Memegang Prinsip Atarètan di Tengah Ketidakpastian Zaman

Catatan Majelis Maiyah Damarate Madura, 23 Februari 2019

Maiyahan yang ke-6 Damar Ate Madura baru saja digelar (23/2/19) di Rumah Besar Suporter dengan tema: Ataretan. Tema yang sangat sesuai untuk digali kembali mengingat situasi dan kondisi saat ini yang begitu mencemaskan; kebocoran demi kebocoran rasa persaudaraan antar manusia yang lubangnya semakin menganga.

Sekitar jam 19.30 taretan Damar Ate mulai berdatangan untuk saling berbagi kemesraan, pengetahuan, pengalaman tentang persaudaraan itu sendiri. Malam itu cuaca begitu cerah. Di langit timur, di sela-sela pohon pepaya cahaya bulan menyala. Pada Sekitar pukul 20.30 acara Maiyahan baru saja dimulai. Sebagaimana biasa, tawassulan dan sholawat qiyam-lah yang menjadi pintu utama untuk memasuki acara selanjutnya. Kali ini Maniro AF mendapat giliran untuk bertugas sebagai moderator memimpin jalannya Sinau Bareng dengan tema: Ataretan.

Dalam memimpin jalannya acara Sinau Bareng, moderator membuka wacana dengan menggambarkan pepatah orang Madura yang sangat terkenal: “Perreng gala, gala perreng. Oreng bala, bala oreng” (artinya: manusia itu saudara dan saudara itu manusia). Pada konteks ini para leluhur Madura memang mengharapkan anak-cucunya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam menjalin persaudaraan antar sesama, hingga di masa silam mereka melahirkan pepatah yang sedemikian luhur, arif dan bijaksana untuk tertanam di dalam hati dan perilaku anak-cucunya di masa-masa yang akan datang. Dengan pengantar tersebut, mulai terlihat ke mana akhirnya Sinau Bareng akan bergulir. Tetapi sebelum itu, moderator memberikan kesempatan kepada sekelompok pemusik untuk menyegarkan hati dan pikiran para jamaah. Lagu pun dinyanyikan untuk memantik energi kerinduan kepada Allah dan Rasul-Nya, untuk saling bermesraan dalam kebersamaan yang berkah. Kepulan asap rokok hablur di dalam angin yang membawanya, rasa kopi semakin nikmat untuk diseduh berkali-kali. Sementara lagu tetap mengalun memberi salam kepada setiap yang ada.

Setelah lagu selesai, Ssinau Bareng dilanjutkan. Di Maiyahan kali ini para penggiat Damar Ate menghadirkan pemantik diskusi seorang tokoh penggiat bahasa Madura, Lukman Hakim Ag. Selain penyair yang suka menulis puisi bahasa daerah, profesinya juga sebagai wartawan Jawa Pos Radar Madura. Apa yang disampaikan kang Lukman Hakim Ag, terkait dengan pembahasan: Ataretan? Kang Lukman mulai membuka pembahasan dengan memaparkan susunan silsilah di dalam keluarga, baik menurut istilah tata bahasa Madura maupun makna dari urutan-urutan silsilah tersebut yang akhir-akhir ini mulai semakin kabur dan cenderung bergeser tata-letak serta fungsinya.

Katanya, banyak orang sekarang sudah tak mengindahkan silsilah dalam keluarga. Yang kemudian terjadi yaitu lebih menitikberatkan pada angka usia. Misalnya, menurut urutan silsilah nasab dalam keluarga, si ‘A’ seharusnya memanggil paman kepada si ‘B’. Tetapi karena mereka tidak paham urutan silsilah mereka berdua dan si ‘B’ usianya lebih muda dari si ‘A’ maka si ‘B’ dipanggil adik oleh si ‘A’. Ini kemudian menjadi salah kaprah.

Aspek silsilah menjadi penting sekarang untuk dipelajari kembali. Karena tak bisa kita pungkiri, di zaman ini hubungan persaudaraan sangat rentan. Ironisnya antar sepupu, apalagi dua pupu akhir-akhir ini mulai tak berfungsi. Bahkan, sangat renggang dan berjauhan. Apa yang akan terjadi jika kita sudah tak peduli pada posisi silsilah dalam keluarga? Maka bisa terjadi atau bahkan malah sudah terjadi, ada seseorang paman atau bibi yang akhirnya kawin dengan keponakannya sendiri. Na’udzubillah.

