Membangun Nusantara dari Anak Muda Maiyah

Tulisan ini merupakan hasil kontemplasi atas dua buah pemikiran Syaikh Kamba (Maiyah dan Jalan Peradaban Islam) dan Cak Fuad (Istiqamah Ber-Maiyah). Dengan memfokuskan pada anak muda sebagai subjek, tulisan ini bermaksud menelusuri tiga hal.

Pertama, mengapa mayoritas jemaah yang mengikuti kajian Maiyah adalah anak muda, khususnya studi kasus di kota-kota besar di bumi Nusantara. Kedua, bagaimana nilai-nilai keilmuan di Maiyah itu dimansifestasikan oleh anak muda melalui praksis kehidupan sehari-hari. Ketiga, internalisasi laku Maiyah bagi anak muda itu berdampak sistemik bagi kehidupan mereka secara mikro dan Nusantara secara makro.

Sebagai anak muda, saya mengamati betapa “ledakan” ber-Maiyah di kalangan anak muda sedemikian signifikan. Hal itu ditandai melalui jemaah, baik lewat persentuhan langsung maupun via YouTube, anak muda berbondong-bondong secara rutin mengikuti pengajian Cak Nun. Mereka ini sebagian besar mengikuti karena rasa penasaran, apalagi hasrat “haus” akan keilmuan, yang tak didapatkan di bangku kuliah atau sekolah.

Di bangku pendidikan formal, keilmuan diperoleh lewat sistem kredit semester (SKS) dengan paket kuliah wajib maupun pilihan. Paket itu berorientasi pada sebuah gelar akademik dan kehendak pragmatis: mendapatkan kesempatan kerja sesuai bidang keilmuannya. Hal tersebut makin mengakar di benak mereka setelah wacana kesempatan kerja ditentukan oleh capaian gelar akademik. Dengan kata lain, berkuliah dimaksudkan agar mendapat kerja sesuai kehendak.

Kondisi itu bukan persoalan salah dan benar. Kapitalisasi pendidikan dan industri telah bergandengan tangan. Anak muda yang berkuliah itu hidup dan tumbuh di dalam tempurung wacana demikian. Mereka dikondisikan sedemikian rupa, sehingga mustahil menolak karena pertimbangan industri, kewajiban orang tua, bahkan sukar keluar dari independensi atau kedaulatan diri.

Atas kondisi kuliah yang sumpek dan penuh tuntutan akademik itu mereka — sejauh pengamatan saya — kemudian didorong oleh antusiasme mencari. Akhirnya mereka tertarik ke Maiyah. Entah sebelumnya tertarik karena sekadar mengikuti teman atau memang mengikuti atas dasar “diperjalankan”. Yang terakhir ini biasanya secara tak sengaja membaca tulisan Cak Nun atau menemukan tautan pengajian Maiyah di kanal YouTube.

Beragam motif ber-Maiyah di kalangan anak muda akhirnya kepincut untuk terus datang secara rutin. Maiyah menawarkan oase keilmuan di luar arus utama pendidikan formal. Mereka mendapatkan kebaruan, baik pola diskusi, pendalaman tema, lingkungan pembelajaran, dan lain sebaiknya. Mereka, pendeknya, menemukan wilayah belajar baru yang secara substansial menjadi alternatif pengkajian ilmu di luar dinding universitas.

Kondisi inilah yang membuat anak muda di kalangan Maiyah menemukan jawaban atas pertanyaan privatnya sendiri. Kegelisahan yang semula mereka pendam biasanya sekadar dicari melalui studi literatur atau didialogkan bersama kerabat. Di Maiyah, mereka “tumbuh bersama” melalui interaksi kultural dan dialogis.

Mereka sedikit demi sedikit, bahkan, mempertanyakan ulang segala pemahaman yang sebelumnya terberi di kepalanya. Dengan laku kritis semacam itulah mereka sesungguhnya tumbuh menjadi pribadi yang independen dan tak sekonyong-konyong kagetan serta gumunan atas realitas di sekitarnya. 

Mereka mampu menjaga jarak terhadap karut-marut sosial, politik, budaya, dan lain sebagainya di Nusantara. Bila mereka telah mendapatkan pemahaman lebih komprehensif di Maiyah maka akan mampu menempatkan kesadaran posisi di tengah masyarakat.

Berbekal dasar ilmu Maiyah mengenai solusi Segitiga Cinta antara Allah, Kanjeng Nabi, dan manusia mereka tak begitu mencemaskan hari esok secara inferior. Mereka melibatkan tiga titik poin itu sebagai kesadaran individu untuk terus bergerak dan berdialektika dari dan melalui kehidupan.

