikan kita alternatif narasi di mana wasilah itu bukan hal yang serem-serem amat, tapi juga tidak harus dienyahkan begitu saja. Wasilah dalam bahasan pada penghujung Ngaji Bareng tanggal 13 Maret 2019 Masehi ini dibabarkan seperti alur alir yang meruntut. Jangankan soal ibadah atau pemahaman ilmu, setiap kata yang kita gunakan sehari-hari saja pasti ada alurnya hingga dia bisa terserap di dalam pikiran kita dan kemudian bisa kita gunakan.

Bagi Mbah Nun, orang tidak mungkin menghindar dari wasilah namun juga, ada fenomena di mana wasilah dibekukan, diseram-seramkan, dieksklusifkan sehingga dia seperti legitimasi terhadap satu wacana. Jadi ada dua ekstremis, yang ekstrem memuja nama-nama runtutan wasilah dan membela mati-matian seperti membela tuhan dan yang satu yang sangat anti terhadap wasilah. Kita sudah mafhum, di Ngaji Bareng dan di berbagai majelis Maiyah kita selalu mencari titik tengah yang krusial dan substansial dari berbagai persolan.

“Anda tidak bisa menghindar dari wasilah,” ungkap Mbah Nun, dari panggung sementara di depan panggung gerbang masjid dan pondok pesantren At-Ta’awun berdiri megah, menjulang dan bersinar kehijauan gemerlap namun teduh hijau di mata. Para ibu-ibu menyimak dan berceloteh, beberapa kali khusyuk sering tertawa. Entah kenapa rasanya malam ini sangat dominan nuansa ibu-ibu padahal jamaah pria tak kalah membludaknya.

Bahasan soal wasilah ini mengemuka dalam sesi workshop yang para pesertanya diracik menjadi lima kelompok dengan unsur-unsur yang bercampur dari para santri, asatidz, masyarakat sekitar hingga jamaah random. Mbah Nun disebut oleh para tokoh pondok dengan berbagai gelar seperti kiai, ulama, muballigh bahkan intelektual muslim. Tapi di samping beragam sebutan itu adalah luapan rasa syukur dari para pengurus pondok atas hadirnya kembali Mbah Nun dan KiaiKanjeng di pondok ini. Menurut salah satu sesepuh pondok, tepat lima tahun yang lalu juga Mbah Nun membersamai para santriwan dan santriwati serta seluruh tenaga pengajar di pondok ini dalam acara serupa. Mungkin itu kenapa antusiasme tidak hanya terasa pada lingkup pondok, para warga berbondong-bondong datang dan ikut bergembira bersama.

“Siapakah guru utama kita?” Sempat Mbah Nun membuka sedikit pertanyaan yang menggeliatkan pikiran. Dan ini dilanjutkan langsung oleh Mbah Nun dengan ayat, “‘Allamal insaana maa lam ya’lam. Jadi walaupun Anda belajar di pondok tapi tetap guru utamanya adalah Allah Swt”. Memang Mbah Nun tidak begitu mengambil posisi sebagai pemberi wejangan walaupun pada sambutan seorang sesepuh ada ungkapan bahwa para warga dan penduduk pondok sangat merindukan wejangan dari Mbah Nun yang mereka cintai. Di akhir acara, ada satu pernyataan Mbah Nun yang terasa menjawab hal tersebut walau tampaknya tidak diniatkan untuk menjawab.

Bahwa yang dilakukan oleh Mbah Nun dan KiaiKanjeng bukanlah memberi wejangan, anjuran, nasihat atau tutur-tutur pitutur. Namun Ngaji Bareng adalah semua yang terlibat mau mengaktifkan akal pikirannya. Seringnya agar akal pikiran aktif memang butuh sedikit gelitikan atau gangguan. Maka Mbah Nun apalagi malam ini, lebih banyak memberi pertanyaan-pertanyaan pancingan. Peradaban dan budaya pengajian memang tidak buruk, banyak baiknya. Tapi kebiasaan selalu mendengar, menelan tanpa ikut mengunyah telah menjadikan kita selama berabad-abad ini manja secara keilmuan. Produknya kita lebih banyak melihat orang nakal secara tingkah tapi jinak secara pikiran. Sehingga banyak yang mudah dimassakan, gampang dijadikan bagian dari ormas dan cukup murah untuk militan dangkal pada golongan sempitnya. Ngaji Bareng berusaha melengkapi sisi itu pada masyarakat kita.

Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dalam workshop malam hari ini mungkin cukup mewakili hal tersebut. Banyak konsep yang telah lama dianut beku, entah sengaja atau tidak tertabrak dan terhantam. Dalam hal ini, jamaah Maiyah mungkin tidak begitu kaget-kaget amat tapi dalam atmosfer pondok hal ini terasa sekali membawa sedikit keterkejutan positif. Itu tampak dari paras ibu-ibu dan para hadirin. Nah kan ibu-ibu lagi. mungkin memang malam ini ibu peradaban sedang tersenyum pada majelis ini.

Tapi kita bisa paham bahwa aslinya manusia Nusantara memang punya potensi bandel wal nakal wal liar bin imajinatif. Hanya karena selama berabad-abad sistem pendidikan menjinakkan, potensi itu terredam dan tak jarang malah keluar sebagai agresivitas di ranah yang justru tidak pada tempatnya. Mungkin itu kenapa ada klitih. Tapi itu lain bahasan. Ketika diminta untuk membentuk kelompok, tercetuslah nama-nama kelompok dengan nuansa Islami Arab. Hanya satu yang getaran bunyinya tidak mengandung Arab yakni kelompok Laskar Pelangi dan ketuanya namanya Prabowo yang cita-citanya ingin menjadi pengusaha sukses dunia-akhirat. Selainnya ada kelompok Bilal bin Rabah, Abu Bakar, dan Al-Hidayah. Masing-masing kelompok mendapat jatah pertanyaan yang perlu didiskusikan dan dijawab bersama, para hadirin yang lain juga tentu boleh membawanya dalam pikiran masing-masing.

Ada pertanyaan soal berapa jumlah sifat Allah. Yang ini, karena sudah banyak bahasan dalam kitab-kitab masa lalu beberapa jawaban yang muncul tampaknya mencantelkan diri pada teori dari kitab para ulama, misal soal sifat wajib dan sifat mustahil Allah. Tentu itu adalah hal yang baik, tapi demi sedikit mengusik pikiran, Mbah Nun menjabarkan bahwa itu adalah yang bisa dijangkau oleh pemahaman manusia. Menurut Mbah Nun karena itu kita tdak mungkin menggapai Allah dengan ilmu. “Yang bisa Anda gapai, gunakan ilmu. Sedangkan yang tidak bisa anda gapai gunakanlah iman,” begitu Mbah Nun ungkapkan.

Sembari kita juga mengingat-ingat bahwa belakangan ini, kita malah sering terbalik. Hal-hal yang mestinya bisa ditelusuri dengan ilmu malah kita imani dan kita keramat-keramatkan, kembali ke materi awal paragraf tadi nama-nama sanad, nasab dan wasilah itu misalnya. Ribuan deret nama yang turun-temurun hanya jadi rangkaian yang tidak dibedah dan didalami akhirnya hanya jadi iman, keyakinan yang tidak bisa diperdebatkan dan didiskusikan. Padahal bisa diilmui. Sebaliknya justru banyak perdebatan yang pembahasannya adalah pada ranah iman, yang aslinya orang sama-sama tidak bisa membuktikan. Hal ini dalam Ngaji Bareng kita cicil perbaiki sedikit demi sedikit.

Buku Cak Nun