Selain dari segi silsilah, beliau juga menuturkan, di tengah-tengah kondisi zaman yang semakin tak pasti, kita mestinya tetap berjuang untuk bersaudara dengan siapa saja. Paling tidak kita bisa memulai dengan diri kita sendiri. Jangan sampai terhasut dengan provokasi-provokasi yang memang sengaja mengadu domba hingga sesama saudara saling hujat, sesama kawan saling melempar kotoran. Dengan begitu, dengan memegang prinsip Ataretan, maka segala pluralitas dalam kehidupan ini akan menjadi indah dan bermakna.

Menjelang 25 menit acara sinau bareng berlangsung. Tiba-tiba kang Mazdon, seorang penyair, pemerhati bahasa Madura dan penggiat Maiyah Damar Ate hadir di tengah-tengah Jamaah Maiyah yang lain. Melihat itu, Maniro selaku moderator langsung mempersilahkan kang Mazdon untuk ikut duduk di depan bersama kang Lukman Hakim. Jalannya diskusi semakin menarik dengan bertambahnya banyak pandangan dalam majlis ilmu ini.

Kang Mazdon memulai dengan membahas “Nur Muhammad” yang terdapat di dalam setiap diri manusia. Katanya, jika seseorang mencaci maki seseorang yang lain sama halnya mencaci Nabi Muhammad. Dan ketika mencaci Nabi Muhammad, sama halnya mencaci Allah Sang Pencipta. Dan sesungguhnya Nur Muhammad itu tidak hanya terdapat dalam diri manusia, tetapi juga pada semua mahluk di alam semesta. Sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi: “Jika bukan karena engkau (Muhammad) tidak akan Kuciptakan alam semesta ini”. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” Pada konteks akhlak maka persaudaraan menjadi penting untuk terus diperjuangkan sebagaimana perjuangan Rasulullah di masa jahiliah selalu mendamaikan beberapa kelompok yang bersitegang. Contohnya seperti peristiwa peletakan hajar aswad pada ka’bah.

Jalannya diskusi semakin hangat dan mendalam. Untuk sejenak moderator mencari poin-poin penting yang sudah disampaikan oleh dua pemantik. Tetapi agar suasana tetap seimbang, lagi-lagi moderator memberi kesempatan mas Agus Salim Faradilla, mas Fajar Hidayat dan mas Anas Arifin memainkan alat musik dan bersenandung. Tembang-tembang dengan bahasa daerah menggema, mengalun merdu mencairkan suasana. Lalu setelah suasana kembali segar dengan alunan lagu-lagu, moderator mempersilahkan jamaah untuk menanggapi, bahkan mempertanyakan wacana demi wacana yang sudah disampaikan. Tiba-tiba seorang lelaki gondrong mengacungkan jari telunjuknya. Dengan mengucap salam dia mulai bertanya, “Di manakah letak atau posisi Nur Muhammad dalam diri manusia itu?”

Untuk pertanyaan yang cukup dalam ini. Kang Yosuki, Seorang penggiat Damar Ate, juga ikut nimbrung memberikan jawaban pada pertanyaan tersebut. Ia berpandangan bahwa pada hakikatnya Nur Muhammad itu tidak bertempat, Sebab Allah ketika menciptakan Nur Muhammad, segala ruang-waktu masih belum tercipta. Jadi nur Muhammad itu tidak berbentuk materi. Tetapi ia menjadi sebab pertama sebelum segala sesuatu ada, termasuk langit dan bumi, termasuk kita semua. “Kan begini, kalau kau misuh-misuh pada temanmu atau saudaramu dan mendholimi, itu sama halnya kamu tak menghargai Nur Muhammad yang terdapat di dalam dirimu. Manusia itu kan bukan hanya ‘jism’ (jasmani), tetapi dalam jism juga terdapat ruh. Untuk lebih jelasnya kita bahas nanti saja di luar forum ini.” Katanya menutup pembicaraan sembari tertawa berkelakar, suasana seketika menjadi hingar.

Selain pertanyaan dari “jamaah gondrong” itu, lalu ada lagi jamaah yang bertanya, mencari solusi terhadap rasa takut dan cemas yang menimpa dirinya. “Saya kadang takut berteman dengan seseorang atau dekat dengan seseorang. Dalam ketakutan itu, pikiran saya merasa cemas dan waswas, bagaimana jika akhirnya teman yang kita kenal dan akrabi itu justru membahayakan atau memberi kemudharatan kepada saya?” tanyanya. Kang Ali Mantaka yang juga salah satu penggiat Damar Ate ikut nimbrung dan memberikan penawaran solusi. Katanya, semua harus dikembalikan kepada niat. Jika niat kita berteman dengan siapapun karena Allah, insyaAllah kita akan terlindungi dari bisikan-bisikan setan yang terkutuk.

