Merombak Pemahaman Wa laa tansa nashiibaka minad-dunyaa

Majelis Ilmu Mocopat Syafaat, Yogyakarta, 17 Oktober 2019

Rangkaian Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam seminggu terakhir sangat padat. Mulai dari Padhangmbulan di Menturo (13/10), kemudian di Gresik (14/10), berlanjut ke Bojonegoro (15/10), Jepara (16/10). Dan setelah Mocopat Syafaat (17/10), Cak Nun dan KiaiKanjeng sudah ditunggu masyarkaat di desa Toroh, Grobogan (18/10).

Jika Padhangmbulan baru saja mensyukuri perjalanan ke-26 tahun, Mocopat Syafaat adalah majelis ilmu yang memasuki tahun ke-20 pada 2019 ini. Gambang Syafaat juga akan mensyukuri perjalanannya ke-20 di bulan Desember nanti. Sementara Kenduri Cinta di Jakarta, sudah 19 tahun usianya. Dan Bangbang Wetan di Surabaya bulan lalu baru saja menandai perjalanan mereka yang ke-13 tahun. Selain 5 simpul Maiyah induk itu, tersebar titik-titik simpul Maiyah yang terus berproses dengan otentisitasnya masing-masing di berbagai daerah.

Setiap tanggal 17 di bulan Masehi, pada malam harinya terselenggara Mocopat Syafaat di TKIT Alhamdulillah, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Spirit utama dari setiap majelis ilmu yang dirintis oleh Cak Nun adalah forum Sinau Bareng. Setiap orang datang ke forum ini untuk belajar bersama, ilmu apa saja, dari siapa saja. Masing-masing berdaulat dan bertanggung jawab atas ilmu yang diserap.

Seperti biasanya, mengawali forum Mocopat Syafaat, Mas Ramli mengajak jamaah untuk nderes Al Qur`an. Malam itu, Surah Hud dipilih oleh Mas Ramli untuk dibaca bersama-sama, setelah sebelumnya membaca Al Fatihah yang ditujukan untuk Marja’ Maiyah beserta keluarga, KiaiKanjeng, dan seluruh keluarga besar Maiyah agar selalu dilimpahi rahmat dari Allah Swt.

Panggung Maiyah di setiap simpul Maiyah dan juga sinau bareng adalah panggung bagi semua orang. Seperti malam itu di Mocopat Syafaat, kelompok musik Karinding yang dengan kreativitasnya memainkan alat-alat musik yang dibuat dari bahan bambu. Di Maiyah, keseniaan apa saja akan diterima. Sebelumnya, pernah Tari Topeng Losari juga tampil di Mocopat Syafaat. Kalau puisi, malah sudah menjadi salah satu menu utama di Mocopat Syafaat dengan penyair kesayangan yang sudah sangat kita kenal; Pak Mustofa W. Hasyim. Sang penyair rusak-rusakan.

Wirid Akhir Zaman

Setelah Jum’at lalu dilantunkan di Kenduri Cinta, kemudian juga di Padhangmbulan, dan juga di beberapa simpul Maiyah, malam itu di Mocopat Syafaat prosesi Wirid Akhir Zaman juga dilaksanakan. Bulan ini bisa dikatakan sebagai “pemanasan”, di setiap simpul Maiyah dilaksanakan workshop atau semacam latihan bagaimana wirid ini dilantunkan. Mulai bulan depan, sesuai dengan arahan Cak Nun, Wirid Akhir Zaman ini akan menjadi ritual pembuka di setiap Maiyahan di seluruh simpul Maiyah sebelum Maiyahan dilangsungkan.

