Menemukan Ilmu Yang Mempersatukan di Huma Maiyah

Dalam endorsement Mbah Nun untuk buku Bu Anne Rasmussen yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: “Merayakan Islam dengan Irama”, ada kalimat yang menggambarkan bahwa kebanyakan ilmu pengetahuan memecah belah, sementara cinta mempersatukan namun Bu Anne dengan kedalaman ilmu beliau mampu menemukan ilmu yang mempersatukan hati manusia. Dalam endorsement itu juga Mbah Nun menyebut Bu Anne sebagai “komandan cinta”. Penggalan dalam endorsement tersebutlah yang kemudian digali oleh Mas Helmi saat di panggung bersama Mas Patub. Kalimat singkat tersebut bila dibedah bisa sangat luas ternyata.

Mas Helmi mengatakan bahwa banyak akademisi terutama akademisi ilmu sosial mempriduksi “kesok-tahuan” terhadap kondisi nasyarakat yang mereka teliti dan efeknya adalah sering terjadi pengklasifikasian beku yang justru makin parah ketika setelah pengetahuan tersebut diproduksi dan disebarluaskan. Kita mungkin bisa ambil contoh klasifikasi “santri, abangan dan priyayi” ala Clifford Geertz untuk ini. Penelitian sosialnya tentu tidak perlu disalahkan karena dia adalah salah satu pembacaan saja, tapi ketika dia direproduksi terus-menerus, maka justru terjadi pembelahan di masyarakat.

Kita perlu kembali ke kesadaran awal, bahwa penelitian akademis selalu punya limitasi pandang. Mas Helmi juga menceritakan ihwal siapa itu Bu Anne K. Rasmussen. Bu Anne datang sedikit terlambat, bukan karena hari ini tanggal 4 Juli adalah independence day bagi warga US di mana Bu Anne menjadi warga negara, tapi Bu Anne terjebak macet akibat festival seni di kota Yogyakarta sedang dibuka. Kota Yogya sedang sangat ramai. Mas Helmi menceritakan juga mengenai persahabatan antara Bu Anne dan KiaiKanjeng serta Mbah Nun. “Sampai hari ini tiap Bu Anne di Indonesia beliau pasti mencari tahu Mbah Nun dan KiaiKanjeng sedang ada acara di mana dan berusaha bertemu,” ujar Mas Helmi.

Mbah Nun tiba di Pendopo Rumah Maiyah dan naik ke panggung bersama dr. Eddot dan Kiai Muzammil. Baru saja Mbah Nun sedang menyapa para hadirin yang memenuhi pendopo Rumah Maiyah sore ini, ternyata tak lama Bu Anne tiba juga. Beliau langsung ke panggung dan menyalami semua yang berada di panggung serta menyapa seluruh hadirin. Bu Anne memohon maaf atas keterlambatannya. Sesungguhnya Bu Anne ingin mengubah jadwal penerbangannya, begitu tahu bahwa akan ada acara Sarasehan ini tapi ternyata jadwal penerbangan menuju Yogyakarta sangat penuh.

Bu Anne merasa sangat bahagia apabila berada di tengah manusia-manusia Maiyah, beliau tidak pernah berhenti terkejut atas kemeriahan sambutan dan kemesraan yang beliau terima. Bu Anne secara khusus menggambarkan perasaannya ketika pertama kali mengenal Maiyah. “Saya seorang professor, sehingga saya tidak bisa percaya ada acara seperti ini.” Bu Anne saat pertama kali berinteraksi dengan Mbah Nun, KiaiKanjeng dan Maiyah sudah bukan awam betul soal praktik kegiatan sosial masyarakat muslim di sini. Beliau tentu sudah memahami ada yang namanya pengajian, majelis shalawat, majelis dzikir, kumpulan kebatinan atau apapun. Tapi fenomena Maiyah memang sesuatu yang berbeda dari yang sudah-sudah lalu itu.

