Mencari Hakikinya Sinau Bareng

Saya tidak bosan-bosan merenungi makna Sinau Bareng yang selama ini dijalankan di majelis-majelis ilmu Maiyah. Pada frasa Sinau Bareng itu pertanyaannya adalah mengapa kita memilih nama pola atau cara yang disebut Sinau Bareng. Di balik itu ada paradigma. Tidak mungkin orang yang menganut paham “belajar dari ekspert” akan menggunakan frasa Sinau Bareng.

Sinau Bareng terdiri atas dua kata. Sinau dan Bareng. Dua-duanya dipinjam dari bahasa Jawa. Sinau itu kompletnya adalah pasinaon. Artinya pembelajaran. Kalau kita mau bicara dasar yang kita pakai, kita ingat bahwa ayat pertama Al-Qur`an adalah iqra`. Perintah iqra` ini mengisyaratkan tentang manusia disuruh belajar. Iqra` atau membaca adalah salah satu dari cara belajar. Iqra` bukan memerintahkan untuk mengajar, tetapi belajar.

Maka sebenarnya, kalau kita pakai dalam istilah kekinian, selain berarti membaca, iqra` haruslah berarti meneliti, research, mengamati, dlsb-nya. Kalau Ki Hadjar Dewantara dalam saran pendidikannya menyebut: ngematke, nirukke, lan nambahi. Nambahi bisa berarti inovasi. Bisa juga transformasi menuju pengetahuan baru.

Nah, saya kira Sinau Bareng itu terkait dengan apa yang menjadi keyakinan Maiyah, yaitu bareng (kebersamaan). Dalam bahasa Jawa pas sekali disebut bebrayan. Di situ, kita mencoba mengupayakan bahwa sejak membangun pengetahuan pun kita sudah bersama. Itu cirinya.

Maka, jelas dan terang bahwa struktur belajarnya bukan orang diberi pengetahuan atau ditransfer pengetahuan, tetapi yang utama bagaimana orang memperoleh cara belajarnya, cara sinaunya, metodologinya. Metodologi yang saya maksud di sini bukan sekadar metode, tapi meliputi tiga hal: cara pandang ditambah metode ditambah media.

Media pun bisa bermacam-macam. Bisa bahan bacaan. Audiovisual. Kasus. Apa saja yang kaitannya dengan kehidupan. Pada hal-hal yang dialami oleh manusia. Maka kita mengenal banyak ungkapan tentang belajar. Belajar dari pengalaman. Belajar dari peristiwa. Belajar dari kehidupan, dengan segala hal yang dialami di kehidupan. Bukan hanya peristiwa pikiran, tapi juga peristiwa batin. Artinya, spirit itu juga bahan belajar. Tentu saja spirit yang dianut oleh majelis ilmu Maiyah bukanlah hapalan. Itu penting, tapi yang lebih utama teks justru diposisikan sebagai penguat dalam seluruh proses belajar, atau proses yang didiskusikan.

Dalam hal ini, saya memandang kita secara metode tidak menempatkan Al-Qur`an dan Hadits di depan. Saya tadi menyebut iqra`, dan itu saya lakukan sesudah kita bergumul tentang mengapa kita memilih Sinau Bareng. Saat itulah kita membuka Al-Qur`an. Di situ, seperti diteliti oleh Cak Fuad, ada 126 kata ma’a (kata dasar Maiyah) disebut. Dalam pemahaman saya, jumlah angka itu menunjukkan betapa penting kebersamaan. Dari iktikad kebersamaan itulah sesungguhnya yang dilakukan di Maiyah adalah selalu mengolah pikiran dan juga rasa. Itulah sebabnya Cak Nun cenderung enggan disebut ustadz, kyai, atau ekspert. Karena pada sebutan-sebutan tadi ada bayang-bayang otoritas, yang bisa kurang menguntungkan proses Sinau Bareng yang kita pilih ini.

Toto Rahardjo
Yogyakarta, 13 Agustus 2019

Buku Cak Nun