Memetik Makna Rimbun Semedi Cinta

So never mind the darkness
We still can find a way
‘cause nothin’ lasts forever
Even cold november rain

November Rain

Tulisan ini adalah catatan saya dalam turut serta memetik buah-buah ilmu dari Majelis Ilmu yang hampir sebulan lalu berlangsungnya yaitu Sinau Bareng Mbah Nun dan Syeikh Nursamad Kamba di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2 November 2019.

Jika Anda penggemar Guns N’ Roses mungkin lagu November Rain sangat mewakili suasana ‘rimbun semedi cinta’ di bulan November kali ini. Kami di tanah Parahyangan memang sudah lama menanti hujan. Sebab, beberapa bulan kemarau menemani, dan tentu saja musim hujan adalah tamu yang harus disambut dengan penuh syukur.

Udara dingin Bandung tidak melunturkan semangat bermaiyah. Malahan, makin malam makin seru. Yang datang pun tidak dari hanya dari kalangan mahasiswa UIN Bandung saja, tetapi dari Garut, Tasikmalaya, dan daerah-daerah lainnya. Baik pelajar maupun masyarakat umum ikut menikmati suasana bermaiyah yang sudah (alhamdulillah) 4 tahun berturut-turut terlaksana di UIN Bandung.

Ada aspek penting yang perlu digarisbawahi, seperti yang disampaikan Syeikh Kamba, bahwa semua orang merasa menjadi tuan rumah ketika bermaiyah. Semua orang merasa memiliki dan merindu untuk kembali merasakan suasana Maiyah. Karena, Maiyah memang bukan pengajian skolastik. Bahan-bahannya diperoleh dari alam semesta. Pena dan bukunya menuliskan segala kebijaksanaan yang tidak terganggu oleh cita-cita dan kepentingan temporer.

Cinta, bagaimanapun, selalu asik diperbincangkan dan pastinya selalu indah untuk dirasakan. Barangkali ini yang secara singkat dapat menjawab pertanyaan mengapa ‘cinta’ telah dua kali dipilih oleh panitia, yang notabenenya anak muda ini, sebagai tema pokoknya. Tampaknya, terdapat perbedaan antara (pemahaman mengenai) ‘cinta’ dan ‘ikatan’.

Ikatan seringkali menimbulkan kerugian bagi sipencinta dan objeknya. Sehingga ikatan itu sesungguhnya tidak membangun compatibility. Menurut Syekh Kamba, cinta adalah suasana yang sedemikian jauh telah dirasakan. Maka seseorang yang merasakannya tidak akan menggeneralisasikan pengalaman cintanya dengan pengalaman badani. Tentu saja ‘rasa’ memang sulit dijelaskan. Harus dialami.

“Rimbun semedi cinta adalah disertasi besar yang tidak akan selesai dibahas.” Kalimat ini mengawali perbincangan yang disampaikan Mbah Nun. Ini berarti pembahasan mengenai tema ini perlu dibawa pulang atau apa yang disebut oleh syekh Kamba sebagai ‘harus mengalami transformasi’.

Mbah Nun kemudian melanjutkannya dengan penjelasan kata per kata agar jamaah tentunya memiliki titik pijak ‘rimbun semedi cinta’. Rimbun secara harfiah berarti berdaun atau bercabang banyak, dan secara umum mengarah ke perkebunan. Istilah yang lebih akrab dengan Maiyah di sini adalah Jannatul Maiyah.

Adapun kata ‘semedi’ sendiri bermakna peristiwa masuknya seseorang ke dalam dirinya sendiri. Apabila kita melihat semua akses dan media saat ini, kita melihat adanya peluang besar bagi manusia untuk mematangkan eksistensinya. Sementara dalam rangka melihat jauh ke dalam diri sendiri, tampaknya belum ada metode yang kita seriusi.

Maiyah sebenarnya juga tidak menawarkan metode apapun dan juga tidak mengajarkan tarekat tertentu. Kita hanya ditemani untuk menemukan kedaulatan dan jalan kita sendiri. Sebab belum ada manusia yang selesai. Kita semua sedang berjalan, dan berusaha mengakrabkan diri pada Kekasih. Mbah Nun mengatakan bahwa Islam memperkenalkan segala sesuatu sebagai jalan, bukan tujuan. Beliau berpesan bahwa siapapun harus berdaulat atas dirinya dan menemukan jalannya sendiri.

Buku Cak Nun Majalah Sabana