Mendalami Fadlilah dan Otentisitas Diri: Menuju Cerdas Dunia Cerdas Akhirat

Foto: Adin (Dok. Progress).

Sebagai pengantar sinau kita malam ini, tulisan ini tidak bertujuan memberikan penjelasan mengenai tema yang diangkat tetapi mengajukan persoalan-persoalan yang mungkin terkait dengan materi pembahasan. Pertanyaan mengenai apa sebenarnya fadlillah? Yang dimaksud otentik itu bagaimana? Dan perbedaan di antara keduanya apa? Biar dijawab sendiri oleh jamaah dengan metode dan ilmu pengetahuan yang dikais dan ditumbuhkembangkan selama ini.

Kami ingin berangkat dari term “diri”. Setiap hari, jamak istilah diri berseliweran bahkan tidak jarang kita menggunakannya untuk perkara-perkara tertentu. Kalau seorang ilmuwan mengatakan ”kita ini sedang kehilangan jati diri bangsa”, kalimat tersebut lebih banyak mendatangkan kebingungan. Kandungan maknanya mungkin hanya dirinya sendiri yang tahu sedangkan kita hanya bengong kalau tidak menganggapnya omong kosong. Oh, mugkin itu persoalan yang lingkup skalanya luas sehingga dibutuhkan tingkat kecerdasan tertentu untuk memahaminya.

Dalam masyarakat Jawa (ini sekadar contoh saja) terminologi diri memiliki padanan kata awak atau ingsung. Jika kita cukup rajin baca-baca atau mendengar petuah dari orang tua, istilah awak lebih berkonotasi pada keseluruhan sikap badaniah yang bisa terekspresikan. Sedangkan ingsung itu maknanya lebih dalam yang mencakup dimensi rohaniah manusia atau sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Proses dinamis di antara kedua elemen tersebut lah yang kemudan membangun karakter, sifat, sikap serta watak seseorang.

Persoalan lain yang berkaitan adalah identitas. Identitas merupakan ciri khas manusia ketika ia mengarungi kehidupan di dunia. Mengapa setiap anak manusia harus memiliki nama misalnya Agus, Bambang, Joko (gak pake wi) dan Bowo (tanpa prefix pra) dsb? Jawaban gampangnya biar mudah dikenali. Dengan kata lain sesuatu yang tak bernama, maka ia susah untuk dimengerti.

Jika ditelusuri lebih lanjut, ternyata nama juga menciptakan ingatan-ingatan dan apabila telah terstruktur jadilah pengetahuan. Karena manusia hidup dalam sunatullah dan sifat dasar manusia adalah lupa, maka ia diberi bekal akal dan hati nurani. Sesungguhnya apapun tafsir tentang hadits man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu menuntut kita untuk lebih jeli memperhatikan setiap aspek kehidupan terutama diri sendiri.

Penting untuk dimengerti bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini saling berkaitan satu sama lain. Peristiwa politik, ekonomi, sosial, agama dan budaya adalah satu tarikan nafas kehidupan. Nah menariknya dalam setiap diri itu terdapat dua momen sekaligus yaitu hidup dan menghidupi. Diri yang hidup artinya ia menjadi otentik sedangkan diri yang menghidupi bermakna fadlilah.

Terakhir, pembukaan singkat ini mengajak jamaah Maiyah Mocopat Syafaat untuk mengelaborasi sendiri kata kunci tema malam ini yakni otentik, fadlilah dan cerdas dengan persoalan realita kehidupan. Misalkan: Apa saja hal di sekitar kita yang menghambat proses otentik sebagai manusia? Dan mengapa hal-hal tersebut bisa beroperasi? Apa hubungan fadlilah dengan keahlian, pekerjaan dan karya? Bagaimana posisi fadlilah dalam tatanan struktur masyarakat? dan seterusnya.

Yogyakarta, 16 Juli 2019

Buku dan Merchandise