Tiga titik tersebut memosisikan Allah sebagai faktor primer bersama Rasulullah dalam mengupayakan solusi atas pelbagai permasalahan. Manakala manusia, terlebih anak muda, memanifestasikan nilai itu ke dalam laku maka dengan sendirinya mereka mendapatkan ketenangan batin sekaligus kejernihan pikiran.

Kedewasaan Berpikir

Syaikh Kamba dalam tulisannya menegaskan kembali betapa kedewasaan berpikir dan bersikap muncul manakala ilmu pengetahuan konsisten disemai melalui pergumulan dialektis. Pada tataran individu kedewasaan ini maka akan terus bergerak dan berkembang ke level komunal.

Di Maiyah, keilmuan itu dikembangkan lewat percakapan dua arah antara Cak Nun dan jemaah, sehingga akhirnya ia dipraktikkan di dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah bisa diprediksi bagaimana ia mengembang ke skala nasional.

Gagasan agama sebagai akhlak, sebagaimana pernyataan Syaikh Kamba, ditegaskan sendiri oleh Tuhan sebagai “Sang Mutlak”. Lebih lanjut, dikatakan, “Tuhan hanya bisa direfleksikan dalam laku kebaikan dan cinta kasih. Menyatu dengan Tuhan adalah menyatu dengan kebaikan dan cinta kasih. Artinya seseorang yang merealisasikan tauhid akan menjadi personifikasi kebaikan dan cinta kasih; apapun yang dilakukan dan diperbuatnya semata-mata hanya kebaikan, semata-mata hanya cinta kasih.”

Dasar epistemologis pemahaman atas Tuhan dan praksis agama di sini inilah yang sedang dipraktikkan Maiyah di mana pun. Anak muda yang telah mencapai pemahaman demikian tentu saja memiliki sikap kebaikan dan cinta kasih di lingkungan sosialnya. Di samping itu, Syaih Kamba mengkristalkan jalan kenabian untuk peradaban tauhid yang telah difigurkan Kanjeng Nabi menjadi lima prinsip: (a) independensi, (b) penyucian jiwa, (c) kearifan dan kebijaksanaan, (d) amanah, kejujuran, dan tanggung jawab, dan (e) cinta kasih.

Keilma prinsip yang diwedarkan Syaikh Kamba di atas sedang terus-menerus diperjuangkan Maiyah. Menurutnya, “Maiyah hanya fokus kepada menanamkan, menyemai, dan menyuburkan prinsip-prinsip jalan kenabian sebagai jalan peradaban.” Kalimat ini, menurutnya, acap kali juga diejawantahkan Cak Nun selama hidupnya.

Dengan segala upaya sosialnya di Maiyah, secara implisit kelima prinsip tersebut juga disampaikan Cak Nun. Inilah tugas kaum muda, pada khususnya, untuk merenungi kelima prinsip dan kemudian diperjuangkan di dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun belum sepenuhnya menerapkan kelimanya, paling tidak satu poin dapat dipraksiskan—bahkan sekadar direfleksikan secara kontemplatif.

Setarikan napas dengan tulisan Syaikh Kamba, Cak Fuad menambahkan agar situasi-kondisi sosial di Nusantara dewasa ini perlu disikapi secara arif dan bijaksana. Ia menitikberatkan pada upaya konsisten untuk terus ber-Maiyah agar ketersambungan antarindividu terjaga.

Cak Fuad menyatakan, “Kegiatan ngaji bareng, majelis ilmu dan silaturahmi, gerakan penyadaran dan pengembangan sumberdaya manusia, penyiapan generasi penerus yang tangguh, terutama di lingkungan internal Ma’iyah harus terus digiatkan dalam berbagai bentuknya.” Cak Fuad menyebut posisi tersebut sebagai uzlah.

Bagaimana uzlah konsisten disemai di tiap simpul Maiyah adalah bentuk peneguhan diri atas kolektivitas jemaah Maiyah. Betapapun mereka, khususnya anak muda, memiliki aktivitas masing-masing, namun dengan “ikatan bersama” itulah mereka akan terus terjaga pada satu frekuensi yang sama. Ia juga serupa spirit untuk menjaga kebersamaan untuk saling menguatkan di tengah kondisi sosial-politik yang makin kacau di level nasional.

Adanya upaya untuk terus konsisten di jalan tauhid juga disinggung Cak Fuad. Tauhid memberi pegangan erat bagi diri agar senantiasa terikat oleh Tuhan, khususnya dipraksiskan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan rasa persaudaraan, solidaritas, dan komunalitas di antara jemaah Maiyah — terutama diupayakan anak muda — saya kira akan mempertebal “keteguhan iman” dan “istiqamah”. Dengan sendirinya ia akan berdampak bagi Nusantara secara luas.

Buku Cak Nun Majalah Sabana