Dalam rentang 6 bulan terakhir, Marja’ Maiyah begitu intens memberikan bekal kepada Jamaah Maiyah. Jika sebelumnya Cak Nun merilis Wirid Hifdhul ‘Arsy, bulan ini beliau merilis Wirid Akhir Zaman. Yang kemudian juga ditambah dengan beberapa Tajuk dari Syeikh Nursamad Kamba, Cak Fuad dan Pak Toto Rahardjo. Sebelumnya, Cak Nun juga merilis 4 Tajuk secara berurutan sebagai bekal sinau bareng di Simpul Maiyah sepanjang Juli-Oktober 2019 ini. Maka, sebenarnya sebagai jamaah Maiyah kita harus sangat bersyukur atas limpahan ilmu itu semua, tinggal selanjutnya bagaimana kemudian respons kita terhadap semua yang sudah diberikan oleh Allah Swt melalui wasilah Marja’ Maiyah kepada kita.

Satu poin utama yang bisa kita ambil dari bekal-bekal yang diberikan oleh Marja’ Maiyah kepada kita dalam beberapa bulan terakhir ini adalah; Meneguhkan Tauhid. Meskipun sebenarnya ini juga tema yang sudah sering dibahas di Maiyahan, tetapi dalam rentang 6 bulan terakhir, pesan meneguhkan tauhid ini benar-benar intens didengungkan di Maiyahan oleh Marja’ Maiyah.

Tentu saja, Maiyah perlu untuk memberi respons terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, tetapi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa apapun yang Maiyah lakukan untuk Indonesia bukan dalam rangka menunaikan kewajiban, melainkan hanya berupa sedekah. Dan yang lebih penting lagi, semua itu ditujukan untuk keluarga internal Jamaah Maiyah sendiri. Sejalan dengan apa yang difirmankan oleh Allah; Quu anfusakum wa ahliikum naaro.

Sebisa mungkin, yang kita upayakan bersama adalah penjagaan dari masing-masing diri kita dan keluarga kita sendiri. Wirid Akhir Zaman yang disusun oleh Cak Nun untuk kita ritualkan, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri ini juga merupakan salah satu upaya dalam rangka Meneguhkan Tauhid itu tadi. Dan jika kita tarik benang merah, mulai dari Wirid Akhir Zaman, Tajuk yang dirilis oleh Marja’ Maiyah hingga tema di Kenduri Cinta (Negara Ta’lih) dan Padhangmbulan (Dholuman Jahula), memiliki kaitan yang sangat erat satu dengan lainnya. Sudah terlalu banyak perilaku orang menuhankan sesuatu yang tidak layak untuk dituhankan, menyembah sesuatu yang tidak sepantasnya dijadikan sesembahan. Semakin jelas bahwa musyrik itu sebenarnya tidak terletak pada benda, melainkan pada cara berpikir kita sendiri yang menentukan apakah perilaku kita musyrik atau tidak.

Teman-teman dari Nahdlatul Muhammdiyin dan RMS pun menggelar diskusi singkat agar kita tidak mudah terjebak pada fenomena keriuhan media sosial akhir-akhir ini. Setidaknya, melaui Tajuk yang dirilis oleh Marja’ Maiyah, pijakan kita terhadap sebuah informasi pun tidak goyah, masing-masing individu memiliki filternya sendiri untuk menyaring setiap informasi, sehingga tidak mudah terjerumus pada informasi yang tidak valid, hoax, viral dan lain sebagainya. Justru, kita smeua berharap bahwa Orang Maiyah mampu menjadi inspirator kebaikan bagi masyarakat luas.

Bukan Membuang, tetapi Meletakkan

Menjelang pukul 23.00 WIB, Mas Islamiyanto, Mas Imam Fatawi, Mbak Nia dan Mbak Yuli mengajak jamaah bersama-sama melantunkan Al Fatihah, kemudian mendoakan kesehatan Cak Nun beserta seluruh keluarga besar. Diiringi KiaiKanjeng, beberapa sholawat dilantunkan bersama-sama, menyambut kedatangan Cak Nun bersama beberapa tamu naik ke panggung. Malam itu, Cak Nun mengajak Mas Eko Tunas, Mas Eko Winardi, Pakde Herman, Kyai Muzammil dan tentunya The One and Only; Pak Mustofa W. Hasyim.