Mbah Nun menyambut dengan sangat hangat, jabatan mesra sambil mengucapkan, “Welcome home Bu Anne, ini adalah huma.” Mbah Nun menitikberatkan pemilihan kata “huma” tersebut. Bahwa dia berbeda dari sekadar house atau rumah. Huma atau dalam bahasa Inggris home adalah sesuatu yang lebih batin. Maiyah adalah huma bagi semua. Dan Bu Anne sangat merasakan hal tersebut.

Bu Anne bercerita mengenai awal ketertarikannya pada musik, etnomusikologi dan spesifik pada musik Timur Tengah dan nada-nada bernafaskan Islami.

Bagaimanapun Bu Anne adalah seorang akademisi, dan salah satu tanggung jawab akademis, walau tidak harus, adalah menyebut sponsor penelitiannya ketika berbicara di hadapan sidang ilmiah. Ini berguna bagi para penyimak untuk bjsa membedah lebih dalam mengenai funding yang mendanai suatu penelitian atau riset. Walaupun ini sarasehan dan bukan sidang ilmiah, Bu Anne tampak tidak ragu menyebut sponsor risetnya untuk kembali ke Indonesia pada tahun 1999 setelah sebelumnya sempat juga pada tahun 1996.

Pada kunjungannya yang kedua inilah, menurut cerita beliau, Bu Anne berkesempatan bertemu dengan Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Nama KiaiKanjeng sudah tidak asing karena sering Bu Anne dengar semasa kunjungan awalnya pra 99. Bu Anne sangat detail mengingat kronologi pertemuannya dengan Mbah Nun dan kemudian diajak untuk ikut tour. Tampaknya pengalaman bersama KiaiKanjeng sangat berkesan bagi Bu Anne bahkan beliau berkata, “Honestly, it changed my life”.

Mbah Nun kemudian meminta Bu Anne untuk nenerangkan juga mengenai fenomena Qori`ah yang beliau pelajari di negeri ini. Bu Anne sangat lekat meneliti dan memperhatikan fenomena qori`ah karena bagi Bu Anne ini sangat khas masyarakat Nusantara. “Ada (fenomena) kesetaraan gender,” menurut Bu Anne. Adalah mengagumkan bagi Bu Anne bagaimana pembacaan kitab suci dan adzan diperlombakan dan lebih mengejutkan bagi beliau adalah bagaimana para qori`ah atau pelantun Al-Qur`an perempuan mendapat kesempatan yang sama. Ini tidak terjadi menurutnya di negeri lain, di mana perempuan masih dianggap manusia kelas dua yang lebih rendah dari laki-laki.

Fenomena perlombaan MTQ nasional, awalnya bersifat sangat politis. Kebijakan Orba yang selalu dengan dalih “ketertiban nasional” namun dia berkembang menjadi sangat kultural. Mbah Nun kemudian memberi kita pengingat bahwa ketika kita hidup di alam yang lebih tinggi dari sekadar materi, maka kelelakian dan keperempuanan sudah tidak ada lagi. Sudah sejak lama kita paham bahwa ini jugalah mengapa tidak ada pemisah laki-laki dan perempuan dalam setiap majelis Maiyah. Mbah Nun tekankan bahwa, “Dalan seni pembacaan Al-Qur`an tidak ada perbedaan estetika laki-laki dan perempuan”.

Sore menjelang senja dan adzan berkumandang. Ketika itu Bu Anne sedang diajak untuk menjajal beberapa kemungkinan nada bersama Pak Blothong. Mbah Nun melantunkan shalawat. Dan seluruh hadirin ikut bershalawat. Indah sekali peristiwa ini. Shalawat yang melantun sangat meresap. Mbah Nun tegaskan bahwa mau ada negara atau tidak, mau ada presiden atau tidak, dan siapapun saja tidak boleh ada yang boleh mengusik keindahan dalam hati kita. Sebab inilah puncak dalam agama, keindahan yang mempersatukan hati manusia.

Buku Cak Nun