Selain jawaban dari kang Ali, kang Agus Salim Faradilla juga menimpali dan menawarkan solusi, “Rasa was-was dalam diri manusia sangat wajar. Persoalannya ada di dalam prasangka diri kita masing-masing. Kadang kita menilai orang lain dari sisi kulit saja, sementara baik-buruknya hati seseorang kita tak pernah tahu. Apa yang kita sangkakan kepada teman kita si ‘A’ misalnya, itu prasangka buruk, padahat ternyata dalam kenyataannya tidak demikian. Itu berarti yang mesti kita waspadai adalah prasangka negatif kepada orang lain. Kita terus belajar husnudhdhon kepada siapapun, bahkan kepada seseorang yang oleh masyarakatnya sudah dinilai orang yang paling buruk. Bukankah sebaik-baiknya orang pasti ada jeleknya, juga sebaliknya, bukankah sejelek-jeleknya orang pasti ada baiknya. Selain itu kita harus memiliki sikap saling mengalah.”

“Dalam tema Ataretan ini yang menjadi dasar dan tujuan adalah harmonisasi. Dalam konteks harmoni saya menjumpai amsalnya di dalam bermain musik. Coba bayangkan, bagaimana jika di antara para pemain musik saling ngotot dan egois. Misalnya, penyanyi dan pemain musiknya tak bertemu, tak saling mengalah dan menghargai, maka yang terjadi adalah kesumbangan-kesumbangan dalam rangkaian nada dan iramanya. Jadi, kalau menurut saya, lebih baik memelihara husnudhdhon dari pada su`udhon,” lanjut kang Agus  mengakhiri pendapat. Sembari setelah itu, dia mengambil gitarnya dan menyanyikan lagu aransmen dari sebuah sajak “Rahasia Ampas Kopi” yang ditulis Almarhum K. Muhammad Zamiel El Muttaqien, guru kami semua, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep yang baru wafat seminggu sebelumnya (lahu al fatihah).

Waktu tak terasa sudah cukup larut, jam menunjukkan angka 23.50 WIB. Moderator menanggapi pembahasan demi pembahasan yang sudah disampaikan oleh sebagian jamaah Maiyah Damar Ate. Karena waktu selalu menjadi batas kita, maka sebelum acara Sinau Bareng diakhiri, Maniro meminta kang Lukman Hakim Ag dan kang Mazdon untuk membacakan puisi. Maka sejurus kemudian kang Mazdon membaca sajak bahasa Madura tentang pentingnya persaudaraan, sementara kang Lukman membaca sajak untuk Syaikhona Kiai Khalil Bangkalan. Selesainya kedua pemantik membacakan sajak-sajaknya, moderator akhirnya juga membaca sajak dalam syair lagu Madura yang berjudul: ‘Sandorennang’.

Kejungnga sandorennang sandorenta
du maelanga kasona bannya’ lako

ha’ sandorennang
jhung rojhung ngorot bhako
e, e, e, ollena alako berra’ apello koneng

ha’ sandorennang
jhung rojhung gulung bhako
e, e, e, angka’e poka’ sacangker bugghul sapereng
kejhungnga sandorennang sandorentem
du maelanga kasona bannya’ lako

ha’ sandorennang
sennenga ate bule
e, e, e, tebbasa reng bannya’ bhala bannya’ tatanggha

Seusai Sandorennang, saatnya untuk berdoa. Kali ini kang Mazdon diminta membacakan doa. Setelah syukur dan sholawat, doa-doa baik ia mohonkan pada Tuhan, dan kami semua sebagai jamaah mengamini dengan penuh khidmat.

Akhirnya, tak ada kesimpulan dalam belajar bersama. Segala pengetahuan yang mulai tadi saling berbagi, akhirnya pulang ke dalam diri jamaah masing-masing. Dan barangkali menjadi motivasi bagi kita semua untuk semakin bersemangat mempelajari ilmu Allah yang maha luas. Setelah usai doa dibacakan, syair “Shohibu Baiti” disenandungkan bersama-sama.

Asshalatu wassalaamu alaika ya khairi khalqillah. Kami benar-benar rindu dan mengemis syafaatmu. (Khalil Tirta)

Buku Cak Nun