Cak Nun menyapa jamaah, mengucapkan salam. “Karena salamku sudah mengalir dalam darahku, tidak mungkin tidak sampai pada aliran darahmu juga”, Cak Nun menyapa jamaah yang tentu saja sudah rindu bertemu dengan Cak Nun, yang dalam beberapa bulan terakhir begitu padat jadwalnya, dan bulan lalu juga Cak Nun tidak hadir di Mocopat Syafaat, tentu menjadi sebuah kebahagiaan dengan hadirnya Cak Nun di Mocopat Syafaat edisi Oktober ini.

Cak Nun melambari diskusi utama malam itu, menurut beliau, Maiyah sekarang sudah mulai memperlihatkan perkembangannya, bukan hanya sekadar banyaknya jumlah massa yang datang ke Maiyahan, tetapi juga secara perlahan ilmu-ilmu yang tersarikan dari setiap kita Sinau Bareng sudah diserap dan juga diaplikasikan oleh jamaah Maiyah. Ibarat buah, maka ini sudah terlihat pentil-nya.

Menyikapi fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, Cak Nun menyebut bahwa apapun peringatan yang kita sampaikan kepada mereka yang sedang membuat kerusakan, tidak akan pernah didengar dan tidak akan dipercaya. Karena yang mereka dengar hanyalah nafsu mereka sendiri. Kita semua berdoa bahwa Maiyah ini adalah tanaman baru yang disiapkan oleh Allah untuk masa depan yang lebih baik lagi. Cak Nun menyampaikan bahwa tugas beliau hanya menanam kemudian menyirami tanaman itu, persoalan akan tumbuh dan berbuah atau tidak, sepenuhnya kita serahkan kepada Allah.

Ditekankan kembali oleh Cak Nun, bahwa setiap orang yang datang ke Maiyah itu diajak sinau bareng, diajak mikir, diajak untuk mencari kesejatian yang benar-benar sejati. Oleh karenanya, jika kita merasakan nuansa dan atmosfer kegembiraan, kebahagiaan, kebersamaan, rasa nyaman dan aman satu sama lain, itu bukan karena peran dari kita saja, tetapi kita harus meyakini bahwa Allah yang sangat berperan untuk membikin Maiyah dan membikin kita betah untuk selalu Sinau Bareng di Maiyah.

Lebih jauh lagi, Cak Nun mengingatkan bahwa kita di Maiyah melalui konsep Sinau Bareng, kita harus telaten untuk ngonceki, untuk memproses kembali setiap informasi yang sampai kepada kita. Tidak ada barang jadi di Maiyah, setiap khasanah ilmu di Maiyah harus kita olah lagi, harus kita ijtihadi kembali. Maka setiap kita harus memiliki kemampuan untuk nandur, ngracik, ngonceki, lan nggawe opo wae, begitu pesan Cak Nun malam itu.

Cak Nun kemudian menjelaskan, bahwa salah satu fungsi dari Wirid Akhir Zaman adalah dalam rangka kita memohon kepada Allah agar menghentikan mereka yang sedang main-main dengan penghidupan, mereka yang masih main-main dengan hajat hidup orang banyak, mereka yang berkuasa semena-mena yang berlandaskan hawa nafsunya. “Ojo mbentoyong karo ndunyo, asline ndunyo yo mung ngono-ngono wae,” ungkap Cak Nun.

Pada Wirid Akhir Zaman itu, Cak Nun memilah ayat-ayat yang memang familiar bagi jamaah Maiyah, agar memudahkan kita semua untuk menghapal ayat-ayat tersebut. Maka sebisa mungkin kita semua sebagai jamaah Maiyah bisa menghapalkan ayat-ayat tersebut kemudian diwiridkan sesuai dengan hitungan dan tata cara yang sudah diberikan oleh Cak Nun. Maka sebenarnya begitu mudah kita di Maiyah untuk melakukan riyadhloh tambahan selain ibadah yang sudah biasa kita lakukan. Cak Nun telah memberikan kita bekal dengan lengkap dan sudah jadi. Tata cara dan urutannya bahkan diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan kita untuk melaksanakannya. Tinggal bagaimana kita mau melaksanakannya atau tidak.

Buku dan Merchandise